Culture

Lebih Dekat dengan Jajang C. Noer

By  | 

Jajang C. Noer terlahir dengan nama pemberian orangtuanya, yaitu Lidia Djunita Pamoenjak. Ia merupakan seorang sutradara dan aktris film Indonesia yang dikenal juga dengan nama Jajang Pamuncak. Terlahir sebagai putri tunggal dari pasangan Nini Karim dan Nazir Datuk Pamoenjak. Dimana sang ayah merupakan seorang tokoh nasional pergerakan kemerdekaan Indonesia ternama dan juga sebagai dubes Indonesia pertama untuk Perancis. Disanalah wanita yang juga merupakan isteri dari Arifin C. Noer dilahirkan pada tanggal 28 Juni 1952.

Ibu dari Nitta Nasyra C. Noer dan Marah Laut C. Noer ini mengenal dunia seni pada saat usianya menginjak 5 tahun ketika ia dan keluarganya menetap di Manila. Ketika itu ayahnya, menjabat sebagai dubes RI untuk Filipina. Jajang kecil gemar sekali menari tari payung, tari piring dan sesekali tampil mewakili Indonesia.

Culture | profile

Foto : Ist

Ketika kembali ke Indonesia ia sudah duduk di bangku SMP. Pada saat duduk di bangku SMA, wanita berdarah Minang ini mulai menggeluti seni teater. Bahkan ia sempat tergabung dalam grup drum band sekolahnya ketika menyambut kedatangan Paus Paulus Yohanes VI di Senayan, Jakarta. Jajang sempat mengenyam pendidikan di Fisip UI, namun tidak selesai. Lalu pada tahun 1972, ia bergabung dengan sanggar Teater Ketjil pimpinan Arifin Chairin Noer yang dikemudian hari menjadi suaminya.

Awalnya nama Jajang itu berasal dari panggilan kesayangan orangtuanya, yaitu yayang (ditulis jajang) terhadap putri mereka satu-satunya. Sementara nama belakang C. Noer adalah nama dari almarhum suaminya yang juga seorang sutradara ternama yang telah meninggal pada tahun 1995. Namun nama yang tertera di buku raport sekolah, paspor, KTP, rekening bank dan berbagai surat penting lainnya diterakan nama asli.

Culture | profile

Foto : Ist

Meskipun Jajang memiliki suami yang sangat terkenal, awalnya ia tidak mempunyai keinginan untuk mengikuti sang suami sebagai sutradara. Ia adalah seorang aktris berbakat yang memenangkan Piala Citra kategori Aktris Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia dalam filmnya yang berjudul Bibir Mer pada tahun 1992.

Menurut pengakuan wanita  yang sudah merokok sejak masih berseragam biru putih ini ia ‘terpaksa’ menjalani perannya sebagai sutradara setelah suaminya meninggal dan meninggalkan warisan berupa naskah sinetron dengan judul Bukan Perempuan Biasa. Pada saat itu, sinetron yang juga dibintangi oleh Christine Hakim itu baru saja diproduksi sebanyak 7 episode.  Siapa sangka, keterpaksaan Jajang menjalani perannya sebagai sutradara pada sinetron tersebut diganjar penghargaan Piala Vidia dalam kategori drama seri terbaik pada Festival Sinetron Indonesia.

Culture | profile

Foto : Ist

Wanita yang fasih berbahasa Belanda dan Inggris ini, sejak kesuksesannya memboyong Piala Vidia mulai kebanjiran permintaan menyutradarai film, sinetron dan pementasan teater. Disela-sela waktu senggangnya Jajang selalu menyempatkan membaca buku. Ia juga tercatat sebagai anggota Perpustakaan British Council dan juga membangun perpustakaan pribadi dirumahnya.

Sebagai orangtua tunggal, Jajang selalu berusaha menanamkan kepada kedua anaknya tentang persamaan hak antara pria dan wanita dan sikap hormat terhadap orang yang lebih tua.

For a Pessimist, im a pretty Optimistic