Foto :ist

Google Doodle hari ini tanggal 23 September menampilkan sosok Asima Chatterjee untuk memperingati 100 tahun kelahirannya. Dan juga untuk mengingatkan dunia pada wanita India yang telah melahirkan pemikiran luar biasa terhadap sains.
Wanita India yang pertamakali meraih gelar Doctorate of Science ini sangat menunjukkan ketertarikannya pada tanaman obat. Terutama mempelajari kimia organik dan tanaman obat-obatan asal negaranya, India.
Chatterjee menempuh pendidikan di kota kelahirannya, Kolkata, sampai melanjutkan kuliah di Scottish Church College, Universitas Kolkata dan kemudian lulus menjadi sarjana kimia pada tahun 1936. Pada tahun 1938, ia menyelesaikan gelar masternya di bidang kimia organik. Dan pada tahun 1944, ia menuntaskan pendidikannya dengan meraih gelar doktoralnya. Penelitian doktoral Chatterjee fokus pada kimia organik yaitu kimia produk alam dan kimia organik sintetis. Tidak puas menimba ilmu di negaranya saja, ia juga menambah pengalamannya belajar di Universitas Wisconsin, Madison dan Institut Teknologi California guna memperkaya penelitiannya. Sepanjang sejarah perguruan tinggi India, Chatterjee adalah Doktor Sains pertama yang diraihnya pada tahun 1944. Lalu kemudian ia menjadi guru besar di bidang kimia di Universitas Kalkota.

foto :ist

Menurut biografi yang ditulis oleh Indian Academy of Sciences, kesuksesan Chatterjee sangat dalam menggali ilmu sangat dipengaruhi oleh motivasi sang ayah. Ayah Chatterjee bernama Dr. Indra Narayan Mukherjee merupakan seorang ahli botani di India. Dari ayahnya pula Chatterjee berhasil mengembangkan potensi dirinya menjadi seorang ahli kimia.
Pada tahun 1940, Chatterjee bergabung ke Lady Brabouene Collage di Universitas Kalkota sebagai kepala pendiri departemen kimia. Perjuangan Chatterjee tidaklah mudah. Wanita kelahiran 23 September 1917 ini berjuang mendalami berbagai penelitiannya di tengah kondisi universitas yang paling tidak lengkap di kampusnya. Ditambah lagi bahan-bahan dan alat-alat kimia yang tidak memadai serta bantuan yang sangat minim. Dengan kata lain, Chatterjee berjuang dalam keterbatasan sarana. Namun ia bukan seorang wanita yang mau berdiam begitu saja. Pada masanya, bantuan beasiswa sangat sulit diperoleh. Apalagi untuk mendapatkan dana penelitian. Sebagian besar mahasiswa harus bekerja paruh waktu untuk mempu menyelesaikan studi dengan baik. Menurut pandangan umum pada masa itu, bahwa profesi peneliti seperti dirinya nyaris tidak memiliki prospek masa depan yang menjanjikan.

foto : ist

Kontribusi Chatterjee yang paling terkenal ialah karyanya yang terkait dengan Vinca Alkaloid. Ini merupakan senyawa yang terbuat dari tanaman bunga Vinca. Dalam penelitiannya, Chatterjee menggunakan tanaman tapak dara untuk mengekstraksi senyawa alkaloid tersebut. Senyawa ini terbukti sangat ampuh sebagai obat kemoterapi yang membantu memperlambat atau menghentikan sel kanker agar tidak bertambah banyak. Penelitian-penelitian yang dilakukan Chatterjee pada akhirnya menjadi pedoman penting bagi perkembangan obat-obatan di India, terutama pengembangan obat-obatan yang mengobati penyakit epilepsi dan malaria.

Post your comments on Facebook