Adwoa Aboah merupakan model asal Inggris yang sedang naik daun sejak dirinya muncul di cover majalah Vogue Inggris edisi Desember tahun lalu. Kiprahnya di dunia fashion semakin diakui setelah awal bulan ini ia didaulat menjadi wajah bagi parfum “Si Passione” yang diluncurkan oleh Giorgio Armani. Adwoa menjadi ikon parfum tersebut bersama aktris Hollywood Cate Blanchett dan model asal Portugal Sara Sampaio. Sebelumnya, Adwoa dikenal sebagai duta bagi label ternama lainnya seperti Gap, Burberry, Revlon dan Versace.

Fashion | Models
Foto: Ist

Bernama lengkap Adwoa Caitlin Maria Aboah, ia lahir di keluarga yang dekat dengan dunia fesyen. Ayahnya, Charles Aboah, merupakan seorang pencari bakat model. Sang Ibu, Camilla Lowther, adalah seorang agen fotografi fesyen. Di usianya kini yang baru 25 tahun, Adwoa tidak pernah menyangka karirnya sebagai model akan sebesar ini. Terlebih, Adwoa harus melalui berbagai rintangan, khususnya dalam proses pencarian jati dirinya sebagai model dan khususnya sebagai seorang wanita.

Di awal karirnya, Adwoa sempat minder dengan rambut Afro-nya. Ditambah, rambutnya berwarna kemerah-merahan. Adwoa kemudian memilih aksesoris topi dan wig untuk menyembunyikan ‘kekurangan’ tersebut. Ia bahkan menggunakan topi selama dua tahun. Kepada Vogue (07/04), Adwoa mengenang bahwa ia selalu menghabiskan berjam-jam hanya untuk meluruskan rambutnya di ruang rias hingga akhirnya ia muak dan memutuskan untuk mencukur habis rambutnya.

Selain minder dan frustrasi dengan rambutnya, Adwoa juga sempat terjerumus ke dunia obat-obatan. Ia kecanduan Ketamin, sejenis obat penenang untuk keperluan anestesi yang memiliki efek sedasi dan amnesia. Setiap harinya, Adwoa selalu memikirkan penampilannya yang di satu sisi ia merupakan minoritas (non-kulit putih) dan di sisi yang lain ia merasa tampilan fisiknya tidak mainstream layaknya model-model lain hingga pada akhirnya ia depresi dan kecanduan obat penenang. Atas dukungan keluarga dan niatnya untuk terus melanjutkan karir, Adwoa akhirnya menjalankan terapi dan rehabilitasi medis atas kecanduannya.

Fashion | Models
Foto: Ist

Mengenang pengalaman pahitnya, Adwoa memutuskan untuk menyalurkan energinya di dunia aktivisme. Adwoa mendirikan sebuah komunitas non-profit bernama Gurls Talk. Bersama Gurls Talk, Adwoa mengadvokasi dan memberikan platform kepada kaum wanita mengenai isu kesehatan mental, seksualitas dan citra tubuh positif. Adwoa merasa bertanggungjawab dengan gelar ‘supermodel’ yang dimilikinya untuk menjadi suara bagi kaum muda wanita yang merasa terpinggirkan dan terisolasi dari pergaulan. Salah satu pertanyaan yang selalu muncul pada setiap diskusi Gurls Talk adalah, “Am I good enough?” Bagi Adwoa, pertanyaan tersebut memang menjadi isu penting bagi kaum wanita dalam proses pencarian jati dirinya baik itu sebagai manusia, teman, pasangan, orang tua, karir dan banyak lainnya.

Meskipun Adwoa masih berupaya menemukan jati dirinya, tahun lalu ia dinominasikan sebagai Model of the Year oleh British Fashion Council. Bagi Adwoa, nominasi tersebut merupakan pengakuan atas eksistensi dirinya sebagai model. Dunia aktivismenya bersama Gurls Talk semakin memantapkan hatinya untuk saling mendukung dan juga terus mengadvokasikan pengalaman pahit kaum wanita dalam proses pencarian jati diri. Kini, media dan industri fashion dunia menyorot kiprah Adwoa yang tadinya hanya sebagai runway newcomer menjadi fashion industry power player.

Post your comments on Facebook