Andrea Hirata merilis buku ke-10nya setelah hampir 3 tahun tidak terdengar. Lelaki kelahiran Gantung, Belitung Timur, Bangka 24 Oktober 1982 yang terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun ini merupakan seorang novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia, ia juga memenangkan penghargaan New York Book Festival 2013 dengan kategori fiksi.

Andrea Hirata | Books
Foto: Ist

Sama seperti beberapa karya Andrea terdahulu, buku ke-10 yang berjudul Sirkus Pohon ini mengambil latar belakang di Belitung. Jika Anda membandingkan buku pertama fenomenalnya yang berjudul Laskar Pelangi pada tahun 2005 lalu mempesonakan Anda lewat anak-anak cerdas dengan mimpi besar, yang tidak surut oleh kemiskinan sehingga pada akhirnya mampu mewujudkan hal-hal yang luar biasa.

Andrea Hirata | Books
Foto: Ist

Sirkus Pohon kali ini menawari Anda kisah orang-orang sederhana, dengan mimpi yang juga sederhana. Dan mereka menemukan kebahagiaan lewat hal-hal yang paling sederhana. Tetapi, Andrea mampu menghadirkan visi yang sangat cantik lewat hal-hal sederhana ini. Buku ini menceritakan dari sudut pandang orang pertama bernama Sobrinudin, yang sering disapa Hob, seorang kuli serabutan di pasar kampung yang drop out sekolah saat kelas 2 SMP karena salah dengan pergaulannya. Ia tidak pandai, tidak juga rupawan, sangat lugu dan diketahui berkawan dekat dengan seorang pembuat onar kambuhan bernama Taripol. Semua kualitas itu menghadiahinya status jomblo sampai usia 28 tahun. Bujang lapuk, kalau istilah orang Melayu.

Akan tetapi, arah nasib Hob berubah karena 3 peristiwa penting yaitu; jatuh cintanya ia pada seorang gadis penjaga toko bernama Dinda, pohon delima yang tumbuh tanpa sengaja ditanam di pekarangan rumahnya, dan bergabungnya ia dengan sebuah kelompok sirkus keliling. Hob yang sederhana dan tidak banyak bergaya harus bersinggungan dengan banyak urusan penting akibat 3 peristiwa tersebut. Ia hanya berprofesi sebagai badut sirkus, sampai harus berinteraksi dengan dukun yang konon katanya paling sakit. Sempat dipertimbangkan untuk menjadi Kepala Desa, sampai dipercaya sebagai “orang pintar” karena mampu bicara pada hewan dan tumbuhan.

Andrea Hirata | Books
Foto : Ist

Lewat sosok Hob, Anda akan belajar tentang dedikasi, kesetia kawanan, dan cinta yang luar biasa tulus. Semua itu, tanpa diduga datang dari seorang kuli serabutan buruk rupa yang sempat ditangkap polisi karena dituduh mencuri sebuah toa.

Pada sisi lain, Andrea menghadirkan juga sebuah kisah romantis yang melibatkan 2 remaja yaitu, Tara dan Tegar. Mereka merupakan anak-anak berbakat yang jalannya selalu dijegal nasib. Cinta pertama mereka bermula karena dipertemukan saat masing-masing tengah menghadapi patah hati pertamanya di usia 8 tahun (perceraian orang tua). Kisah cinta Tara dan Tegar tidak seperti sophisticated seperti teen-lit. Tetapi, Anda akan terpesona dengan transformasi indah cinta monyet mereka menjadi cinta yang memberi kekuatan harapan selama bertahun-tahun. Andrea dengan sangat efektif merangkainya dalam satu kalimat “Cinta memihak mereka yang menunggu”.

Menceritakan kisah ini dari sudut pandang Hob yang sederhana tidak lantas membuat Andrea mengurangi kecantikan diksinya, kecanggihan personifikasinya, dan kekayaan refrensinya untuk menggambarkan adegan demi adegan yang terjadi di sebuah kampung Melayu pedalaman. Kekuatan lain Novel ini terdapat unsur humornya yang dengan licik diselipkan di tempat-tempat tidak terduga.

Pesan yang dapat Anda tangkap jika sudah membaca Novel ini adalah “Karma sesungguhnya ada, dan bahwa kebaikan bisa saja datang dari orang-orang yang paling tidak terduga”.

Post your comments on Facebook