Culture

Secarik Sejarah HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) ke-72 dan Upacara Peringatan HUT TNI

By  | 

HUT Tentara Nasional Indonesia (TNI) diperingati setiap tanggal 5 Oktober. Tanggal tersebut memiliki sejarah yang panjang di awal masa kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan, nama Koninklijke Nederlands(ch)-Indische Leger (KNIL) dan juga Pembela Tanah Air (PETA).

KNIL merupakan tentara kerajaan Hindia-Belanda yang dibentuk ketika Perang Diponogoro berlangsung. Sementara PETA dibentuk pemerintahan Jepang yang dibentuk untuk melawan tentara sekutu pada tahun 1943. pada 14 Februari 1945, Komandan Pleton (Sodancho) PETA Supriyadi (Soeprijadi) memimpin pemberontakan untuk melawan tentara Jepang di Blitar. Supriyadi sempat meminta pendapat Soekarno sebelum melakukan pemberontakan.

Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis Cindy Adams, Soekarno mengatakan “Apa yang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Soekarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Jepang, maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa yang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Soekarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar”.

Soekarno kala itu merupakan pemimpin dari Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Tetapi, waktu itu Soekarno meminta Supriyadi dan kawan-kawan untuk mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi. Tetapi Supriyadi tetap memimpin pemberontakan yang berujung pada penangkapan sejumlah pimpinan PETA oleh tentara Jepang. Supriyadi menghilang setelah pemberontakan itu. Sampai kini nasib Supriyadi menjadi misteri.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) pada tanggal 23 Agustus 1945. Setelah itu secara bertahap dibentuklah BKR Darat, BKR Laut, dan BKR Udara. BKR memiliki kepengurusan di pusat dan sejumlah daerah. Tetapi ada pula daerah yang menolak dibentuk BKR dan akhirnya membuat lembaga serupa dengan penamaan sendiri.

Maklumat Pemerintah pada tanggal 5 Oktober 1945 akhirnya mengubah KBR menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang juga memasukkan pada mantan anggota PETA. BKR Darat, Laut, dan Udara secara bertahap juga menyesuaikan penamaannya. Nama TKR sempat dinuah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat. Tetapi kemudian mengalami perubahan lagi menjadi Tentara Rebuplik Indonesia (TRI) pada tahun 1946.

Presiden Soekarno kemudian mengganti lagi nama TRI menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) pada 3 Juni 1947. TNI merupakan gabungan dari TRI dan tentara elemen-elemen rakyat lainnya. Jendral Soedirman kemudian ditunjuk menjadi Panglima Besar pertama TNI. Walau nama TNI baru diberikan pada tanggal 3 Juni 1947, tetapi hari lahir kesatuan tersebut tetap diperingati setiap tanggal 5 Oktober.

Hari Ulang Tahun Tentara Nasional Indonesia ke-72 ini diperingati di tengah kontroversi seputar isu impor 5.000 senjata oleh institusi nonmiliter. Tetapi tidak sedikitpun disinggung oleh Presiden Joko Widodo saat berpidato dalam puncak HUT TNI di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, Kamis, 5 Oktober 2017. Alih-alih menyinggung polemik impor senjata, pidato Jokowi lebih menyoroti loyalitas TNI dan ancaman terhadap ideologi negara, Pancasila.

HUT TNI | Opinion

Foto: Ist

Dalam pidato berdurasi kurang dari 10 menit, Jokowi mengajak segenap prajurit TNI untuk mengingat kembali pesan Panglima Jendral Besar Soedirman mengenai hubungan TNI dan politik. Menurut Presiden Indonesia ke-7 ini, politik tentara haruslah mengacu pada politik negara. Pun dengan loyalitas tentara, sehingga politik dan loyalitas tentara hanya untuk kepentingan rakyat dan pemerintahan yang sah. Jokowi juga mengatakan, rongrongan terhadap keamanan negara tidak hanya dari dalam tetapi juga dari luar negeri.

Selama ini, komitmen TNI para prajurit untuk taat kepada hukum dan menjalankan segala kewajiban sebagai tentara merupakan pondasi yang membuat Indonesia kokoh berdiri menghadapi jaman sampai saat ini. Polemik impor senjata dipicu oleh pernyataan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam acara Silaturahmi Panglima TNI dengan Purnawirawan TNI, di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jumat, 24 Semptember 2017 lalu.

Dalam rangkaian peringatan Puncak HUT TNI ke-72 di Cilegon dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Panglima TNI Jendral Gatoto Nurmantyo, Kepala Staf Angkatan Darat Jendral TNI Mulyono, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi, dan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Hadi Tjahtanto. Bertindak selaku Komandan upacara Letjen TNI Edy Rahmayadi yang juga menjabat sebagai Pangkostrad. HUT TNI kali ini mengambil tema “Bersama Rakyat TNI Kuat,”.

HUT TNI | Opinion

Foto: Ist

Parade dan defile pada HUT TNI kali ini berjumlah 5.932 orang. Komposisi pasukan terdiri dari Brigade Upacara I Gabungan, Brigade Upacara II Akademi TNI, Brigade Upacara III TNI AD, Brigade Upacara IV TNI AD, Brigade Upacara V TNI AL, Brigade Upara VI TNI AU, Batalyon Upacara PNS. Selain itu ada demo alutsista dari tiga matra TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara. Demonstrasi pencak silat yang melibatkan 1.800 prajurit, halang rintang laut gabungan, terjun free fall gabungan, terjun statik laut gabungan, dsm Jupiter Aerobic team.

I'm a writer from wanita.me