Culture

Apakah Anda Ketagihan Selfie? Simak Fakta Ilmiahnya

By  | 

Pada tahun 2014, dunia psikologi dan penyakit kejiwaan dikejutkan dengan berita mengenai penyakit baru yang diakibatkan ketagihan selfie yang disebut selfitis. Meskipun banyak ahli yang menyebut berita tersebut sebagai hoax, beberapa peneliti dari Thiagarajar School of Management di India dan Psychology Department di Nottingham Trent University, Inggris, menindaklanjuti berita tersebut dengan melakukan penelitian yang baru-baru ini diterbitkan di International Journal of Mental Health Addiction.

Culture | Opinion

Foto: Ist

Para peneliti, Janarthanan Balakrishan dan Mark D. Griffiths, mengeksplorasi perilaku dan kebiasaan selfie pada 255 mahasiswa. Mereka mengajukan beberapa pertanyaan seperti “Apa yang membuatmu ingin selfie?”, “Apakah kamu merasa ketagihan melakukan selfie?” dan “Apakah mungkin seseorang dapat ketagihan selfie?”. Janarthanan dan Mark kemudian mengembangkan suatu metode ukur yang mereka namakan Selfitis Behaviour Scale (SBS) yang terdiri dari dua poin gangguan, “borderline selfitis” dan “chronic selfitis”.

Borderline selfitis adalah mereka yang melakukan selfie setidaknya tiga kali sehari tapi tidak membaginya di media sosial. Sementara chronic selfitis adalah mereka yang tidak memiliki kontrol diri dalam melakukan selfie (lebih dari enam kali sehari) dan selalu membagikannya di media sosial. Menurut Janarthanan dan Mark, alasan dasar para selfitis melakukan selfie adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri, mencari perhatian, membangkitkan mood, berkomunikasi dengan lingkungan sekitar (dengan menciptakan memori melalui foto), meningkatkan kenyamanan dengan kelompok sosial dan untuk kepentingan kompetitif.

Culture | Opinion

Foto: Ist

Penelitian ini dianggap kontroversial karena banyak perilaku lain yang bermotivasi hal-hal serupa akan tetapi tidak diklasifikasikan sebagai penyakit mental. Dalam ilmu psikologi, penyakit atau gangguan mental dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang beberapa di antaranya adalah faktor psikologis (konsep diri mengenai peran dan identitas) dan faktor sosial (ekonomi, norma, nilai dan budaya yang berlaku). Aktivitas selfie, yang juga mencakup aplikasi gadget-nya, dalam hal ini merupakan mediator atas faktor-faktor tersebut yang ‘memaksa’ para selfitis untuk terus melakukan definisi diri melalui imaji foto.

Culture | Opinion

Foto: Ist

Dalam daftar pustakanya, Janarthanan dan Mark menyertakan studi-studi sebelumnya yang menelurkan istilah-istilah penyakit mental yang dimediasi oleh teknologi seperti nomophobia (rasa takut berlebih ketika tidak memegang telepon genggam, misalkan ketinggalan atau hilang), technoference (gangguan teknologi pada kehidupan sehari-hari, misalkan kelupaan telah memainkan smartphone terlalu lama padahal ada keperluan lain) dan cyberchondria (merasa takut atau bahkan benar-benar sakit ketika sedang browsing gejala penyakit yang dideritanya, misalkan sedang browsing soal sariawan yang diderita dan karena terlalu serius, tanpa sadar artikel yang dibaca adalah mengenai sariawan yang mencakup kanker mulut). Merujuk kepada temuan-temuan ilmiah tersebut, selfitis akan turut menjadi istilah penyakit kejiwaan yang juga dimediasi oleh teknologi.

Recommend0 recommendationsPublished in Culture, Opinion

~ Muggle Writer & Half-blood Musician ~