Apabila berbicara mengenai batik Indonesia, hampir semua orang pasti mempunyai satu batik atau kain batik di dalam lemarinya. Baju batik umumnya dipakai saat berpergian ke acara-acara resmi meskipun kini sudah banyak alternatif model yang bisa digunakan sehari-hari.

Hal tersebut tentu saja patut diapresiasikan, karena kesadaran masyarakat untuk kembali menggunakan kain tradisional sudah mulai terasa gaungnya. Namun mungkin banyak yang tidak menyadari bahwa yang dipakai bukanlah batik yang ‘sebenarnya’. Pada umumnya, Anda merujuk batik lebih pada motif yang ada pada kain. Padahal sejatinya menurut KBBI, batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain tersebut, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu.

batik indonesia | Designer
Foto: Ist

Saat ini banyak beredar Indonesia batik di pasaran, kain print bermotif batik yang tentu saja menghilangkan esensi dari batik sendiri kain tersebut hanya dicetak dengan mesin dan tidak melalui proses pembatikan oleh manusia. Hal inilah yang menjadi salah satu perhatian dari William Wimpy, pendiri brand Canting Hijau. Menurut pria yang pernah menjadi finalis Putra-Putri Batik Nusantara ini, sekarang ini bukan lagi waktunya untuk mengenalkan batik saja, tetapi pemahaman. Dengan begitu masyarakat menjadi tahu apa yang sedang diperjuangkan dan lebih menghargai batik. Mulai dari cara membuat, arti motif dan filosofinya sehingga kecintaan Anda terhadap batik menjadi cinta yang beresensi, bukan sekedar cinta kosong penuh sensasi.

Tidak heran jika kemudian William merasa perlu melakukan kontribusi nyata dalam melestarikan batik. Terlebih dengan hadirnya kain batik print dengan harga yang lebih murah, yang sedikit demi sedikit mengancam keberadaan para perajin batik. Ia ingin membuat batik yang di desain dengan model kekinian supaya virus-virus cinta batik dapat mudah tersebar di generasi muda. Berkat pertemuannya dengan Septiyani Haryono, pada tahun 2014 ia mendirikan Canting Hijau, sebuah brand yang mengusung satu konsep batik yang memiiki nilai-nilai art, earth, fashion, dan culture.

Misi dari Canting Hijau juga sangatlah mulia. Dengan mengedepankan konsep sustainble, yaitu menghasilkan profit yang searah dengan dampak positif terhadap masyarakat dan lingkungan, mengutamakan pemberdayaan para pembatik daerah, menyerap tenaga kerja dengan membayar upah yang cukup, dan tetap menjaga lingkungan dari kerusakan. Sebuah konsep yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi dunia perbatikan Indonesia. Selain itu melestarikan batik juga menjadi salah satu dasar awal terbentuknya brand yang berbasis di Bandung ini. Untuk itu selain mempertahankan motif indonesia batik yang telah ada, Canting Hijau juga menciptaan motif batik tersendiri seperti Bhatara Kara, Kembang Jaipong, dan Wayang Cepot Bandung yang mengangkat kearifan lokal.

batik indonesia | Designer
Foto: Ist

Sejalan dengan namanya yang mengusung prinsip hijau atau ramah lingkungan, produk yang dihasilkan Canting Hijau menggunakan bahan katun (organik) dengan mayoritas pewarnaan menggunaan pewarna alam. Konsep ‘zero waste production’ diterapkan dengan menghasilkan aksesoris batik dari limbah kain perca, dan ‘zero waste distribution’ dengan menggunakan kantong belanja yang terbuat dari kertas hasil daur ulang. Namun membangun usaha tentu saja tak selamanya perjalanan yang ia alami berjalan lancar. Produk Canting Hijau yang berupa kemeja, dress, blouse, tas, dan aksesoris berbahan batik Indonesia, pada awalnya dijual kepada saudara dan kerabat dekat. Selangkah demi selangkah pemasarannya juga dilakukan menggunakan sosial media. Hingga pada akhirnya ia memberanikan diri untuk mengikuti sebuah bazaar ternama dan menyewa booth dengan harga yang cukup mahal.

batik indonesia | Designer
Foto: Ist

Meski sempat rugi, namun hal ini tidak membuatnya menyerah. Setelah mengevaluasi dari kegagalan yang sebelumnya, mereka pun menemukan formula yang tepat untuk Canting Hijau. Strategi pemasaran online dan offline terus dijalankan. Produk-produk Canting Hijau dijual melalui pemeran-pameran offline, department store, dan secara online. Saat ini meski baru menginjak tahun kedua, Canting Hijau sudah mulai menorehkan namanya di ajang prestisius. Salah satunya adalah dengan bisa menampilkan karyanya dalam event Indonesia Fashion Week (IFW) 2017, sebuah ajang paling bergengsi di dunia fashion Indonesia.

Kebanggaan lainnya adalah saat Willy membawa Canting Hijau menjuarai sebuah perlombaan bersama brand susu dan Wirausaha Muda Berprestasi 2016. Ia pun berkesempatan terbang ke Seattle, Amerika Serikat pada bulan November 2016 untuk menjadi yang pertama menampilkan batik Indonesia pada acara Eco Fashion Week terbesar di dunia. Produk batik dari Canting Hijau yang ditampilkan dalam fashion show pada Eco Fashion Week tersebut mendapat sambutan yang sangat positif di mata warga Amerika dan Canting Hijau saat ini dapat ditemukan di salah satu butik di Seattle, Amerika Serikat.

Ke depannya, Canting Hijau masih terus bekerja keras untuk mencapai misi besarnya, yaitu membangun perkampungan batik pewarna alam di tahun 2020 dan menyerap tenaga kerja hingga 200 orang untuk menunjang kebutuhan batik di Tanah Air maupun di tingkat Internasional. Sehingga dapat berkontribusi nyata terhadap perekonomian Indonesia. Semakin banyak generasi muda yang terus melestarikan budaya Indonesia batik, akan semakin mendunia nya nama Indonesia di dalam dunia fashion Internasional.

Post your comments on Facebook