Mungkin sebagian dari Anda akan langsung membayangkan roti berlapis dengan segala macam isi, seperti telur, daging asap, sayuran, dan lain sebagainya jika mendengar kata sandwich. Namun, pernahkah Anda mendengar istilah Generasi Sandwich?

 

Generasi Sandwich bukanlah julukan bagi orang yang doyan makan sandwich, melainkan orang yang berusia sekitar tiga puluh sampai empat puluhan dengan tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya sendiri, sekaligus merawat orangtuanya. Namun, di era milenial seperti saat ini, Generasi Sandwich tak hanya berlaku untuk orang yang berusia tiga puluhan saja, tapi juga usia sekitar 24-an yang disebut Millennial Sandwich Generation.   

 

Generasi Sandwich
Foto: Ist

Terhimpit oleh beban dua angkatan, tak heran jika Generasi Sandwich rentan terhadap stres karena memikul tugas yang cukup besar dengan memikirkan banyak hal, mulai dari psikis hingga finansial. Belum lagi harus menjalankan beraneka rutinitas, tak terkecuali pekerjaan rumah tangga sehari-hari. Bahkan, sebuah studi dari American Psychology Association mengungkap, bahwa 2 dari 5 laki-laki dan 40 persen perempuan dari Generasi Sandwich ini mengalami stres berat. Terlebih, Generasi Sandwich ini tak mengenal jenis kelamin maupun usia. Banyaknya peran, menuntut mereka harus pintar dalam membagi waktu, atensi, afeksi, dan banyak aspek lainnya, untuk pasangan, anak, orangtua, dan juga diri sendiri.

 

Terbatasnya waktu membuat para Generasi Sandwich terus merasa terburu-buru dalam menyelesaikan kewajiban rutinitas harian mereka, baik pekerjaan maupun urusan rumah tangga. Inilah yang akhirnya membuat hasil rutinitasnya tak sesuai dengan harapan. Tak hanya penat dengan penuhnya aktivitas, kekecewaan, dan perasaan gagal pun semakin menekan generasi ini yang jika berkelanjutan bisa menimbulkan gangguan kesehatan serius.

 

Generasi Sandwich
Foto: Ist

Pun halnya dengan Millennial Sandwich Generation yang dengan karakter khasnya semakin menambah efek tekanan terhadap diri. Mereka memiliki kecenderungan untuk terlibat secara langsung atau hands on, termasuk ketika mereka sudah berkeluarga. Umumnya, mereka akan merasa jauh lebih puas, ketika bisa menyelesaikan sendiri suatu pekerjaan yang telah menjadi kewajibannya. Tak heran, jika Millennial Sandwich Generation ini akhirnya mengalami risiko kerentanan stres yang jauh lebih besar.

 

Menciptakan lingkungan pendukung yang dapat diandalkan bisa menjadi salah satu kunci untuk membantu meringankan tekanan yang dihadapi oleh para Generasi Sandwich ini. Caranya cukup dengan mengoptimalkan sumber daya yang berada di rumah, tidak harus pasangan, asisten rumah tangga, atau sopir dan sebagainya, tapi bisa juga alat bantu seperti peralatan rumah tangga yang diposisikan menjadi bagian dari lingkungan pendukung yang dapat diandalkan. Selain itu, sempatkan untuk memanjakan diri sendiri di tengah kesibukan, minimal beberapa jam dalam sehari. Tidak harus pergi ke salon atau berbelanja, tapi bisa juga dengan mendengarkan lagu atau membaca buku favorit ketika anak sedang tidur.

 

Generasi Sandwich
Foto: Ist

Generasi Sandwich ataupun Millennial Sandwich Generation bukanlah hal yang bisa dihindari oleh manusia masa kini, karena setiap orang pasti akan mengalaminya. Namun, Anda tak perlu panik atau khawatir. Cukup kendalikan stres dengan cara membagi waktu antara melakukan hal-hal yang disukai dan rutinitas sehari-hari. Meski sebentar, tapi itu penting untuk membuat hidup menjadi lebih rileks, tenang, dan jauh dari stres.

 

Post your comments on Facebook