Family

3 Aspek Keluarga Berkualitas

By  | 

Keluarga adalah segalanya. Begitulah kira-kira ungkapan ideal dalam hidup. Sayangnya di era modern ini, tingginya angka perceraian hingga aksi kriminal yang melibatkan perselisihan internal keluarga tidak mencerminkan idealisme ungkapan tersebut. Adakah hubungan antara tuntutan perkembangan zaman dengan menurunnya kualitas kehidupan sebuah keluarga? Banyak studi yang meneliti hal tersebut, akan tetapi pada dasarnya berkeluarga adalah aktivitas tradisional yang telah dilakukan oleh manusia dari masa ke masa sehingga terdapat beberapa aspek dasar yang perlu terus diperhatikan.

Kristina Scharp, seorang psikolog dari Utah State University di Amerika Serikat, menyorot relasi dalam struktur keluarga dan menghasilkan penelitian tentang family estrangement (keluarga terasing). Family estrangement adalah hubungan antar keluarga yang relasi satu sama lainnya saling terasing atau bahkan terputus. Penelitian tersebut juga merekomendasikan beberapa aspek penting untuk membangun hubungan internal keluarga yang berkualitas.

Memahami Hak dan Kewajiban Dasar

family | family education

Foto : Ist

Struktur inti keluarga adalah orang tua dan anak. Hubungan dalam struktur inti tersebut akan menentukan kualitas keluarga. Kewajiban dasar orang tua dalam struktur inti ini adalah mendidik dan menjamin kesejahteraan anak. Kewajiban dasar tersebut sebenarnya sangat tradisional. Mendidik anak dalam lingkup ini bukan hanya dalam hal mengeluarkan materi untuk pendidikan formal (sekolah dasar hingga universitas). Pendidikan yang dimaksud adalah menyiapkan anak dalam bersosialiasi dan berperilaku dalam menyikapi pergaulan, permasalahan dan kehidupan pada masa yang akan datang (dewasa, menikah dan memiliki keluarga baru). Nilai-nilai dasar seperti memaafkan, berbagi, empati hingga menabung adalah nilai yang perlu ditanamkan pada anak sebagai modal dasarnya untuk menghadapi kehidupan.

Kewajiban dasar lainnya adalah menjamin kesejahteraan anak. Kesejahteraan dalam hal ini bukan hanya mencakup kesejahteraan material seperti kecukupan gizi, pakaian yang bagus dan tempat tinggal yang layak. Orang tua juga perlu menjamin kesejahteraan emosional sang buah hati. Kasih sayang dan perhatian menjadi hal utama dalam lingkup ini. Jangan salah, meskipun terdengar sepele, kasih sayang dan perhatian dalam bentuk relasi fisik di era modern ini sudah mulai kurang diaplikasikan karena telah dimediasi oleh aktivitas material seperti membiarkan anak bermain gadget supaya anteng. Kasih sayang dan perhatian dalam bentuk relasi fisik seperti mengobrol, anak mencium tangan ke orang tua, memeluk anak ketika sedang menangis, menanyakan dan mendiskusikan aktivitas keseharian anak dapat dilakukan untuk membangun kesejahteraan emosional anak.

Kualitas dan Kuantitas Komunikasi

Family | family education

Foto : Ist

Komunikasi yang berkualitas selalulah penuh arti (meaningful) yang setidaknya akan meninggalkan kesan mendalam terhadap sesama pelakunya. Dalam penelitiannya, Kristina Scharp mengemukakan bahwa rasa saling terasing antar anggota keluarga dapat diidentifikasi dari cara komunikasinya. Sebagai contoh, beberapa orang tua yang menjadi responden dalam penelitiannya biasanya hanya suka membicarakan hal tertentu (contoh: menggosip hingga politik dan ekonomi) dan ketika dikroscek kepada sang anak, ternyata hal tersebutlah yang membuat anak memilih tidak tinggal serumah. Hilangnya meaningful contact antara orang tua dan anak merupakan salah satu hal yang memicu rasa saling terasing (estrangement) sesama anggota keluarga.

Kuantitas komunikasi kemudian perlu diperhatikan apabila anak meninggalkan rumah (bersekolah dan bermain keluar rumah) atau bahkan ketika dewasa dan tidak lagi tinggal serumah (hidup mandiri dan menikah). Dalam konteks modern, keluarga haruslah termasuk dalam lingkup jaringan sosial (social network). Ketika anak meninggalkan rumah, jaringan sosialnya akan semakin meluas dan proses pengasingan keluarga mulai terjadi pada titik ini karena keluarga menjadi asing (alien) yang berada di luar jaringan sosialnya. Kuantitas komunikasi yang menentukan masuk atau tidaknya keluarga dalam jaringan sosial anak. Dalam hal ini, jalur komunikasi terhadap anak dalam segala hal harus terus dipelihara dan dijaga.

Rekonsiliasi dan Solusi

Family | family education

Foto : Ist

Aspek keluarga berkualitas yang terakhir adalah keluarga yang terlatih dan terbiasa untuk menemukan solusi atas suatu masalah dan berekonsiliasi dengannya (memaafkan dan melupakan) sehingga tidak menjadi beban di masa yang akan datang. Salah satu cara untuk melatih aspek ini adalah dengan tidak menjadi penilai moral (judgmental) terhadap suatu masalah. Kristina menemukan beberapa responden anak dalam penelitiannya merasa enggan terbuka terhadap orang tuanya karena mereka cenderung terlalu menilai dan menyalahkan dalam menyikapi suatu masalah.

Dalam aspek ini dan sekali lagi dalam konteks modern, anak dapat menemukan panutan di mana-mana. Anak dapat menemukan banyak motivator atau kutipan-kutipan motivasi di internet dan menggunakannya sebagai solusi suatu masalah. Orang tua perlu mengimbangi hal tersebut. Menjadi panutan dan teladan adalah salah satu kewajiban orang tua. Rekonsiliasi dan solusi dari suatu masalah lebih baik dibahas dan terjawab di rumah. Salah satu kesimpulan Kristina dalam penelitiannya adalah bahwa rasa saling hormat merupakan cara mengidentifikasi kualitas keluarga dan biasanya rasa hormat terbangun dalam cara suatu keluarga mendiskusikan dan mencari solusi atas permasalahan yang ada.