Culture

Uniknya Peringatan Isra’ Mi’raj di Berbagai Daerah

By  | 

Isra’ Mi’raj diperingati secara meriah di berbagai daerah. Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsha pada malam hari. Perjalanan kedua hanya dilakukan nabi dalam waktu satu malam saja, yaitu naiknya nabi ke langit dan bertemu Allah kemudian kembali lagi ke bumi. Peristiwa ini sangat penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah nabi mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.

Allah telah berfirman, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” (QS. Al-Isra : 1)

Seiring dengan pergantian abad, terjadi pergeseran peristiwa Isra’ Mi’raj menjadi sebuah peringatan. Isra’ Mi’raj pada umumnya diperingati pada tanggal 27 Rajab. Beberapa negara dengan mayoritas umat Muslim merayakan dengan menghias kota dengan lampu dan lilin. Umat Islam berkumpul di masjid untuk melaksanakan sholat berjamaah serta mendengarkan khutbah mengenai Isra’ Mi’raj.

Begitu pula di Indonesia, perayaan Isra’ Mi’raj dilakukan umat Muslim dengan berbagai tradisi yang unik. Tradisi ini diyakini akan membawa berkah bagi masyarakat sekitar yang mengikuti prosesi acara. Peringatan Isra’ Mi’raj diberbagai daerah di Indonesia,

antara lain :

1. Rajaban di Cirebon

Masyarakat Cirebon memperingati Isra’ Mi’raj dengan menyebutnya sebagai Rajaban. Pada tanggal 27 Rajab dalam kalender Hijriah, masyarakat Cirebon berbondong-bondong berziarah ke Plango. Di tempat ini terdapat dua makam penyebar ajaran agama Islam, yaitu Pangeran Kejaksan dan Pangeran Panjunan.

Selain itu tradisi Rajaban juga digelar di Keraton Kasepuhan Cirebon. Pihak keraton menggelar pengajian untuk umum dan membagikan nasi bogana kepada warga keraton, kaum masjid, abdi dalem dan masyarakat sekitar. Nasi bogana terdiri dari kentang, telur ayam, tempe, tahu, parutan kelapa dan bumbu kuning yang dijadikan satu.

Culture | opinion

Foto : Ist

2. Rejeban Peksi Buraq atau Gunungan di Yogyakarta

Yogyakarta selalu memegang tradisi Jawa yang sudah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu. Tradisi ini dilakukan dengan membuat dua burung Buraq dari kulit jeruk bali sebagai simbol kendaraan Nabi Muhammad. Kulit jeruk ini dibawa abdi dalem Kaji Selusin dari Bangsal Kencana Kraton Yogyakarta menuju Serambi Masjid Gede Kauman.

Burung Buraq ini diletakkan di atas susunan gunungan buah yang terdiri dari manggis, rambutan, salak dan ada juga tebu. Gunungan buah ini nanti akan dibagikan kepada para jamaah masjid setelah pengajian. Tradisi gunungan ini tidak hanya dilaksanakan di Yogyakarta saja, namun beberapa kota lain di sekitarnya juga menyelenggarakan acara yang sama.

Culture | opinion

Foto : Ist

3. Nganggung di Bangka Belitung

Tradisi Nganggung dalam menyambut hari Isra’ Mi’raj ini dilaksanakan di Kampung Bukit, Kelurahan Toboali, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung. Tradisi ini dilakukan dengan membawa makanan dari rumah masing-masing dengan menggunakan dulang atau rantang yang berisi kue, buah-buahan atau nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Tradisi ini biasanya juga dilaksanakan warga desa lain di Bangka Selatan.

4. Kerja Tahun di Sumatera Utara
Peringatan Isra’ Mi’raj yang unik juga dilakukan masyarakat Karo. Peringatan ini semacam pesta panen yang dilakukan orang desa sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah Tuhan. Waktu penyelenggaraan Kerja Tahun ini berbeda-beda di setiap desa, namun biasanya dirayakan menjelang Isra’ Mi’raj.

5. Nyadran Desa di Siwarak Semarang
Tradisi Nyadran Desa atau Haul Umum diselenggarakan di Siwarak untuk memperingati Isra’ Mi’raj. Acara Nyadranan diadakan dengan melakukan kirab budaya, mengarak replika hewan badak Siwarak, gunungan berupa buah dan sayur yang diambil dari hasil pertanian penduduk, alat musik lesung, permainan tradisional thek thek serta pawai drum band dan kelompok tani.

Pawai yang dilaksanakan pada pagi hari ini menampilkan berbagai atraksi. Warga menonton pawai dengan menunggu di depan rumahnya masing-masing. Setelah kirab selesai, peserta menampilkan pencak silat dan tarian di tengah lingkaran. Kemudian peserta membawakan cerita awal mula daerah itu diberi nama kampung Siwarak.

Sebenarnya masih banyak lagi tradisi unik lain yang diselenggarakan masyarakat dalam menyambut Isra’ Mi’raj. Tradisi ini biasanya disesuaikan dengan adat masing-masing daerah. Bagaimana dengan tradisi menyambut Isra’ Mi’raj di kotamu?

Writer on Wanita.me