Puisi, salah satu bentuk sastra yang kini sepertinya tidak setenar prosa dan drama, baru-baru ini dipertunjukan dalam kemasan populer. Pertunjukan tersebut berjudul “Melihat Puisi” yang diadakan pada Sabtu lalu oleh Bakti Budaya Djarum Foundation dan Titimangsa Foundation di ruang Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Mall Grand Indonesia, Jakarta. Selain melibatkan para penyair lintas generasi, seperti Godi Suwarna, H.S. Dewandani, Hanna Fransisca, Faisal Syahreza dan Ni Made Purnama Sari, pertunjukan ini menyertakan Joind Bayuwinanda, seorang veteran di dunia seni peran, sebagai narator dan Tesla Manaf, seorang gitaris jazz muda berbakat yang karyanya telah dikenal dalam skala internasional, sebagai musisi pengiring. Pertunjukan ini disutradarai oleh Heliana Sinaga, seorang pegiat teater yang juga aktif sebagai penerjemah naskah drama.

Perpaduan syair, musik elektronik, tata cahaya dan visual merupakan sajian pertunjukan “Melihat Puisi” selama sekitar satu jam. Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation, mengungkapkan bahwa acara ini merupakan sebuah ‘pesta sastra’ yang bertujuan untuk mengapresiasi para penyair Indonesia. Selain itu, pertunjukan “Melihat Puisi” disuguhkan dalam kemasan yang populer agar terlihat ringan dan menarik bagi generasi muda.

Culture | Art
Foto: Ist

Godi Suwarna, seorang penyair senior dari tatar Sunda, membawakan syair-syair yang serius nan menghibur yang dalam waktu bersamaan dapat membawa penontonnya berpikir dan terkekeh. Kisah Godi pada tahun 1970’an di mana dia baru pertama kali menginjak diskotik dituangkan dalam puisi berjudul “Studio Armageddon”. Gaya dan tingkah Godi di panggung juga turut mengundang tawa Tesla Manaf yang mendampinginya di panggung. Untuk puisi tersebut, Godi pernah mendapatkan Hadiah Sastra Lembaga Basa Jeung Sastra Sunda pada tahun 1991.

Selain Godi yang membawa nuansa kedaerahan, tampil pula Hanna Fransisca yang membawakan puisi-puisi bernuansa Tionghoa. Hanna adalah seorang penyair asal Singkawang, Kalimantan Barat, yang mengakui bahwa karya-karyanya terinspirasi dari budaya Cina. Pada tahun 2010, buku kumpulan puisinya yang berjudul Konde Penyair Han mendapatkan penghargaan dari majalah Tempo sebagai kumpulan puisi terbaik. Selain itu, Konde Penyair Han membawa Hanna sebagai 5 besar nominator Khatulistiwa Literary Award 2010.

Culture | Art
Foto: Ist

Dua penyair muda yang tampil di pertunjukan “Melihat Puisi” adalah Faisal Syahreza dan Ni Made Purnama Sari. Faisal merupakan penyair yang puisinya sering dimuat di media dan cukup aktif berkolaborasi dengan banyak seniman untuk proyek transformasi karya-karyanya ke dalam bentuk seni tari dan visual. Sementara Ni Made Purnama Sari merupakan peraih penghargaan Festival Hari Puisi Indonesia pada tahun 2014 untuk buku kumpulan puisinya yang berjudul Bali Borneo. Penampilan berbeda ditampilkan oleh H.S. Dewandani yang membawakan puisi dalam bahasa Inggris. Melalui karyanya, Dewandani mengemukakan kegelisahan sekaligus kritik dan refleksinya terhadap perilaku masyarakat di era media sosial. Salah satunya adalah mengenai ‘kurus’ sebagai stereotipe wanita cantik.

“Melihat Puisi” merupakan debut Heliana Sinaga sebagai sutradara panggung pertunjukan. Aktivitasnya di dunia teater telah membawanya sebagai pemain, manajer panggung, show director, asisten sutradara hingga pimpinan produksi. Sebagai sebuah acara sastra, “Melihat Puisi” merupakan nafas segar bagi dunia sastra nasional. Dalam narasi pembukanya, Joind Bayuwinanda berujar bahwa “Sastra adalah kata-kata penuh makna.” Mempertontonkan puisi yang melintas generasi, budaya dan genre merupakan kemasan yang tepat untuk meretas makna sastra dan menarik perhatian kalangan muda.

Post your comments on Facebook