Books

Patah Hati di Kota Imajiner ala Rain Chudori

By  | 

Imaginary City dibuka Rain dengan menyapa pembacanya sebagai pengunjung kota imajiner. Aura optimisme terasa sangat kentara dalam pembuka novel ini. Rain menggambarkan betapa kota imajiner ini dengan segala kontradiksi historisnya seperti perang, penjajahan, kemiskinan, korupsi dan pertarungan kekuasaan, pada akhirnya akan menyerah pada terbenamnya matahari, gelap dan sunyinya malam.

Novel ini mengambil latar beberapa tempat spesifik di Kota Jakarta di malam hari, bahkan Rain menyisipkan peta lokasi tempat-tempat tersebut di dalam novelnya. Tokoh-tokoh utama dalam Imaginary City hanya sepasang kekasih tak bernama yang direferensikan dengan kata ganti orang ketiga tunggal, “she” dan “he”. Mereka adalah sepasang kekasih yang bertemu di kota metropolitan imajiner yang berprofesi sebagai penulis dan arsitek yang pada akhirnya berpisah untuk alasan yang tidak pernah dikemukakan secara eksplisit dalam cerita.

Culture | books

Foto : Ist

Sisipan peta Kota Jakarta mungkin saja dapat merusak definisi ‘kota imajiner’ yang dimaksudkan pada judul novel, akan tetapi narasi yang dibangun Rain dalam novel ini sepertinya memang bertujuan untuk merangsang daya imajinasi pembacanya atas pemaknaan terhadap Kota Jakarta itu sendiri. Yakni pemaknaan yang tidak tunggal di mana setiap warga Kota Jakarta memiliki pemaknaan masing-masing atas ruang hidupnya serta kontestasi atas pemaknaan tersebut akan terus terjadi.

Tempat-tempat yang disinggahi oleh kedua tokoh utama dalam novel ini antara lain adalah The Studio, The Rooftop, The Beach, The Museum, The Cinema, The Neighborhood, The Market, The Elephant Park, The Café, The Ice Cream Shop dan kembali ke The Studio. Rain sangat deskriptif dalam menggambarkan atmosfir tempat-tempat tersebut. Deskripsi seperti, “The night was dark and starless, with a gentle wind that stirred the trees that were tenderly planted by the talented hands of a landscape artist,” dapat dibaca sepanjang perjalanan membaca Imaginary City.

Culture | books

Foto : Ist

Benang merah yang menyatukan perjalanan kedua tokoh utama dari satu tempat ke tempat lainnya di kota imajiner adalah pertemuan, perpisahan dan kenangan. Ketiga hal tersebut merupakan aspek dasar atas pemaknaan terhadap sebuah kota. Salah satu contoh menarik dari keutuhan tiga hal tersebut adalah secuplik kenangan dari kerusuhan yang terjadi 20 tahun lalu dalam bab 5 (The Neighborhood). Dalam hal ini sepertinya adalah kerusuhan yang terjadi pada tahun 1997-1998. Meskipun hanya sekilas, deskripsi tentang rasa takut, tragedi dan kenangan atas rumah yang terpaksa ditinggalkan justru menyadarkan mereka bahwa mereka yang dulunya belum saling ternyata berbagi sejarah yang sama atas Kota Jakarta. Dalam beberapa bagian, Rain menulis bahwa di satu sisi, suatu kota dapat berubah menjadi demikian brutal dan kerusuhan tersebut adalah salah satu wajah brutalnya. Ironisnya, pada bab 7 (The Elephant Park), Rain menggambarkan bagaimana sang tokoh perempuan berlindung di bawah patung gajah ketika kerusuhan terjadi dan seakan-akan tidak ada lagi orang yang dapat menolongnya sekaligus mendeskripisikan betapa sirnanya ruang untuk bersembunyi di luasnya belantara Kota Jakarta.

Culture | books

Foto : Ist

Sosok Ayah dari tokoh perempuan adalah salah satu figur yang layak untuk diperhatikan. Sosok Ayah diceritakan dalam bentuk kenangan dan muncul di beberapa bab. Uniknya, cerita tentang kenangan bersama Ayah justru selalu muncul akibat pertanyaan dari tokoh pria. Pada bab 3 (The Museum), cerita tentang Ayah muncul dari pertanyaan, “What does this place means to you?” Dan pada bab 9 (The Ice Cream Shop), muncul dari pertanyaan eksplisit, “Did your father bring you here often?” Kenangan atas sosok Ayah dalam kedua bab tersebut cukup kontradiktif. Pada bab 3, tokoh perempuan mengenangnya sebagai seorang kurator museum yang sangat menghayati pekerjaannya hingga terkadang dia iri dengan objek-objek yang dirawat oleh Ayahnya dengan penuh kasih saying di museum. Sementara pada bab 9, tokoh perempuan bercerita, “Taking me here [the ice cream shop] was one of the kindest things my father did to me. I think it was his way of saying that, however difficult and painful much of living might be, we will always have ice cream.” Bukankah menarik untuk melihat bagaimana pemaknaan atas Ayahpun berbeda menurut ruang dan waktu yang berlaku.

Hubungan asmara antara kedua tokoh utama dalam novel ini berjalan dengan tempo yang cukup cepat. Mulai dari perkenalan, berhubungan hingga perpisahan. Dinamika hubungan antara keduanya justru tidak terjelaskan secara eksplisit kecuali melalui beberapa detail seperti hubungan fisik sesamanya hingga ke objek terkait seperti silver wedding ring yang disebutkan di awal bab terakhir. Mengapa ada cincin pernikahan sedangkan mereka akhirnya berpisah? Ataukah hanya sekedar properti yang menghiasi latar dalam novel? Satu hal yang dapat dimaknai melalui tutur filosofis kedua tokoh tersebut dalam novel ini adalah Kota Jakarta menuntut beragam hal dari mereka berdua, mulai dari waktu dan kenangan hingga kontestasi pemaknaan atas itu semua sehingga bisa saja perpisahan adalah salah satu tuntutan Kota Jakarta atas hubungan asmara mereka.

Secara keseluruhan, novel Imaginary City layak diapresiasi. Hubungan antara kedua tokohnya dengan Kota Jakarta yang penuh dengan kenangan indah bercampur kekecewaan merupakan manifestasi dari pemaknaan atas ruang kota. Banyak hal lain yang dapat digali dari novel ini dari sisi sosial budaya atau bahkan dari perspektif feminisme. Novel ini terlalu berat untuk dikatakan sebagai novel percintaan belaka. Mengapa demikian? Karena banyak cara untuk patah hati di Kota Jakarta akan tetapi tidak serumit patah hati di kota imajinernya Rain Chudori.

For a Pessimist, im a pretty Optimistic