Books

Profesor David Reeve, Asal Australia Menulis Buku Tentang Angkot Unik

By  | 

Apa yang ada dibenak kalian ketika membahas tentang angkutan umum (angkot)? Membuat jalanan macet, polusi, ngetem, atau bahkan kenangan dan keunikannya? Mungkin kesan itu juga yang ditangkap oleh seorang Profesor Madya dari New South Wales University, David Reeve.

david reeve | Books

Foto: Ist

David Reeve merupakan seorang penulis buku tentang angkot di Minangkabau yang berjudul Angkot dan Bus Minangkabau: Budaya Pop dan Nilai-nilai Budaya Pop. Buku yang telah diterbitkan pada bulan Maret lalu itu memiliki 360 halaman dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Versi Indonesia diterjemahkan oleh Iskandar P Nugraha. Tetapi versi lengkap dua bahasa baru diluncurkan di Sydney pada tanggal 9 November. Buku ini diklaim merupakan buku pertama yang membahas keunikan angkot dan bus yang beroperasi di Minangkabau.

david reeve | Books

Foto: Ist

david reeve | Books

Foto: Ist

Angkot dan bus Minangkabau dianggap unik karena menggunakan budaya-budaya pop untuk menarik perhatian penumpang. Cara-caranya beragam, mulai lewat gambar bodi kendaraan, tulisan hingga musik-musik yang diputar di dalam kendaraan. Buku yang diterbtikan oleh Komunitas Bambu ini kemudian menarik perhatian, berbagai bedah buku dilakukan. Prof David Reeve mengungkapkan bahwa angkot dan bus di Minangkabau memiliki keunikan tersendiri dibandingkan fenomena yang sama di kota lain. Profesor yang telah mempelajari berbagai hal tentang Indonesia selama 40 tahun itu mengatakan, “Memang ada tradisi memasang gambar dan tulisan pada bus, becak, angkot di beberapa daerah di Indonesia, tetapi saya kira puncaknya ada di Padang, untuk angkot dan bus”.

david reeve | Books

Foto: Ist

david reeve | Books

Foto: Ist

Menurutnya angkot di Padang memiliki karakter yang unik sejak ia pertama kali menemukan berada di kota itu pada tahun 2007. “Saya memulai usaha mengoleksi gambar karena sangat menarik, budaya pop yang dinamis, kreatif, asyik, jenaka,” kata Reeve. Ia mengaku, “ tetapi setelah saya terlibat dalam penelitian saya sadar bahwa budaya pop itu tercancam punah. Jadi ada tujuan untuk merekamnya sebelum punah.” Berkat dokumentasi yang ia buat lewat buku bergambar 350 angkot dan bus itu, Pemerintah Sumatra Barat dan Pemkot Padang memberikan perhatian terhadap angkot dan seninya. Sebab menurut Reeve pemerintah daerah ternyata sempat tidak menyukai fenomena pop pada angkot tersebut. Sehingga sering terjadi razia terhadap angkutan umum bergambar dan bermusik agar kembali menjadi “bersih”.

Dalam pandangan Reeve, upaya razia terhadap angkot ekspresif tersebut adalah aneh. “Kita lihat misalnya tindakan Bu Risma di Surabaya, begitu pula yang di Bandung, ada usaha membuat angkot menjadi bersih, lebih rapi,” ujarnya membandingkan. Ia mengaku takut atas nama kebersihan, angkot-angkot unik itu akan hilang. Menurutnya letak keanehannya ada pada bagaimana orang di Indonesia sering berbicara tentang kearifan lokal, namun budaya pop dari angkot ini tidak dianggap sebagai kearifan lokal. “Saya memang orang asing dan tidak bermaksud menggurui tetapi sayang kalau kearifan lokal ini bakal punah,” jelas Reeve.

Reeve pun mengungkapkan bahwa hadirnya angkot keberadaan angkot sudah menjadi bagian dari kehidupan perkotaan di Indonesia dan munculnya budaya pop di angkot sudah berlangsung selama 30 tahun terakhir. “Di Padang ada sekitar 2 ribu angkot yang melintas tiap 7-10 detik, bukan 7-10 menit,” katanya. Itu mengapa menurut Reeve angkot-angkot unik ini adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pemandangan kota Padang. “Pengunjung dari luar Padang selalu kagum dan menyukai mereka,” tambah Reeve. Ia menyadaribahwa angkot akan terancam menghilang dari kota-kota di Indonesia termasuk Padang, karena adanya persaingan dengan pemilik motor, transportasi masal seperti Trans Padang, transportasi online ataupun karena kebijakan pemerintah.

Meski mendorong agar angkot pop ini dilestarikan, Reeve pun setuju bahwa angkot perlu untuk ditertibkan. “Sehingga pengemudinya tidak ugal-ugalan tetapi jangan sampai punah,” ujarnya. Buku yang diterbitkan oleh Reeve ini menjadi perhatian banyak orang meskipun di Padang atau di kota-kota lainnya hal seperti ini adalah hal yang biasa. “Untuk orang dari luar yang melihat ini sebagai sesuatu yang menarik,” ungkapnya. Selain menarik dari sisi budaya, Reeve juga menjelaskan bahwa fenomena angkot dan bus pop ini nyatanya memiliki nilai ekonomi. Karena mampu untuk menarik penumpang. “Nilai ekonomisnya besar. Kalau ada angkot yang dekorasinya super maka hasil tarikan mereka satu hari bisa dua kali lebih banyak dibandingkan yang lain,” ungkap Reeve.

Bahkan, Reeve menambahkan, “Ini cara sopir untuk beriklan dan mendapatkan penumpang setia. Kadang ada penumpang yang memiliki nomor telepon sopir dan hanya naik mobil yang mereka sukai saja.” Jadi fenomena transportasi di Indonesia ternyata tidak hanya “om telolet om” saja ya. Tetapi juga seperti angkot-angkot penuh kreatifitas yang berusaha untuk menarik perhatian para penumpangnya ditengah persaingan yang semakin ketat. Bagaimana menurut kalian?

I'm a writer from wanita.me