Culture

‘Goldilocks Syndrome’, Kendala Umum Wirausaha Pemula

By  | 

Dunia wirausaha mengenal sebuah istilah yang merupakan kendala umum para pengusaha dalam membangun brand dan produknya. Istilah tersebut dinamakan Goldilocks Syndrome. Nama Goldilocks berasal dari dongeng anak yang menceritakan seorang anak perempuan yang masuk ke rumah tiga beruang dan ingin memasak bubur yang panas, dingin sekaligus suhu yang ‘pas’ dalam satu panci. Hasrat Goldilocks sangat umum ditemukan pada pengusaha pemula. Walau demikian, banyak juga pengusaha senior yang jatuh akibat terjerumus sindrom tersebut.

Culture | Entrepreneur

Foto: Ist

Doug dan Polly White, pasangan pengusaha dan konsultan yang juga kontributor media Entrepreneur, dalam artikelnya (27/03) mengungkapkan bahwa pengusaha pemula cenderung memiliki dua kelebihan yang dapat menjadi bumerang. Pertama, fokus bisnis yang terlalu sempit. Kedua, sebaliknya, fokus bisnis yang terlalu luas. Sementara tantangan terbesar bagi seluruh lapisan pengusaha adalah mendapatkan ‘ramuan yang tepat’.

Menurut pengalaman Doug dan Polly, sangatlah wajar bagi bisnis start-up memiliki fokus bisnis terlampau luas. Biasanya hal tersebut dimotivasi oleh keinginan untuk menggandakan keuntungan dan kemudian mengembangkan usahanya. Sayangnya, apabila tidak dilaksanakan dengan perhitungan dan strategi yang matang, hal tersebut akan membuat arah product branding menjadi bias atau bahkan tidak berkembang sama sekali. Dunia bisnis dan marketing menamakannya sebagai brand schizophrenia.

Salah satu tips yang diberikan Doug dan Polly untuk menanggulangi Goldilocks Syndrome adalah memastikan bahwa anda memiliki jawaban dari satu pertanyaan besar setiap pengusaha sukses, “Mengapa pelanggan memilih saya daripada kompetitor lain?” Artinya, anda harus memiliki nilai unik dan spesifik yang tidak ditawarkan oleh kompetitor anda. Pada nilai-nilai tersebutlah ‘ramuan yang pas’ dapat ditemukan. Masih dalam konteks tersebut, Doug dan Polly menerangkan juga bahwa anda harus dapat mengelaborasikan ide-ide bisnis yang membedakan anda dari kompetitor secara lisan. Hal tersebut sangat diperlukan ketika anda bertatap muka dengan calon klien potensial. Masa iya, setiap klien harus membaca profil bisnis anda dari website dan brosur?

Culture | Entrepreneur

Foto: Ist

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan Doug dan Polly adalah, “Apakah ada segmen pasar yang ingin membeli produk saya yang beda dan unik ini? Apabila ada, cukupkah jumlah mereka untuk menopang bisnis ini untuk bertahan?” Apabila jawaban keduanya adalah “Ya”, maka anda berada di jalur yang benar. Sebaliknya, apabila salah satu atau bahkan keduanya “Tidak”, maka berhentilah sejenak untuk kembali memikirkan strategi bisnis yang lain. pengusaha pemula sangat rentan terkena perangkap Goldilocks. Sejauh ini, pertanyaan-pertanyaan di atas sangat efektif bagi Doug dan Polly dalam membina pengusaha-pengusaha pemula.

~ Muggle Writer & Half-blood Musician ~