Takut akan kehamilan dan rasa sakit melahirkan adalah hal wajar bagi wanita. Belum lagi ditambah dengan resiko kematian, baik bagi anak maupun ibu yang melahirkan. Dengan kata lain, kehamilan dan seluruh proses melahirkan dianggap penuh dengan ketidakpastian meskipun statistik telah membuktikan bahwa resiko kematian akibat melahirkan semakin mengecil dari masa ke masa. Tidak sedikit wanita yang memilih operasi sesar untuk alasan menghindari rasa sakit atau bahkan dalam bentuk ekstrimnya memilih untuk tidak hamil dan memiliki anak.

Family | Family Health
Foto: Ist

Dalam dunia medis, ketakutan luar biasa terhadap kehamilan dan rasa sakit melahirkan dinamakan tokofobia. Baru-baru ini, para peneliti bidang kesehatan reproduksi dari University of Hull di Inggris, Catriona Jones, Franziska Wadephul dan Julie Jomeen, merilis penelitian tentang tokofobia di media The Conversation. Dalam hasil penelitiannya, mereka membagi tokofobia dalam dua bentuk, primer dan sekunder.

Penderita tokofobia primer adalah wanita yang belum pernah hamil dan melahirkan. Bagi mereka, penyebab tokofobia sangat beragam. Mulai dari cerita-cerita tak menyenangkan tentang kehamilan dan melahirkan hingga trauma psikis akibat pelecehan seksual. Beberapa responden penelitian juga mengungkapkan bahwa pengalaman mereka menyaksikan proses melahirkan membuat mereka mengurungkan niat untuk hamil.

Family | Family Health
Foto: Ist

Sementara penderita tokofobia sekunder adalah wanita yang pernah hamil dan melahirkan akan tetapi kapok untuk mengulanginya. Pada umumnya mereka trauma atas ketidaknyamanan mengandung selama 9 bulan hingga masa penyembuhan pasca-melahirkan. Apalagi mereka yang menjalankan operasi sesar, di mana masa pemulihan bisa berlangsung hingga 3 bulan lebih.

Banyak responden penelitian yang terindikasi menderita tokofobia primer ringan akan tetapi juga tidak sedikit yang parah, hingga termasuk dalam tingkat depresi. Dalam kasus terparahnya, ada beberapa wanita yang memilih untuk melakukan aborsi sementara dalam kasus ringannya, kebanyakan memilih operasi sesar untuk menghindari rasa sakit melahirkan normal. Sayangnya, mereka yang memilih operasi sesar berada dalam kondisi yang sangat sehat dan layak untuk menjalani proses melahirkan normal.

Family | Family Health
Foto: Ist

Dalam kasus sekunder, beberapa responden mengungkapkan ketidaknyamanannya ketika perut membesar, merasakan gerakan bayi dalam perut dan keterbatasan lain secara fisik. Susah tidur, gangguan makan dan depresi pasca-melahirkan juga menjadi alasan penderita tokofobia sekunder enggan untuk memiliki anak kedua. Selain itu, mereka yang kapok mengalami masa melahirkan yang panjang (masa pembukaan yang lama) dan rasa sakit suntik epidural serta perihnya bekas jahitan operasi sesar juga termasuk dalam kasus sekunder.

Lalu adakah obat atau perawatan bagi penderita tokofobia? Beberapa rumah sakit di Eropa dan Amerika Serikat menyediakan klinik khusus pra dan pasca-melahirkan bagi wanita yang selain menyediakan pelayanan medis juga memberikan pelayanan psikiatris terkait keluhan-keluhan mental selama proses kehamilan dan melahirkan. Sayangnya, di Indonesia tidak banyak klinik atau dokter yang secara khusus menangani kasus tokofobia karena rasa takut melahirkan seringkali dianggap sebagai ‘kewajaran’ atau hal biasa bagi wanita.

Family | Family Health
Foto: Ist

Untuk itu, para peneliti dari University of Hull merekomendasikan beberapa hal. Pertama, ketika rasa takut dan khawatir menghinggap segeralah bercerita, baik itu kepada suami, keluarga, teman yang berpengalaman melahirkan maupun dokter kandungan yang menangani. Kedua, jangan merasa sendiri dan terisolasi. Ikutilah kegiatan sesama ibu hamil seperti senam kehamilan dan latihan melahirkan agar dapat melihat, mendengarkan, berbagi keluh-kesah dan saling menyemangati. Kegiatan tersebut juga disarankan bagi wanita yang belum pernah hamil sebagai media inspirasi dan motivasi. Ketiga, baca serta pelajari fakta-fakta ilmiah dan medis agar tidak termakan mitos dan cerita-cerita seram mengenai kehamilan dan melahirkan.

Post your comments on Facebook