Culture

Pernikahan Usia Senja, Why Not?

By  | 

Belakangan ini santer berita tentang pernikahan seorang perempuan lanjut usia diberbagai media. Sebut saja Nenek Rokayah yang menikah lagi saat usianya meniginjak angka 71 tahun. Lalu ada juga artis senior kita, Nani Wijaya, yang telah melangsungkan pernikahannya beberapa waktu lalu. Ia pun sudah berusia lanjut, yaitu 70 tahun.

Mungkin sebagian orang akan berpikir lebih baik seseorang yang telah memasuki usia senja untuk memokuskan diri pada aktivitas ibadah.

Namun apakah suatu kesalahan bila orang tua ingin menikah lagi?

Memiliki teman hidup bukan hanya kebutuhan orang muda. Itulah sebabnya keputusan menikah lagi juga bisa dilaksanakan orang lanjut usia. Orang lansia memiliki perasaan yang terkadang tidak dapat dipahami oleh anak-anaknya. Misalnya perasaan kesepian, perasaan tidak berdaya, bergantung pada lingkungannya karena membutuhkan orang lain, perasaan tidak berguna karena aktivitanya terbatas, dan masih banyak lagi. Penurunan kondisi fisik orang lansia sangat erat kaitannya dengan penurunan fungsi kognintif, fungsi seksual serta perubahan terhadap kemandirian.

Culture | opinion

Foto : Ist

Reaksi umum yang terjadi bila lansia ingin menikah, yaitu penolakan dari pihak anak anaknya. Sebuah reaksi yang masih dalam batas wajar. Karena rasa kepemilikan yang tinggi seorang anak pada orangtuanya. Tetapi bila dipikir lebih lanjut, bahwa bila tujuan pernikahan lansia adalah untuk memperbaiki kualitas hidup, why not?

Dengan menikah kembali, orang lansia jadi memiliki teman untuk bicara dan kehangatan fokus pada dirinya. Walaupun anak-anaknya sayang pada orang tua, tetapi kadarnya akan berbeda. Si anak akan lebih fokus mengurus keluarga kecilnya dari pada mengurus ayah atau ibunya yang sudah lanjut usia. Disamping itu, sisi positif lainnya yaitu orang lansia akan merasa lebih berharga dan berguna karena ia masih melayani, menemani serta melakukan kegiatan bersama dengan pasangannya.

Seperti halnya pernikahan pada umumnya, persiapan pernikahan perlu disesuaikan dengan kemampuan keluarga lain. Komunikasi merupakan faktor penting dari keseluruhan acara ini. Mulai dengan perkenalan antara kedua belah pihak keluarga. Momen perkenalan ini akan menjadi momen penting guna calon pasangan ayah atau ibu akan menjadi bagian keluarga kamu.

Tetapi ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari ketika ayah atau ibu kita akan menikah lagi;

  1. Jangan memaksakan setiap anggota keluarga untuk menerima kehadiran ‘warga baru’ dalam keluarga. Sebab bila dipaksakan kemungkinan hanya akan memicu konflik.
  2. Hindari membandingkan si calon orang tua baru kamu dengan orang tua kandung. Karena tindakan ini tidak akan menghasilkan hubungan yang harmonis antara kamu dan calon pasangan ayah/ibu baru.
  3. Usahakan tidak mengkritisi atau memberi penilaian singkat pada anggota keluarga calon ayah/ibu baru. Misalnya mengomentari anaknya atau cucunya. Sebab hal tersebut akan membawa konflik baru ke dalam keluarga yang akan dibina orang lansia pada pernikahannya.

 

For a Pessimist, im a pretty Optimistic