Aquaman jadi salah satu film keluaran terbaru dari DC yang telah rilis di bioskop Indonesia sejak tanggal 12 Desember 2018 lalu. Film yang diperankan oleh Jason Momoa ini berkisah tentang satu-satunya manusia di Bumi yang dapat membawa kedamaian pada dua alam yang sedang bertikai, yakni daratan dan bawah laut.

 

Aquaman harus berjuang memulihkan keseimbangan di antara dua alam dengan menghentikan perang saudara terbesar yang terjadi di planet ini. Namun, ia tak bisa menghadapi semuanya sendiri. Dia membutuhkan sekutu dan rekannya Mera yang diperankan secara apik oleh Amber Heard.

Aquaman
Foto: Ist

Jadi pertaruhan reputasi DC

Jika dibandingkan, pahlawan-pahlawan super dalam semesta DC bisa dibilang jauh lebih ampuh memantik imajinasi ketimbang Marvel. Karakter superhero ciptaannya kebanyakan datang dari luar Bumi, rentan, dan tidak manusiawi seperti karakter-karakter utama Marvel.

Superman, Supergirl, Starfire, J’onn J’onzz, dan Green Lantern adalah alien, sedangkan Aquaman dan Wonder Woman datang dari dunia yang belum terjamah oleh manusia. Sangat kentara sekali, mereka membawa latar belakang cerita yang membuat anak-anak usia di bawah 10 tahun bertualang bebas ke dunia fantasi tak terbatas.

Aquaman
Foto: Ist

Sementara Captain America, Iron Man, Spiderman, Hulk, Hawkeye atau Black Widow adalah manusia biasa yang hidup di Bumi—yang mendapatkan kekuatan super melalui paparan zat radio aktif, uang, atau bahkan sama sekali tak memiliki kekuatan apapun. Konflik ceritanya pun cenderung lebih kompleks seputar konspirasi di ranah pemerintahan, S.H.I.E.L.D, dan Hydra. Itulah mengapa Marvel Cinema Universe (MCU) dinilai jauh lebih berhasil merenggut perhatian para penonton dewasa.

Hampir semua film-film keluaran DC Extended Universe (DCEU) kecuali Wonder Woman, kurang dapat menarik minat pecinta film di bioskop. Bahkan, naskah dan presentasinya pun ramai menuai kritik dari para pengamat maupun penonton awam. Batman V Superman dan Suicide Squads adalah dua film perdananya yang memang disambut antusias tinggi oleh para penggemar DC, tapi tak ada satupun yang memuaskan penonton. Rating Suicide Squads malah anjlok, hanya 25 persen lebih parah jika dibandingkan dengan Batman V Superman yang memperoleh 28 persen.

Aquaman
Foto: Ist

DC pun tampak kewalahan menyajikan sebuah tontonan yang menarik ketika semua superhero utamanya bersatu, termasuk Wonder Woman dalam Justice League. Reputasi buruk inilah yang akhirnya membuat calon penonton Aquaman cenderung malas berekspektasi ketika membeli tiket film terbaru DCEU tersebut.  

James Wan sukses hadirkan after taste menyenangkan

Film Aquaman memang tak bisa dibilang ‘sempurna’ dan James Wan, sang sutradara juga nyatanya tak sepenuhnya berhasil memperbaiki reputasi DC. Naskahnya pun tergolong belum terlalu kuat. Meski begitu, ada banyak hal yang berhasil dihadirkan secara apik dalam film ini. Ceritanya masih layak ditonton karena justru memberikan after taste  yang menyenangkan.

Hal paling berani dan terlihat menonjol adalah keputusan sutradara yang terkenal dengan garapan film-film horornya, seperti The Conjuring dan Saw untuk membuat Aquaman yang bergenre fantasi. Usahanya benar-benar terlihat dalam setiap balutan kisah petualangan Arthur Curry (Jason Momoa), si manusia separuh bangsa Atlantis yang diraciknya dengan beragam referensi.

Aquaman
Foto: Ist

Ada adegan berkejaran di atap rumah seperti yang sering muncul dalam film-film James Bond, ada Kaiju bawah laut yang dirujuk dari Godzila, masuk ke inti bumi dan perjalanan di Gurun Sahara layaknya Indiana Jones, adegan romantis khas Mamamia yang membalut Arthur dan Mera (Amber Heard) di Sisilia yang mirip Kolakairi, Atlantis yang didesain canggih macam dunia utopis, seperti film Star Trek, bahkan sejumlah ‘Polisi Atlantis’ yang didesain dengan pakaian robot ala Power Rangers.

Sungguh pilihan yang tergolong berani, karena tumpukan plot yang terlalu banyak dan berbelit-belit malah berpotensi membuat penonton susah mengikuti jalan ceritanya. Namun, James Wan sangat bertekad membuat cerita ini tampak seringan mungkin.

Mengusung kisah sederhana

Konflik utama yang hadir dalam film Aquaman ini adalah kecemburuan Orm (Patrick Wilson), adik Arthur (dari ibu yang sama, tapi ayah berbeda) yang menginginkan takhta milik sang kakak. Orm yang memang keturunan murni bangsa Atlantis merasa lebih pantas ketimbang Arthur, si manusia biasa. Sementara konflik selingannya, Arthur tak percaya diri untuk menjadi seorang Raja Atlantis. Pun jika ingin, ia harus mencari keberadaan Trisula Keramat yang terkubur bersama raja pertama Atlantis.

Jelas, konflik sederhana tersebut membuat petulangan Arthur Curry ini terbilang mudah ditebak. Apalagi, referensi yang bertumpuk sangat mempengaruhi durasi film yang akhirnya jadi panjang, sehingga karakter lainnya tak memiliki banyak ruang untuk digali. Motivasi sang tokoh utama dan tokoh lainnya termasuk lemah. Arthur ditampilkan Wan sebagai karakter yang maskulin, berwawasan luas, kocak, tapi tak lebih dari itu.

Aquaman
Foto: Ist

Tak ada pembahasan apa pekerjaannya, mengapa ia ingin menggunakan kekuatan itu untuk kebajikan di muka Bumi, hingga cenderung tak takut identitasnya terbuka pada publik. Satu-satunya sifat Arthur yang digali hanyalah seputar latar belakangnya sebagai anak haram Ratu Atlantis.

Banjir efek CGI dengan detail sinematografi yang rapi

Naskah yang terbilang sederhana itu dibalut Wan dengan efek CGI luar biasa. Tak hanya banyak menumpuk plot dengan beragam referensi, ia pun menggali Atlantis dan semua adegan aksi di film ini. Editannya memang belum terlalu rapi, terutama pada wajah Temuera Morrison (ayah Arthur) di awal-awal film, tapi detail sinematografinya tergolong cukup rapi. Beberapa adegan pertarungan, terutama adengan Nicole Kidman yang bertarung di rumah keluarga Curry sukses meningkatkan adrenalin, meski efek CGI-nya begitu kental terasa.

Aquaman
Foto: Ist

Meski begitu, usaha dan keberanian James Wan dalam menampilkan petulangan Arthur patut diacungi jempol. Ia tak menghadirkan naskah ambisius yang coba menyaingi kesuksesan film-film garapan Marvel. Pria kelahiran Kuching, Malaysia itu justru menampilkan film yang kuat nilai fantasinya. Oleh karena itu, bisa dikatakan James Wan terbilang sukses menggaet penonton Aquaman untuk masuk ke dunia penuh fantasi yang membekas di hati.

Post your comments on Facebook