Culture

Perjalanan Karier Chrisye, Sang Penyanyi Legendaris Indonesia

By  | 

Siapa yang tidak mengenal penyanyi legendaris Indonesia, Chrisye. Penyanyi bernama lengkap Christian Rahadi, lahir di Jakarta dari keluarga Laurends Rahadi, seorang wirausaha keturunan Betawi-Tionghoa, dan Hanna Rahadi, seorang ibu rumah tangga keturunan Sunda-Tionghoa.

Dia anak kedua dari tiga anak laki-laki yang dipunyai pasangan Kristen tersebut, saudaranya bernama Joris dan Vicky. Setelah masa kecilnya dihabiskan di Jalan Talang, dekat Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1954 keluarga itu berpindah ke Jalan Pegangsaan (di Menteng). Saat sekolah di SD GIKI, Chrisye berteman dengan anak-anak keluarga Nasution, yang menjadi tetangganya; dia paling akrab dengan Bamid Gauri, dengan siapa dia sering bermain bulu tangkis dan layang-layang. Pada waktu itu dia juga mulai mendengarkan piringan hitam milik ayahnya; dia bernyanyi mengiringi lagu-lagu Bing Crosby, Frank Sinatra, Nat King Cole, dan Dean Martin. Setelah lulus SD, Chrisye menghadiri SMPK III Diponegoro.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Saat Chrisye duduk di bangku SMA PSKD Menteng, Beatlemania tiba di Indonesia. Ini membuat Chrisye lebih tertarik dengan dunia musik. Menganggapi hendak Chrisye untuk bermain musik, ayahnya membeli sebuah gitar; Chrisye memilih gitar bas, sebab dia beranggapan bahwa gitar tersebutlah yang paling mudah dipelajari. Chrisye dan Joris belajar bermain musik dengan mengikuti lagu-lagu di radio dan piringan hitam ayah mereka; akibatnya, mereka tidak dapat membaca nota musik. Mereka lama-kelamaan mulai main musik di acara sekolah, dengan Chrisye sebagai vokalisnya.

Pada pertengahan dasawarsa 1960-an, keluarga Nasution membentuk sebuah band; Chrisye dan Joris menonton mereka main musik oleh Uriah Heep dan Blood, Sweat & Tears. Pada tahun 1968 Chrisye mendaftar di Universitas Kristen Indonesia (UKI) untuk menjadi insinyur seperti yang dihendaki ayahnya. Sekitar tahun 1969, akan tetapi, Gauri mengundangnya untuk menjadi anggota band Nasution, Sabda Nada, untuk menggantikan pemain bas mereka yang sedang sakit, Eddi Odek. Karena puas dengan kemampuannya, Nasution bersaudara meminta Chrisye menjadi anggota tetap. Sabda Nada bermain secara teratur di Mini Disko di Jalan Juanda serta untuk pesta ulang tahun dan pernikahan. Ketika Chrisye diberi kesempatan untuk bernyanyi saat mereka menyanyikan lagu versi daur ulang, dia berusaha untuk menggunakan suara yang mirip penyanyi aslinya.

Pada tahun 1969 Sabda Nada mengganti nama mereka menjadi Gipsy supaya terdengar lebih macho dan seperti band Barat. Jadwal untuk band itu, yang tidak mempunyai manager, sangat padat karena bermain secara teratur di Taman Ismail Marzuki. Akibatnya, Chrisye mengundurkan diri dari UKI; pada tahun 1970 dia masuk ke Akademi Pariwisata Trisakti karena mengganggap jadwalnya lebih fleksibel.

Dua tahun kemudian, Chrisye ditawarkan kesempatan untuk main di New York. Biarpun dia senang sekali, Chrisye takut untuk menceritakan hal tersebut kepada ayahnya, yang dia merasa tidak akan menyetujui. Akhirnya dia jatuh sakit selama beberapa bulan, sementara Sabda Nada pergi ke New York. Setelah Chrisye membahas kekhawatirannya dengan ibunya dan Joris, ayahnya pun menyetujui agar dia bisa mengundurkan diri dari kuliah dan pergi ke New York. Setelah kesehatannya sudah membaik, pada tengah tahun 1973 dia pergi bersama Pontjo untuk bertemu dengan Gipsy di Amerika Serikat; pada tahun yang sama dia mengundurkan diri dari Trisakti.

Selama di New York, Gipsy memanggung di Ramayana Restaurant, yang milik perusahaan minyak Pertamina. Band itu, yang ditempatkan di suatu apartmen di Fifth Avenue, berada di New York untuk hampir satu tahun. Mereka menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta versi daur ulang dari lagu Procol Harum, King Crimson, Emerson, Lake & Palmer, Genesis dan Blood, Sweat & Tears. Biarpun Chrisye merasa frustrasi karena tidak dapat mengekspresikan diri dengan musik orisinal, dia tetap bekerja.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Setelah kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1973, Gauri memperkenalkan Chrisye dengan penulis lagu Guruh Soekarnoputra, anak dari mantan presiden Soekarno. Sementara Nasution bersaudara bekerja sama dengan Guruh untuk menyiapkan proyek mereka, Chrisye mulai menciptakan lagu sendiri; karena menciptakan lagu sendiri dia bisa menyadari bahwa dia kesulitan dengan lirik yang mengandung konsonan keras, dan bisa menghindari bunyi tersebut. Tahun berikutnya dia kembali ke New York dengan band lain, The Pro’s. Pada pertengahan tahun 1975, dengan beberapa minggu tersisa di kontrak kerjanya, orang tuanya menelepon Chrisye dari Jakarta dan memberi tahu kalau saudaranya Vicky meninggal akibat infeksi lambung. Karena tidak dapat kembali langsung ke Jakarta, pikirannya jadi kacau. Saat kembali ke Indonesia, Chrisye tak berhenti-henti menangis dalam pesawat dan menjadi depresi.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Setelah beberapa waktu tidak bermain musik, Chrisye dihubungi oleh Nasution bersaudara dan diundang untuk bergabung dengan Gipsy dan Guruh untuk sebuah proyek baru; Guruh juga menawarkan beberapa lagu untuk Chrisye menjadi vokalis utama, dengan lirik ditulis khususnya untuk dia. Setelah mengatasi rasa depresinya, Chrisye mengikuti latihan di rumah Guruh di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Mereka main sampai larut malam dan mencampurkan rock ala Barat dengan gamelan Bali. Perekaman terjadi pada pertengahan tahun 1975, dengan hanya empat lagu terselesaikan dalam beberapa bulan pertama. Pada tahun 1976 album Guruh Gipsy diluncurkan dan diterima baik oleh para kritikus; ada sebanyak 5.000 keping yang diproduksi. Berhasilnya Guruh Gipsy meyakinkan Chrisye bahwa dia dapat menjadi penyanyi tunggal.

Chrisye sudah disebut penyanyi “legendaris” oleh beberapa jurnalis. Pada tahun 2007, majalah Rolling Stone Indonesia memilih Badai Pasti Berlalu sebagai album Indonesia terbaik sepanjang masa. Tiga album solo Chrisye juga masuk ke daftar tersebut: Sabda Alam di urutan 51, Puspa Indah di urutan 57, dan Resesi di urutan 82. Guruh Gipsy masuk di urutan kedua. Ini kemudian diikuti oleh pemilihan lima lagunya (“Lilin-Lilin Kecil” di urutan 13, “Kidung” di urutan 26, “Merpati Putih” di urutan 43, “Anak Jalanan” di urutan 72, dan “Merepih Alam” di urutan 90) sebagai beberapa lagu Indonesia terbaik sepanjang masa; lagu Guruh Gipsy “Indonesia Maharddhika” masuk di urutan 59. Pada tahun 2011 mereka menyebut Chrisye sebagai penyanyi Indonesia terbaik ketiga. Eros Djarot menyebut bahwa Chrisye mempunyai suara yang luar biasa, tetapi sering malu-malu dan malas membahas isu sosial.

Menurut data dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia, Badai Pasti Berlalu tahun 1977 adlah album Indonesia paling laris urutan kedua, dengan sembilan juta keping terjual antara tahun 1977 dan 1993. Pada tahun 1990 video musik untuk “Pergilah Kasih” menjadi klip Indonesia pertama yang diputar di MTV Hong Kong; klip untuk “Sendiri Lagi” terpilih sebagai klip Indonesia terbaik sepanjang masa pada acara Video Musik Indonesia.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Artis Indonesia, termasuk Vina Panduwinata, Ahmad Albar, D’Cinnamons, dan Sherina Munaf, membawa 20 lagu Chrisye dalam konser “Chrisye: A Night to Remember” di hotel Ritz Carlton, Jakarta. Konser tersebut juga termasuk testimoni dari anak dan istrinya. Tiket untuk konser tribut tersebut terjual habis. Alberthiene Endah sudah menulis dua biografi Chrisye. Yang pertama, Chrisye: Sebuah Memoar Musikal, diterbitkan pada tahun 2007 dan membahas masa kecil, karier, dan perjuangan melawan kankernya. Yang kedua, The Last Words of Chrisye, dirilis pada tahun 2010 dan membahas masa silam Chrisye.

Perjalanan karier Chrisye mendapatkan banyak sekali penghargaan. Pada tahun 1979 dia terpilih sebagai Penyanyi Pria I Kesayangan Angket Siaran ABRI. Album Sabda Alam dan Aku Cinta Dia diberi sertifikasi emas, dan Hip Hip Hura, Resesi, Metropolitan, dan Sendiri disertifikasi perak. Chrisye menerima tiga BASF Awards, yang diadakan pembuat compact cassette BASF sampai pertengahan tahun 1990-an, untuk album paling laris; yang pertama diterima pada tahun 1984 untuk Sendiri, lalu yang kedua pada tahun 1988 untuk Jumpa Pertama dan yang terakhir pada tahun 1989 untuk Pergilah Kasih. Dia juga menerima BASF Lifetime Achievement Award pada tahun 1994 untuk sumbangannya ke dunia musik Indonesia; pada tahun yang sama dia menerima penghargaan sebagai Penyanyi Rekaman Terbaik. Pada tahun 1997 dia menerima penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) untuk Penyanyi Pop Pria Terbaik. Tahun berikutnya, album Kala Cinta Menggoda menang sembilan AMI, termasuk Album Termaik; Chrisye sendiri menerima penghargaan sebagai Penyanyi Pop Pria Terbaik, Penyanyi Rekaman Terbaik, dan Perancang Grafis Terbaik (bersama dengan Gauri). Pada tahun 2007, setelah dia sudah meninggal, dia menerima penghargaan SCTV Lifetime Achievement Award pertama, yang diterima oleh putrinya Risty.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Pada bulan Juli 2005 dibawa ke Rumah Sakit Pondok Indah karena sesak napas. Setelah 13 hari dirawat, dia dipindahkan ke Rumah Sakit Mount Elizabeth di Singapura, di mana dia dinyatakan mengidap kanker paru-paru. Biarpun khawatir bahwa dia akan kehilangan rambutnya yang gondrong, yang dia menganggap sebagai bagian citranya, dia menjalani kemoterapi enam kali, dengan perawatan pertama pada tanggal 2 Agustus 2005.

Kesehatan Chrisye membaik pada tahun 2006 dan dia merasa cukup kuat untuk mengikuti wawancara panjang dengan Alberthiene Endah pada bulan Mei dan November 2006 saat Alberthiene menulis biografinya, Chrisye:Sebuah Memoar Musikal. Dia juga menghasilkan dua album kompilasi, Chrisye by Request dan Chrisye Duets; namun, dia merasa kurang sehat untuk menghasilkan lagu baru. Akan tetapi, pada awal Februari 2007 kondisi fisiknya kembali memburuk.

perjalanan karier chrisye | Profile

Foto: Ist

Pada 30 Maret 2007, Chrisye meninggal pada pukul 4:08 WIB di rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan. Dia dikebumikan di TPU Jeruk Purut hari itu juga. Ratusan orang menghadiri pemakamannya itu, termasuk Erwin Gutawa, Titiek Puspa, Ahmad Albar, Sophia Latjuba, dan Ikang Fawzi. Pemakaman ini dinodai aksi beberapa pencopet, salah satunya ditangkap tapi lalu dibebaskan.

Seratus hari setelah meninggalnya Chrisye, Musica mengeluarkan dua album kompilasi. Album ini, dengan judul Chrisye in Memoriam – Greatest Hits dan Chrisye in Memoriam – Everlasting Hits, termasuk empat belas lagu per keping dari sepanjang kariernya bersama Musica. Pada tanggal 1 Agustus 2008, singel Chrisye terakhir, “Lirih”, yang ditulis oleh Aryono Huboyo Djati, diluncurkan. Lagu tersebut mula-mula dirahasiakan, dan tanggal perekamannya tidak diketahui. Menurut Djati, lagu itu direkam sebagai hiburan. Sebuah video klip yang disutradarai Vicky Sianipar dan termasuk Ariel Peterpan, Giring Ganesha dari Nidji, dan janda Chrisye lalu dirilis.

Selama kariernya, Chrisye merilis 31 album. Ini termasuk satu dengan Guruh Gipsy, 21 album studio, dan sembilan album kompilasi. Semua album solonya setelah Sabda Alam menjual lebih dari 100.000 keping. Dalam sebuah wawancara dengan Kompas pada tahun 1992, Chrisye menyatakan bahwa dia jatuh sakit setiap kali merekam album, sebagai akibat tekanan untuk mempromosi album-album tersebut. Chrisye juga merilis banyak singel, dengan beberapa dijadikan lagu tema sinetron. “Pengalaman Pertama” digunakan untuk Ganteng-Ganteng Kok Monyet, “Cintaku” dari album Badai Pasti Berlalu yang sudah di-remaster digunakan untuk Gadis Penakluk, dan “Seperti Yang Kau Minta” digunakan untuk Disaksikan Bulan.

Dan pada tahun 2017 ini, mengenang 10 tahun kepergian sang penyanyi legendaris Chirsye dalam artikel sebelumnya Wanita.me sudah membahas mengenai acara yang diselenggarakan oleh PT. Diansyah Dinamika Wisyamanta akan menggelar konser yang bertajuk “CHRISYE The Spirit Continuous Music Fest Concert. Acara yang digagas oleh Yanti Chrisye, Rinny Noor, Setyorro dan Seno M. Hardjo. Konser CHRISYE The Spirit Continues akan dimulai dari Jakarta. Selanjutnya akan bergerak menuju beberapa kota mulai bulan November 2017 hingga Februari 2018. Beberapa kota yang sudah matang persiapannya adalah Tangerang, Bandung, Surabaya, Jogjakarta, Bali, Makassar, Banjarmasin, Batam dan Palembang.

I'm a writer from wanita.me