Culture

Atambua menghormati wanita

By  | 

Tiap-tiap masyarakat daerah di Indonesia sangat menjunjung tinggi seluruh norma dan hukum yang berlaku di atas tanah kelahirannya. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia Indonesia masih mempertahankan kebudayaan, tradisi serta adat istiadat yang ditinggalkan oleh leluhur sebagai sebuah tuntunan dan tatanan dalam kehidupan suku.
“lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”. Pribahasa tersebut menggambarkan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki kearifan lokal yang berbeda diantara belahan barat, tengah hingga timur Indonesia. Melihat ke wilayah perbatasan negara, suku-suku asli Indonesia masih memiliki eksistensi yang bertahan sampai hari ini. Salah satunya di Atambua yang menjadi titik perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste.

Atambua adalah ibukota dari kabupaten belu yang terletak di Nusa Tenggara Timur, yang merupakan salah satu kota terbesar di pulau timor. Penduduk di daerah ini berasal dari ras dan etnis yang beragam. Walaupun banyak ras yang menghuni, belu masih memiliki penduduk asli diantaranya ada suku monewalu dan kamane yang dapat ditemukan di desa dirun, kecamatan lamaknen.

Masyarakat monewalu dan kamane memiliki nilai kebudayaan yang berbeda dengan suku-suku dari belahan Indonesia lainnya. Salah satunya adalah terkait peran wanita di tengah-tengah suku. Masyarakat monewalu dan kamane tidak dapat dikatakan sebagai suku yang menganut unsur patrilineal dan matrilineal secara keseluruhan. Namun, pada beberapa aspek terlihat peran masing-masing gender.
Bukti bahwa masyarakat suku monewalu dan kamane menghormati peran wanita adalah dengan adanya “Mama Tua” yang dipilih oleh seluruh keluarga anggota suku, sebagai tetua adat serta penghuni rumah adat suku yang bernama “Rumah Lopo”.

Atambua adalah ibukota dari kabupaten belu yang terletak di Nusa Tenggara Timur, yang merupakan salah satu kota terbesar di pulau timor. Penduduk di daerah ini berasal dari ras dan etnis yang beragam. Walaupun banyak ras yang menghuni, belu masih memiliki penduduk asli diantaranya ada suku monewalu dan kamane yang dapat ditemukan di desa dirun, kecamatan lamaknen.

Masyarakat monewalu dan kamane memiliki nilai kebudayaan yang berbeda dengan suku-suku dari belahan Indonesia lainnya. Salah satunya adalah terkait peran wanita di tengah-tengah suku. Masyarakat monewalu dan kamane tidak dapat dikatakan sebagai suku yang menganut unsur patrilineal dan matrilineal secara keseluruhan. Namun, pada beberapa aspek terlihat peran masing-masing gender.
Bukti bahwa masyarakat suku monewalu dan kamane menghormati peran wanita adalah dengan adanya “Mama Tua” yang dipilih oleh seluruh keluarga anggota suku, sebagai tetua adat serta penghuni rumah adat suku yang bernama “Rumah Lopo”.

 

Recommend0 recommendationsPublished in Culture

For a Pessimist, im a pretty Optimistic