Family

Anak Balita Anda Suka Berbohong? Simak Fakta Menarik dan Tipsnya

By  | 

Seringkali orang tua kesal dan marah pada perilaku anak balita yang suka berbohong. Pertanyaan interogatif seperti, “Siapa yang menumpahkan air?” atau “Siapa yang mencorat-coret tembok?” umumnya terdengar dari orang tua kepada anak balitanya. Jawaban-jawaban bohong yang keluar dari mulut sang buah hati tentu membuat orang tua berpikir, selain marah. Belum genap lima tahun, tapi sudah pandai berbohong.

Foto: Ist

Jangan khawatir, beberapa penelitian membuktikan bahwa anak balita yang suka berbohong menunjukkan tanda-tanda peningkatan intelejensia. Michael Lewis, seorang psikolog perkembangan anak dari Rutgers University di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa anak mulai mengenal konsep ‘bohong’ sejak umur 2 tahun. Eksperimen yang dilakukan Michael adalah dengan menginstruksikan anak-anak untuk menutup matanya dan tidak mengintip ketika akan diberikan mainan dan setelahnya Michael akan memberikan tes IQ untuk anak-anak. Temuan konsisten dari eksperimen tersebut adalah bahwa hampir 80% anak yang diteliti ternyata melanggar instruksi dan mengintip. Selain itu, seluruh anak yang mengintip ternyata memiliki IQ yang lebih tinggi dari 20% anak yang tidak mengintip. Meskipun, Michael juga mengungkapkan bahwa dari 20% anak yang tidak mengintip terdapat 1 hingga 2 anak yang IQ-nya di atas rata-rata, akan tetapi jarang sekali terjadi.

Penelitian lain yang dilakukan oleh psikolog Kang Lee dan Victoria Talwar dari Queen’s University di Belfast pada murid Taman Kanak-kanak (TK) menunjukkan hal yang sama. Lee dan Victoria membandingkan dua TK di Afrika Barat, di mana TK pertama menghukum kebohongan dengan hukuman fisik (berlari kecil keliling lapangan hingga menyanyi di depan kelas) dan TK yang kedua menghukum secara verbal (dinasehati atau disuruh menghadap kepala sekolah). Hukuman fisik dalam hal ini dianggap hukuman terberat. Temuan penelitian ini adalah bahwa para murid di TK yang pertama memiliki prestasi yang lebih baik daripada di TK yang kedua. Uniknya, hukuman yang berbeda di kedua TK tersebut tidak membuat murid-muridnya berhenti berbohong.

Foto: Ist

Lalu apabila kedua penelitian di atas telah membuktikan bahwa kebohongan pada anak berhubungan dengan tingkat kecerdasan, apakah orang tua harus membiarkannya? Hal pertama yang secara bijak dapat disimpulkan dari kedua penelitian tersebut adalah bahwa normal bagi anak-anak untuk berbohong, karena hal tersebut bersifat naluriah (instinctive) dan tidak berdasarkan pertimbangan moral. Kedua, kecerdasan pada anak yang berbohong menunjukkan pola pikir anak yang terstruktur ketika sedang menghadapi masalah (takut dimarahi dianggap sebagai masalah yang setara dengan tes IQ yang diberikan pada eksperimen sehingga mudah untuk memecahkannya).

Selain itu, sebagian besar masalah kebohongan anak sebenarnya terletak pada orang tua. Menurut Jon Lasser, profesor ilmu psikologi di Texas State University, orang tua cenderung mengharapkan anak untuk berpikir dewasa ketika dihadapkan dengan masalah kebohongan. ‘Dewasa’ yang dimaksud Jon dalam hal ini berkaitan dengan konsep moralitas. Anak terlatih secara naluriah berdasarkan pengalaman untuk menghindari masalah dan berbohong adalah salah satu solusi naluriah yang dimiliki anak untuk menghindarinya. Moralitas adalah konsep yang tidak akan bisa dicerna oleh anak balita. Anak berumur 7-9 tahun pun masih sulit mencernanya meskipun sudah mulai mengenal konsep moralitas melalui pelajaran sekolah dasar. Apabila konsep moralitas mengenai kebohongan mudah diajarkan, seharusnya kisah Pinokio bisa memberantas aksi bohong anak bukan?

Foto: Ist

Sebagai tindak lanjut penelitiannya, berikut beberapa tips dari Profesor Jon Lasser untuk mencegah anak berbohong:

Pernyataan Lebih Baik Daripada Pertanyaan

Sebagai contoh, ketika anak berbohong mengenai memakan kue yang dilarang untuk dimakan, maka jangan tanyakan, “Kamu memakan kuenya ya?” lebih baik nyatakan “Karena kamu memakan kuenya, berarti sudah cukup ya makanan manis untuk hari ini.” Pertanyaan justru menjerumuskan anak untuk berbohong, sementara pernyataan tidak menempatkan anak pada posisi terancam sehingga anak tidak perlu berbohong. Pernyataan menunjukkan posisi orang tua sebagai pemimpin yang berwibawa atau pemegang struktur yang lebih tinggi dalam keluarga, sedangkan pertanyaan memberikan anak daya tawar dalam struktur keluarga dan membuatnya mempertanyakan kewibawaan orang tua di kemudian hari.

Pahami Masalah dari Perspektif Anak

Pahamilah masalah kebohongan dari sudut pandang anak. Sebagai contoh, apabila anak berbohong telah menyikat gigi sebelum tidur, mungkin saja dia sangat lelah setelah beraktivitas atau mungkin tidak menyukai sikat gigi atau pasta giginya. Ketika orang tua mengetahui anak berbohong mengenai hal tersebut, tawarkanlah ritual yang baru seperti, “Ayo sikat gigi bersama Mama,” atau “Ini ada pasta gigi rasa baru loh, kita coba yuk,” atau bahkan dengan pernyataan yang bersifat empati, “Mungkin semalam kamu lupa sikat gigi karena kelelahan.” Dalam konteks ini, orang tua pada dasarnya memiliki pengalaman yang mumpuni mengenai masalah anak. Mengapa? Karena orang tua pernah menjadi anak-anak sehingga menyelami perspektif anak seharusnya tidaklah sulit.

Recommend0 recommendationsPublished in Family, Family Education

~ Muggle Writer & Half-blood Musician ~