Culture

Porsi Istri Menggugat Cerai dalam Perspektif Islam, Bolehkah?

By  | 

Berita perceraian hampir selalu mewarnai dunia pertelevisian kita. Terutama bila yang sedang menjadi sorotan adalah public figure, terutama selebritis tanah air. Baru-baru ini komedian kondang, Entis Sutisna atau yang lebih akrab disapa Sule, dikabarkan tengah menjadi pembicaraan panas di berbagai media. Pasalnya ayah dari penyanyi muda berbakat, Rizky Febian, itu sedang di gugat cerai oleh sang istri. Sontak berita ini menjadi viral dalam sekejap, karena selama ini tidak pernah terdengar kabar buruk mengenai kisruh rumah tangganya. Mengenai simpang siur perceraian yang menimpa rumah tangga rekan duet Andre Taulany dalam acara talkshow, Ini Talkshow yang tayang setiap hari di Net.TV itu memang masih bergulir. Namun masalah gugatan cerai dari seorang istri kepada suami mungkin perlu diketahui bagaimana posisi dan hukumnya dalam Islam secara jelas.

Culture|Opinion

Foto : Ist

Lantas bagaimana sebenarnya porsi seorang istri yang menggugat suami untuk bercerai dalam perspektif Islam?

Islam sendiri merupakan agama yang senantiasa menganjurkan umatnya untuk membina hubungan suami istri yang baik sehingga menimbulkan kasih sayang diantara keduanya. Namun terkadang permasalahan muncul dalam rumah tangga dan membuat hubungan yang dibangun dalam pernikahan itu retak. Dan zaman sekarang sangat sering terdengar, istri menggugat cerai suaminya ke pengadilan agama.

Dalam Islam perceraian merupakan sesuatu yang diperbolehkan, namun dibenci oleh Allah SWT. Meskipun keputusan cerai tetap berada dalam tangan suami, namun Islam mengatur hak yang sama dalam menyelesaikan permasalahan. Namun, hakim dapat memaksa suami untuk menjatuhkan talak atau cerai melalui pengadilan.

Culture|Opinion

Foto : Ist

Gugatan cerai dalam Islam memiliki dua makna, yakni fasakh dan khulu’. Gugatan cerai dengan fasakh yakni melepaskan ikatan pernikahan antara suami istri dan istri tidak berkewajiban mengembalikan maharnya kembali suami. Sementara gugatan cerai dengan cara khulu’ ialah ketika seorang istri menggugat cerai terhadap suami dan ia berkewajiban mengembalikan mahar pernikahan atau sejumlah harta. Dengan kata lain, khulu’ merupakan talak tebus. Istri ‘menebus’ gugatan talak-nya dengan memberikan sejumlah tebusan kepada suami melalui pengadilan.

Dengan adanya sistem gugatan cerai yang boleh diajukan seorang istri terhadap suami, namun Islam tidak memudahkan begitu saja. Ada syarat dan ketentuan yang berlaku dalam syariat Islam dan harus dipenuhi jika memang ‘terpaksa’ seorang istri menggugat cerai suaminya. Syarat-syarat tersebut sesuai dengan hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari, yakni apabila:

  1. Seorang istri takut berbuat dosa terhadap suaminya lantaran fisik suami yang tidak disukai meskipun sang suami mempunyai perilaku yang baik.
  2. Suami yang tidak mencintai istrinya secara jelas namun ia tidak mau menceraikannya, sehingga istri tidak bahagia dengan pernikahan mereka.
  3. Terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga, meliputi kekerasan fisik dan verbal.
  4. Suami tidak menjalankan kewajiban agama, misalnya meninggalkan ibadah dan melakukan perzinaan.
  5. Istri tidak diberikan nafkah lahir dan batin.
  6. Istri yang ditinggalkan tanpa kabar berita dalam waktu yang lama.
Culture|Opinion

Foto : Ist

Demikianlah porsi seorang istri jika ingin melakukan gugatan cerai terhadap suami dalam hukum Islam. Meskipun demikian, diharapkan para istri untuk senantiasa bersabar menghadapi permasalahan rumah tangga. Sebab menghormati suami sebagai imam dalam sebuah pernikahan juga merupakan kewajiban. Sesuai dengan Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an,…“Arrijaalu qawwamuuna ‘alannisa”…(pria adalah pemimpin bagi wanita).

penulis di wanita.me