Indonesia memiliki ragam seni rupa yang mendunia. Para maestronya dikenal sebagai pelopor di tanah air yang karya-karyanya dikenal dalam skala internasional. Beberapa di antara mereka adalah S. Sudjojono, Basoeki Abdullah dan Affandi Kusuma. Walaupun mereka telah meninggal dunia, karya-karya mereka masih dapat dinikmati di museum-museum seni rupa. Nama-nama para maestro tersebut bahkan disematkan sebagai nama museumnya. Berikut adalah tiga museum maestro seni rupa Indonesia yang selain berguna bagi para pegiat seni, juga dapat dijadikan spot wisata budaya dan edukasi.

 

Museum Sindoedarsono Sudjojono

Maestro seni rupa yang secara populer dikenal dengan nama S. Sudjojono ini lahir di Kisaran, Sumatera Utara, pada tanggal 14 Desember 1913. Beliau dikenal sebagai Bapak Seni Rupa Modern Indonesia. Gelar tersebut merupakan cerminan dari karya-karyanya di mana beliau memperkenalkan konteks modernitas dan faktual dalam lukisan-lukisannya. Sudjojono juga dikenal pelopor kritik seni rupa Indonesia. Sebelum masa kemerdekaan, lukisan Sudjojono banyak bertemakan perjuangan rakyat melawan penjajah. Setelah kemerdekaan, lukisannya lebih berkutat pada pemandangan alam, aktivitas keseharian masyarakat dan kebudayaan.

Culture | Art
Foto: Ist

Karya-karya Sudjojono hingga kini telah tersebar di seluruh dunia. Tempat pelelangan barang-barang seni di Singapura, Hongkong dan Eropa pernah melelangkan karya-karyanya. Salah satu karyanya “Pasukan Kita yang Dipimpin Pangeran Diponegoro” merupakan salah satu yang termahal, yaitu seharga kurang lebih Rp. 85 milyar. Pada tahun 1985, S. Sudjojono meninggal dunia di Jakarta. Untuk mengapresiasi dan mengabadikan karya-karya Sudjojono, pada tahun 1989 dibangunlah Museum S. Sudjojono yang diresmikan oleh Menteri Sosial pada saat itu, Prof. Dr. Haryati Soebadio. Museum S. Sudjojono beralamat di Jl. Raya Pasar Minggu Km 18 Jakarta Selatan.

 

Museum Basoeki Abdullah

Basoeki Abdullah dikenal sebagai pelukis beraliran realis dan naturalis. Pelukis yang lahir di Surakarta pada tanggal 25 Januari 1915 ini merupakan pelukis yang cukup dekat dengan lingkungan Istana Negara. Beberapa karyanya menghiasi Istana Negara dan Istana Kepresidenan Indonesia. Pada tahun 1948, Basoeki Abdullah melukis Ratu Belanda, Juliana, yang kini menjadi koleksi Istana Kerajaan Belanda. Di masa aktifnya sebagai pelukis, Basoeki Abdullah sempat bermukim di Eropa dan bertemu dengan pelukis-pelukis kelas dunia.

Culture | Art
Foto: Ist

Basoeki Abdullah meninggal pada tahun 1993. Atas wasiatnya kepada keluarga untuk menghibahkan rumah, karya dan koleksi pribadinya kepada Pemerintah, pada tahun 1998 dimulailah rencana renovasi rumahnya untuk dijadikan museum. Pada tanggal 25 September 2001, Museum Basoeki Abdullah diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardika. Museum ini terletak di Jl. Keuangan Raya No. 19 Cilandak Barat, Jakarta Selatan. Koleksi museum ini cukup beragam karena mencakup koleksi dan barang pribadi seperti wayang, senjata hingga buku yang jumlahnya ribuan.

 

Museum Affandi Kusuma

Affandi Kusuma lahir di Cirebon, Jawa Barat pada tahun 1907. Beliau dikenal sebagai pelukis bergaya ekspresionis. Menjelang masa kemerdekaan, Affandi menjadi salah satu pelukis propaganda kemerdekaan. Atas arahan Soekarno, Affandi melukis poster propaganda yang dikenal dengan judul “Boeng, Ajo Boeng”. Pada tahun 1950’an, Affandi kemudian banyak mengadakan pameran tunggal di India, Amerika Serikat, Inggris dan Eropa. Atas kiprahnya dalam skala internasional, komunitas seni lukis di Florence, Italia, menggelari Affandi sebagai Grand Maestro.

Culture | Art
Foto: Ist

Pada tahun 1973, Affandi mendirikan museum di kediamannya, Jl. Laksda Adisucipto No. 167, Kabupaten Sleman. Hingga ajalnya pada bulan Mei 1990, Affandi tidak pernah berhenti melukis. Museum Affandi diresmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hassan. Koleksi yang terdapat di museum ini mencakup karya-karya Affandi dan seniman lain yang merupakan keluarga dan teman-teman dekatnya.

Post your comments on Facebook