Baru-baru ini, undang-undang Anti-Aborsi sedang menjadi pembicaraan. Pasalnya, undang-undang Anti-Aborsi paling ketat baru saja disahkan oleh negara bagian Alabama Amerika Serikat pada selasa malam (14/05) waktu setempat. Undang-undang tersebut juga sebagai upaya Mahkamah Agung Amerika Serikat dalam mempertimbangkan ulang masalah hak perempuan untuk menggugurkan kandungan.

Undang-undang yang disahkan oleh Gubernur Kay Ivey tersebut melarang segala bentuk aborsi pada kehamilan, baik karena pemerkosaan atau inses (janin hasil dari hubungan sedarah). Akan tetapi ada pengecualian apabila terjadi risiko berat yang mengancam kesehatan dan keselamatan ibu dan janin yang dikandung.

Ternyata, sebelum Alabama menjadi sorotan, sejumlah negara di dunia juga sudah terlebih dahulu mengimplementasikan undang-undang yang sangat ketat mengenai larangan aborsi. Berikut ini Wanita.me merangkumnya untuk Anda.

1. Irlandia Utara

Aborsi
Foto: Ist

Salah satu negara yang menerapkan hukuman ketat mengenai larangan aborsi yaitu Irlandia Utara. Namun, berbeda dengan Alabama yang hanya memberikan hukuman bagi dokter yang melakukan praktek aborsi saja. Hal ini karena Irlandia Utara masih mengacu pada undang-undang yang disahkan pada tahun 1861 yang mengatur hak reproduksi perempuan.

Dalam undang-undang tersebut, siapapun yang melakukan tindakan aborsi dapat diancam penjara seumur hidup. Ancaman hukuman ini berlaku baik untuk dokter yang membantu proses aborsi maupun perempuan yang melakukan aborsi.

2. El Salvador

Aborsi
Foto: Ist

Negara El Salvador juga menerapkan undang-undang pelarangan untuk tindakan aborsi. Bahkan, di negara ini aborsi dianggap sebagai tindakan kriminal sejak akhir tahun 1990-an. Para perempuan yang melakukan tindakan aborsi ditangkap dan dikurung dalam sel tahanan selama bertahun-tahun. Tidak hanya pasal pengguguran kandungan, pelaku aborsi juga dikenai pasal pembunuhan oleh jaksa.

Berdasarkan catatan Amnesty International, tidak ada pengecualian sama sekali meskipun kehamilan tersebut dapat mengancam nyawa perempuan atau kasus janin yang tidak terlihat. Bahkan, pada kehamilan karena kasus pemerkosaan atau inses sekalipun. Bagi yang terbukti ancaman hukumannya adalah 50 tahun penjara.

Hal ini menurut UN Special Rapporteur on Torture dianggap sebagai kekerasan yang sudah terinstitusionalisasi terhadap perempuan. Diketahui pada tahun 2018 saja ada lebih dari 20 perempuan dan remaja yang dipenjara karena kasus aborsi. Seperti yang dilaporkan Washington Post, seorang perempuan bernama Imelda Cortez yang merupakan korban pemerkosaan oleh ayah tirinya terkena pasal ini. Pelaku dijerat undang-undang aborsi dan divonis penjara selama 18 bulan.

3. Chile

Aborsi
Foto: Ist

Salah satu negara di Benua Amerika yang menerapkan hukuman ketat mengenai kasus aborsi yaitu Chile. Negara ini menjadi sorotan karena sejak tahun 1989 diktator Augusto Pinochet sudah mengkriminalisasi aborsi secara total, termasuk dalam kasus pemerkosaan.

Namun pada tahun 2017, Presiden Michelle Barchelet mengusulkan adanya perubahan undang-undang agar ada pengecualian untuk tiga kasus. Kasus tersebut yaitu pemerkosaan, ancaman terhadap kesehatan ibu serta disabilitas.

Kemudian pada tahun 2018 pada Pemerintahan Presiden Sebastian Pinera, disebutkan bahwa dokter atau klinik berhak menolak melakukan aborsi karena alasan kepercayaan agama. Dalam hal ini, badan HAM PBB meminta agar dokter menyertakan alasan jelas untuk menjustifikasi penolakan. Akan tetapi, seperti yang dilansir dari Human RIght Watch hal ini tidak dilakukan. Rumah sakit hanya melaporkan kepada Kementerian Kesehatan bahwa dokter mereka menolak melakukan tindakan aborsi tanpa menjelaskan alasannya.

Post your comments on Facebook