Culture

#BersatuIndonesiaku, Melawan Terorisme Bersama Asosiasi Digital Indonesia

By  | 

Aksi bom bunuh diri yang mengguncang Surabaya beberapa hari lalu merupakan aksi terorisme yang semakin menunjukkan betapa rendahnya nilai kemanusiaan di mata para pelakunya. Tidak tanggung-tanggung, para pelaku membawa serta seluruh keluarga dalam aksinya. Bahkan, di antaranya terdapat anak-anak yang tidak selayaknya mengenal dunia kekerasan. Atas aksi terorisme tersebut, Indonesian Digital Association (IDA) melalui rilis persnya (15/05), mengkampanyekan tagar #BersatuIndonesiaku untuk memerangi paham radikalisme di kanal digital.

Culture | Opinion

Foto: Ist

Ketua IDA, Ronny W. Sugiadha, dalam rilisnya mengungkapkan bahwa tujuan kampanye #BersatuIndonesiaku adalah untuk mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi isu-isu radikalisme dan terorisme di beragam kanal media sosial. Ronny juga menuturkan bahwa edukasi adalah salah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan di kanal digital karena platform tersebut merupakan salah satu sarana penyebaran paham radikalisme.

IDA merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menjalankan semangat #BersatuIndonesiaku. Pertama, tidak menjalin hubungan melalui follow, like dan comment dengan akun-akun media sosial yang tidak jelas kepemilikannya. Kedua, tidak menyebarkan berita yang tidak dapat divalidasi kebenaran dan sumber informasinya. Ketiga, melaporkan akun-akun yang secara jelas berpihak pada aksi-aksi terorisme. Dan terakhir, menyebarkan konten positif tentang keberagaman di Indonesia.

Sebagai asosiasi, IDA menaungi media-media besar seperti Kompas.com, Detik.com, KapanLagi Youniverse, MetroTVNews, Kumparan, VIVA, Tempo.co, Tirto.id dan puluhan online publisher lainnya. Dalam mengusung tagar #BersatuIndonesiaku, seluruh anggota IDA bersepakat untuk memerangi paham radikalisme dengan cara tidak mempublikasi dan berafiliasi dengan kelompok pendukung paham radikalisme serta tidak mengundang mereka sebagai narasumber.

Culture | Opinion

Foto: Ist

CEO KapanLagi Youniverse, Steve Christian, mengungkapkan bahwa ia bersama rekan-rekan pelaku industri digital di IDA berharap masyarakat dapat semakin bijak dalam mencari dan menyebarkan informasi di kanal digital. Hal tersebut sangat diperlukan untuk meredam suara radikalisme dan terorisme di Indonesia. Ia pun berharap bahwa kampanye #BersatuIndonesiaku dapat memberikan dampak positif, khususnya dalam hal pemanfaatan media sosial di tanah air.

Dalam sejarahnya, paham radikalisme berkembang dalam kedok agama, ras, suku serta kedaerahan. Di era informasi dan teknologi ini, paham tersebut semakin berkembang dengan menggunakan kanal digital sebagai infrastruktur penyebaran ideologinya. Terlepas dari apapun isu yang melatarbelakanginya, paham radikalisme yang berujung pada teror dan mengorbankan nyawa manusia sudah selayaknya harus dilawan. Indonesia, sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar yang juga majemuk, memiliki potensi yang sangat besar untuk mematahkan paham radikalisme dengan semangat persatuan.

~ Muggle Writer & Half-blood Musician ~