Mengayunkan bayi di ayunan saat menidurkannya merupakan kebiasaan hampir kebanyakan orangtua di Indonesia sebagai salah satu bentuk kasih sayang. Dan mengguncangkan tubuh mungilnya juga sering dilakukan oleh para orangtua bila sudah merasa frustasi ketika si bayi tidak kunjung berhenti menangis. Atau ketika seorang ayah dengan gemasnya melempar-lempar bayinya ke udara untuk membuatnya tertawa. Meski ayunan yang pelan relatif aman namun kita tidak pernah tahu seberapa besar dampaknya mengayun pada bayi karena organ mereka masih sangat lunak dan sensitif. Ayunan dan guncangan itu efeknya bisa sama dengan benturan keras pada orang dewasa dalam sebuah kecelakaan mobil.

Family | family education
Foto : Ist

Struktur tubuh bayi masih sangat lemah, bila mendapatkan guncangan yang kuat dapat menyebabkan terjadinya tarikan/rentangan antara otak dengan selaput otak yang melekat pada tulang kepala. Rentangan inilah yang menyebabkan terjadinya robekan pembuluh darah yang menghubungkan antara otak dan selaput otak.

Tahukah Anda bahwa kegiatan mengayun dan gerakan mengguncang tubuh bayi bisa mengakibatkan kerusakan pada saraf otak dan penglihatannya atau lebih dikenal dengan nama Baby Shaken Syndrome?

family | family education
Foto : Ist

Dilansir dari situs www.cdc.gov, Center of  Disease Control and Prevention di Amerika memberikan defenisi baby shaken syndrome (SBS) merupakan bentuk trauma keras pada kepala (abusive head trauma) dalam bentuk luka traumatik otak yang diakibatkan perbuatan orang lain secara sengaja (inflicted traumatic brain injury). Bahkan di Amerika, dalam setahun kasus SBS terjadi sebanyak 1.200-1.400 dengan 7-30 persen bayi yang meninggal dunia. Sisanya mengalami gangguan saraf dan kecerdasan, dan sebagian lagi belum memperlihatkan efek yang nyata.

Menurut dokter spesialis anak dari Sub Bagian Saraf Otak Bagian SMF IKA RS Sanglah, Bali, dr.I Gusti Ngurah Suwarba, Sp.A, SBS berarti kumpulan gejala yang timbul akibat melakukan gerakan menggoyang atau mengguncang tubuh bayi. Efek ayunan tersebut menurut Suwarba bisa terjadi dalam jangka pendek atau jangka panjang.

Berikut ini beberapa akibat lain dari shaken baby syndrome yang bisa dilihat dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yakni: kerusakan saraf yang umumnya bersifat permanen dan pendarahan pada otak, kerusakan retina sehingga bisa mengakibatkan kebutaan serta cidera pada leher dan tulang belakang. Bila terjadi pada bayi usia 3-8 bulan bisa mengakibatkan  hal yang paling fatal ialah berujung pada kematian.

Sampai saat ini di Indonesia seperti yang dikutip dari beberapa sumber menyebutkan bahwa, belum ada lembaga yang melakukan survey tentang efek yang ditimbulkan akibat mengayunkan dan mengguncang tubuh bayi. Sementara di Indonesia para orangtua menganggap sesuatu yang lumrah melakukannya pada bayi mereka, misalnya; menaruh bayi dalam ayunan, mengguncang-guncang tubuh bayi saat berada dalam gendongan atau bermain dengan melempar bayi ke udara dengan alasan bercanda.

Family | family education
Foto : Ist

Perlu diketahui bahwab luka otak akibat SBS tidak secara mudah diketahui dari luar seperti halnya mengetahui luka memar karena terjatuh atau terbentur. Sebagaimana dilansir dari situs www.mayoclinic.com gejala-gejala awal yang bisa dilihat apabila bayi Anda mengalami SBS ialah: kesulitan bernafas, muntah, susah makan dan melemahnya daya hisap pada saat ia diberikan ASI, warna kulit pucat kebiruan, kejang-kejang, tremor atau menggigil berlebihan dan kemunduran perkembangan.

Tanpa di taruh dalam ayunan dan menggoyangkan tubuhnya saat menidurkan, bayi tetap akan tidur nyenyak. Karena kualitas tidur bayi tidak semata-mata tergantung ketika ditaruh dalam ayunan atau menguncang-guncang tubuhnya. Sifat alamiah manusia bila ia telah merasa kenyang dan tubuhnya sehat maka ia akan dengan mudah untuk tidur.

Family | family education
Foto : Ist

Post your comments on Facebook