Culture

Biografi Puitis Chairil Anwar Dalam Teater Perempuan Perempuan Chairil

By  | 

Bakti Budaya Djarum Foundation dan Tatimangsa Foundation mempersembahkan seni budaya Teater yang digelar pada tanggal 11 dan 12 November 2017. Menyusul kesuksesannya dalam menggelar pementasan Bunga Penutup Abad di Jakarta dan Bandung, kali ini mengangkat sosok penyair ternama Indonesia, Chairil Anwar dalam pentas teater bertajuk Perempuan Perempuan Chairil. Lakon ini diselenggarakan di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada pukul 20.00 WIB.

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

Titimangsa Foundation adalah yayasan nirlaba yang bergerak di bidang budaya. Didirikan oleh Happy Salma bersama Yulia Evina Bhara pada Oktober 2007. Pada perjalanannya, Happy menjalankan Titimangsa Foundation ditujukan untuk wadah kecintaan Happy terhadap karya sastra, menulis dan berakting. Titimangsa sendiri memiliki arti adalah terjadi pada saat yang tepat. Terbentuknya Titimangsa pun bukan didasarkan ambisi untuk sukses dan target untuk dikenal yang muluk, tetapi lebih karena Titimangsa memang dibutuhkan sebagai sarana untuk dapat berkesenian khususnya mengadaptasi karya sastra Indonesia ke dalam pertunjukan teater. Titimangsa telah menghasilkan beberapa karya pertunjukan maupun literatur yang patut diperhitungkan. Pementasan ‘Perempuan Perempuan Chairil’ kali ini menandai produksi Titimangsa Foundation yang ke-18.

Beberapa kegiatan yang telah Titimangsa laksanakan di antaranya Keliling Sastra 10 SMU di Jakarta (2006), Keliling Sastra di beberapa kota di Indonesia seperti Jogjakarta, Sumbawa, Jepara, Jambi, Kupang, Solo, Semarang, Jakarta dengan tujuan untuk menggelorakan kembali kesukaan anak-anak muda pada sastra (2007 – 2009). Pentas teater ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ yang diadaptasi dari novel ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari yang dipentaskan di Amsterdam, Bern Swiss dan Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (2009), pementasan teater ‘Hanya Salju dan Pisau Batu’ karya Happy Salma dan Pidi Baiq yang dipentaskan di Teater Kecil TIM (2010), pementasan teater ‘Monolog Inggit’ karya penulis naskah Ahda Imran dan sutradara Wawan Sofwan yang diadaptasi dari novel ‘Kuantar ke Gerbang’ karya Ramadhan KH yang dipentaskan beberapa kali di Jakarta dan Bandung (2011 – 2014), teater ‘Wayang Orang Rock Ekalaya’ yang dipentaskan di Tennis Indoor Senayan, Jakarta (2014), parade monolog 8 perempuan bertajuk ‘Aku Perempuan’ yang dipentaskan dalam rangka memperingati Hari Kartini di Galeri Indonesia Kaya (2014), teater ‘Monolog 3 Perempuan’ yang dipentaskan sebagai bentuk apresiasi terhadap sastra Indonesia (Galeri Indonesia Kaya, 2014), pentas teater ‘Kisah 3 Titik’ yang dipentaskan di Jakarta tahun 2016, ‘Sukreni Gadis Bali’ naskah yang diadaptasi dari novel ‘Sukreni Gadis Bali’ karya A.A Pandji Tisna di Jakarta (2016), ‘Bunga Penutup Abad’ yang diadaptasi dari buku ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa’ karya Pramoedya Ananta Toer di Jakarta (2016) dan Bandung (2017) dan ‘Roos von Tjikembang’ yang diadaptasi dari novel ‘Bunga Roos dari Tjikembang’ karya Kwee Tek Hoay pada tahun 2017.

Menyelenggarakan pameran Tulola Jewelry yang bertajuk ‘Pita Loka’ (2013), ‘Tanah Air’ (2014) dan ‘Perempuan dalam Bumi Manusia’ (2015), menerbitkan buku biografi kreatif ‘Desak Nyoman Suarti’, seniman perak dari Bali (2015), memproduksi film pendek ‘Kamis ke-300 (2013) yang pada tahun 2014 mendapatkan kesempatan screening di Belanda dalam ajang CinemAsia Film Festival 2014 dan mendapatkan dukungan dari HIVOS untuk screening di Jakarta, Bandung dan Malang.

Hingga saat ini, Titimangsa Foundation berusaha untuk selalu menjadi rumah bagi para seniman berbakat yang belum memilii akses menuju ruang publik, untuk menampilkan kemampuan dan karyanya kepada masyarakat luas. Tidak hanya itu, Titimangsa Foundation juga mewadahi seniman-seniman populer Indonesia yang tertarik pada pertunjukan teater yang diadaptasi dari karya-karya sastra Indonesia.

Sebagai salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah, Indonesia, PT Djarum memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang turut berperan serta dalam memajukan Bangsa dengan cara meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mempertahankan kelestarian sumber daya alam Indonesia.

Berangkat dari komitmen tersebut, PT Djarum telah melakukan berbagai program dan pemberdayaan sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di masyarakat dan lingkungan selama kurun waktu 60 tahun. Pelaksanaan CSR ini dilaksanakan oleh Djarum Foundation yang didirikan sejak 30 April 1986 dengan misi untuk memajukan Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya melalui 5 bakti, antara lain Bakti Sosial, Bakti Olahraga, Bakti Lingkungan, Bakti Pendidikan dan Bakti Budaya. Semua program dari Djarum Foundation adalah bentuk konsistensi Bakti Pada Negeri, demi terwujudnya kualitas hidup Indonesia di masa depan yang lebih baik dan bermanfaat.

Dalam hal Bakti Budaya Djarum Foundation sejak tahun 1992 konsisten menjaga kelestarian dan kekayaan budaya dengan melakukan pemberdayaan dan mendukung insan budaya di lebih dari 2.500 kegiatan budaya. Beberapa tahun terakhir ini, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan inovasi melalui media digital, memberikan informasi mengenai kekayaan dan keragaman budaya Indonesia melalui sebuah situs interaktif yang dapat diakses oleh masyarakat luas melalui www.indonesiakaya.com, kemudian membangun dan meluncurkan ‘Galeri Indonesia Kaya’ di Grand Indoensia, Jakarta. Ini adalah ruang publik pertama dan satu-satunya di Indonesia yang memadukan konsep edukasi dan multimedia digital untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia agar seluruh masyarakat bisa lebih mudah memperoleh akses mendapatkan informasi dan referensi mengenai kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan dan tanpa dipungut biaya.

Bakti Budaya Djarum Foundation juga melakukan pemberdayaan masyarakat dan rutin memberikan pelatihan membatik kepada para Ibu dan remaja sejak 2011 melalui Galeri Batik Kudus. Hal ini dilatarbelakangi kelangkaan dan penurunan produksi Batik Kudus akibat banyaknya para pembatik yang beralih profesi. Untuk itu, Bakti Budaya Djarum Foundation melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan keterampilan dan keahlian membatik kepada masyarakat Kudus agar tetap hadir sebagai warisan Bangsa Indonesia dan mampu mengikuti perkembangan jaman tanpa menghilangkan ciri khasnya.

Happy Salma, produser Teater Perempuan Perempuan Chairil mengatakan, “Chairil Anwar melalui karya-karyanya merupakan cermin sejarah untuk memaknai apa arti kemerdekaan manusia, juga kemerdekaan sebuah bangsa. Setidaknya esensi itulah yang mendorong saya mewujudkan mimpi mementaskan perjalanan hidup Chairil Anwar. Lewat puisi-puisinya, Chairil Anwar telah mengambil peran yang tak kecil demi memberi tenaga dan makna pada semangat revolusi dan kemerdekaan negeri ini. Chairil Anwar mati muda, tetapi karya-karyanya melampaui jamannya. Ia seakan tak pernah mati. Semangatnya selalu ada dan terus hidup bersama kita.”

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

Pementasan ini terinspirasi dari buku berjudul “Chairil” karya Hasan Aspahani, dari buku itulah Happy Salma dan Aguss Noor selaku sutradara menemukan bentuk dan fokus pemanggungan Chairil. Termasuk biografi Chairil yang berhubungan dengan sejumlah sosok perempuan yang hadir dalam puisinya, menjadi gerbang untuk memasuki dunia Chairil Anwar dengan kegelisahan hidup dan pemikirannya, serta pertaruhan yang dilakukan. Agus Noor mengungkapkan, “Dengan pendekatan biografi puitik ini, penulisan lakon menjadi memiliki fleksibilitas tafsir, karena tak terlalu terbebani untuk menginformasikan sebanyak mungkin fakta-fakta seputar Chairil. Fakta-fakta dirujuk untuk mempertegas adegan, percakapan dan konflik. Pergulatan batin dan kegelisahan Chairil (juga tokoh Ida, Sri, Mirat dan Hapsah) menjadi bisa di eksplorasi menjadi sebuah drama. Karena bagaimana pun, ini adalah pertunjukan teater yang mestilah memiliki bangunan dramatika atau dramaturgi yang diharapkan memikat.”

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

Teater Perempuan Perempuan Chairil akan menampilkan aktor terbaik Indonesia yaitu Reza Rahadian sebagai Chairil Anwar, Marsha Timothy sebagai Ida, Chelsea Islan sebagai Sri Ajati, Tara Basro sebagai Sumirat dan Sita Nursanti sebagai Hapsah Wiriaredja. Dimeriahkan dengan hadirnya pemain pendukung yaitu Sri Qadariatin sebagai Perempuan Malam dan Indrasitas sebagai Affandi. Pementasan ini pun didukung oleh tim kerja yang solid dan profesional yaitu Iskandar Loedin sebagai Pimpinan Artistik; Ricky Lionardi sebagai Penata Musik; Prabudi Hatma Samarta sebagai Penata Video; Retno Ratih Damayanti sebagai Penata Kostum; Yudin Fakhrudin sebagai Penata Rias; White Shoes & the Couples Company sebagai Pengisi Lagu; dan dr. Tompi sebagai Fotografer.

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

“Chairil Anwar adalah sosok penyair legendaris Indonesia yang melahirkan karya-karya fenomenal dan mampu menjadi sumber inspirasi banyak orang. Semangat juang yang tersirat dari karya-karya Chairil Anwar harus terus dikobarkan agar kita selalu berusaha maksimal demi memajukan Indonesia menjadi negara digdaya yang seutuhnya. Pertunjukan ini merupakan bentuk apresiasi terhadap penulis besar Indonesia, serta membuktikan bahwa karya sastra Indonesia tetap aktual dan dapat diangkat melalui kemasa kekinian sehingga lebih mudah diapresiasi oleh masyarakat terutama generasi muda. Kami harap, melalui teater Perempuan Perempuan Chairil, kita lebih mengenal sosok Chairil Anwar dan kisah dibalik puisi-puisi ciptaanya,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Lakon ini tersaji dalam empat babak, yang menggambarkan hubungan Chairil dengan empat perempuan yakni Ida, Sri, Mirat dan Hapsah. Empat perempuan istimewa, mereka menggambarkan sosok perempuan pada jaman itu. Ida Nasution adalah mahasiswi, penulis yang hebat, pemikir kritis dan bisa menyaingi intelektualisme Chairil ketika mereka berdebat. Sri Ajati, juga seorang mahasiswi, bergerak di tengah pemuda-pemuda hebat pada zamannya. Ikut main teater, jadi model lukisan, gadis ningrat yang tak membeda-bedakan kawan. Sumirat, juga seorang yang terdidik yang lincah. Tahu benar bagaimana menikmati keadaan, mengagumi keluasan pandangan Chairil, menerima dan membalas cinta Chairil dengan sama besarnya tapi akhirnya cinta itu kandas. Lalu akhirnya Chairil disadarkan oleh Hapsah, bahwa dia adalah lelaki biasa. Perempuan yang memberi anak pada Chairil ini begitu berani mengambil risiko mencintai Chairil karena tahu lelaki itu akhirnya akan berubah, meskipun itu terlambat, tapi ia tahu Chairil menyadari bahwa Hapsah benar. Empat perempuan yang tak sama, empat cerita yang berbeda. Tanpa mengecilkan arti dan peran perempuan lain, tapi lewat cerita empat perempuan ini kita bisa mengenal sosok Chairil juga dunia yang hendak ia jadikan, serta zaman yang menghidupi dan dihidupinya.

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

perempuan perempuan chairil | Theater

Foto: IMAGE DYNAMICS

Pertunjukan ini turut didukung oleh berbagai pihak yang memberikan perhatian penuh yaitu Bakti Budaya Djarum Foundation, Wahana Kreator – Plot Point, Sariayu Martha Tilaar, Herbana, Teh Botol Sosro, Double Tree by Hilton Jakarta – Diponegoro, Antangin Mint, Arkaan Property Construction Designer, DSS, Almond Tree, Blibli.com serta media partner Bens Radio, Sonora FM, Smart FM dan Motion FM.

I'm a writer from wanita.me