Culture

Teresa Teng, Sang Diva Asia dari Taiwan

By  | 

Di tahun 1970-1980’an, suara merdu Teresa Teng sangat populer menghibur jagad Asia. Selain vokalnya yang berkualitas, Teresa Teng menguasai tujuh bahasa; Hokian, Canton, Vietnam, Mandarin, Jepang, Inggris dan Indonesia. Di Indonesia, Teresa dikenal melalui lagu Dayung Sampan, Sekuntum Mawar Merah dan Selamat Jalan Kekasih. Lagu-lagunya yang dikenal hingga sejagad Asia membuat Teresa diberi gelar Diva Asia. Atas capaian Teresa tersebut, hari ini Google mengapresiasi Teresa Teng pada Google Doodle-nya.

Culture | Profile

Foto: Ist

Teresa Teng lahir di Taiwan hari ini pada tahun 1953 di Taiwan. Beberapa media dan literatur mencatat namanya sebagai Teresa Deng, Teresa Tang dan Deng Li-jun. Pada awal karirnya, Teresa hanya dikenal di Asia Timur atau komunitas masyarakat berbahasa Mandarin. Penguasaan beberapa bahasa asingnya yang lumayan mumpuni kemudian diaplikasikan ke dalam lagu-lagu yang dibawakannya yang juga kemudian membawanya melanglang buana hingga ke Eropa.

Uniknya, meskipun pernah beberapa kali manggung di negara Eropa seperti Perancis, Teresa belum pernah sekalipun manggung di Tiongkok. Pada tahun 1980’an, lagu-lagu Teresa sempat dicekal di Tiongkok untuk alasan politis. Walau bagaimanapun, tetap saja pada masa itu popularitas dan suara merdu Teresa tetap dicari di Tiongkok hingga rekaman bajakan Teresa mudah sekali ditemukan di Tiongkok. Pada tahun 1990’an Partai Komunis Tiongkok pernah mengundangnya untuk mengisi sebuah acara, akan tetapi Teresa tidak memenuhi undangan tersebut.

Teresa Teng meninggal di Chiang Mai, Thailand, pada pada 8 Mei 1995 karena serangan asma. Teresa pergi ke Thailand untuk berlibur. Kematiannya yang mendadak tersebut kemudian membuat beberapa rekannya berasumsi Teresa meninggal akibat overdosis obat-obatan terlarang. Terlepas dari berita miring yang beredar, jenazah Teresa disambut di negaranya bak seorang pahlawan. Peti matinya diselubungi bendera Taiwan dan pemakamannya dihadiri oleh Lee Teng-hui, presiden Taiwan saat itu.

Culture | Profile

Foto: Ist

Makam Teresa Teng hingga saat ini masih sering diziarahi oleh para penggemarnya. Makam yang terletak di sebuah kaki gunung di daerah Chin Pao San dihiasi oleh patung Teresa dengan pakaian pertunjukannya. Di kompleks pemakaman tersebut juga dibuat piano elektronik raksasa di mana para peziarah dapat memainkannnya dengan cara menginjak balok-balok piano.

Untuk mengenang karya dan kiprah Teresa di dunia seni, keluarga Teresa membangun museum yang dibiayai dari hasil penjualan rumah peninggalannya di Hongkong seharga HK$32 juta. Sayangnya, baru-baru ini diberitakan harian Sin Chew bahwa beberapa memorabilia Teresa Teng ditemukan tergeletak di pinggir jalan karena masalah kontrak antara manajemen gedung dengan keluarga Teresa. Saudara kandung Teresa, Chang-an, mengungkapkan bahwa masalah tersebut akan segera diselesaikan. Upaya untuk mengenang Teresa masih terus dilakukan oleh keluarga dan para penggemarnya. Museum patung lilin ternama Madame Tussauds di Hongkong juga turut menghormati kiprah Teresa Tang dengan membuat patung lilinnya.

Recommend0 recommendationsPublished in Culture, Profile

~ Muggle Writer & Half-blood Musician ~