Family

Aborsi, Hukum dan Dampaknya

By  | 

Murung, depresi, merasa dihantui rasa bersalah, dan tidak dapat lagi menikmati hubungan seksual merupakan sebagian kecil dari deretan panjang efek aborsi. Meskipun aborsi atau abortus bisa dilakukan secara legal dengan alasan kesehatan, tapi sebagai seorang wanita pengalaman tersebut tentu menjadi kenangan yang traumatis.

Saat melakukan aborsi legal maka akan ada tim dokter profesional yang melakukannya, belum lagi pendampingan perawat-perawat handal, bahkan psikolog jika diperlukan. Prosedur aborsi secara legal dilakukan dengan prosedur yang sudah teruji aman dan dilakukan untuk kebaikan si ibu. Namun, banyak orang yang melakukan abortus ilegal dengan beragam cara, mulai dari aneka obat-obatan yang tidak jelas kandungannya, prosedur kuret di klinik gelap, pemijatan oleh oknum dukun pijat, dan banyak cara mengerikan lainnya yang tentu membahayakan bagi sang ibu.

Family | family education

Foto : Ist

Abortus memang dapat dibenarkan secara medis dan hukum yang berlaku di Indonesia jika didasari dengan alasan medis yang tepat. Namun jangan lupa, abortus juga memiliki dampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental seorang wanita. Di antara sekian banyak dampaknya, kematian mendadak karena pendarahan hebat masih menduduki peringkat pertama, terutama bagi mereka yang melakukan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan standart medis. Meskipun sudah ditangani oleh dokter, namun kondisi tubuh seseorang berbeda sehingga risiko kematian ibu akibat pendarahan tetap ada.

Dalam jangka pendek, abortus dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat, kebocoran uterus, dan kerusakan rahim. Sedangkan risiko jangka panjang yang dapat disebabkan oleh abortus ilegal adalah infertilitas, risiko keguguran pada kehamilan berikutnya, risiko kelahiran prematur, dan dapat menyebabkan  tidak seimbangannya hormon. Aborsi juga diketahui dapat memicu terjadinya kanker jika tidak dilakukan secara benar sesuai standart kesehatan. Secara psikologis, abortus dapat menyebabkan perasaan bersalah yang mengakibatkan seseorang ingin bunuh diri atau mengalami ketakutan yang berkepanjangan.

Di Indonesia tindakan aborsi ilegal dikategorikan sebagai tindakan kriminal berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), yaitu pasal 299, 341, 342, 343, 346, 347, 348, dan 349. Menurut KUHP, abortus merupakan Pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadium/tahapan perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu). Aborsi juga berarti pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan (berat kurang dari 500 gram atau kurang dari 20 minggu).

Familly | family education

Foto : Ist

Hukum aborsi di berbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut:

  • Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus, seperti di Belanda.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu), seperti di Perancis dan Pakistan.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik, seperti di Kanada, Muangthai dan Swiss.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosio-medik, seperti di Eslandia, Swedia, Inggris, Scandinavia, dan India.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial, seperti di Jepang, Polandia, dan Yugoslavia.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan tanpa memperhatikan indikasi-indikasi lainnya (Abortion on requst atau Abortion on demand), seperti di Bulgaris, Hongaria, dan Singapura.
  • Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi eugenistis (aborsi boleh dilakukan bila fetus yang akan lahir menderita cacat yang serius) misalnya di India.
  • Hukum yang memperbolehkan aborsi atas indikasi humanitarian (misalnya bila hamil akibat perkosaan) seperti di Jepang.

Terlepas dari kenyataan bahwa aborsi dapat dibenarkan secara medis, namun ada banyak hal yang juga harus dipikirkan secara matang bagi para wanita sebelum memutuskan untuk melakukan aborsi. Sudah selayaknya aborsi diberi aturan yang ketat mengingat dampak dan risikonya secara jangka pendek maupun jangka panjang sangat banyak dan mengerikan.

a mother, writer, author and entrepreneur.