Penggemar film Marvel sekali lagi dimanjakan dengan hadirnya film Black Panther yang baru mulai diputar di bioskop-bioskop Indonesia dua hari lalu. Setelah kehadirannya di Captain America 3: Civil War, tokoh Black Panther kali ini ‘pulang kampung’ ke Wakanda, sebuah tempat di Afrika yang terletak di pegunungan bermineral vibranium, logam terkeras di dunia Marvel yang menjadi bahan dasar perisai Kapten Amerika. Apabila di dua film sebelumnya (Spider-Man: The Homecoming dan Thor: Ragnarok) Marvel menaikkan level komedi, kali ini Marvel Cinematic Universe mendobrak berbagai stereotipe film Hollywood dalam Black Panther.

Culture | Movies
Foto: Ist

Selama sepuluh tahun terakhir, para karakter utama film Marvel didominasi oleh pria gagah berkulit putih. Kali ini Black Panther secara khusus menyorot tokoh gagah perkasa berkulit hitam – yang juga seorang raja – dari pedalaman Afrika. Dan, apabila latar film-film sebelumnya berada di kota besar (Amerika dan Eropa) atau bahkan luar angkasa, kini sebagian besar latar film ini berada di Wakanda, tanah air T’Challa sang Black Panther.

Keunikan lain dari latar Black Panther adalah mengenai vibranium, potensi sumber daya alam Wakanda yang terjaga dari eksploitasi dunia luar. Dikisahkan bahwa vibranium memiliki sifat mineral yang luar biasa akan tetapi tidak dapat dimengerti. Selain tingkat kekerasannya yang berfungsi sebagai perisai, berbagai temuan besar teknologi Wakanda berasal dari sifat-sifat ajaib vibranium. Apabila diadu dengan teknologinya Tony Stark (Iron Man), teknologi Wakanda tidaklah kalah dan sangat jauh dari kata ‘primitif’.

Culture | Movies
Foto: Ist

Selain latar ‘Afrika’ yang digambarkan sebagai surga dunia nan modern, hal fantastis lain dari film ini tentu saja adalah banyaknya karakter wanita yang menopang perjuangan Black Panther. Mereka adalah sang ibunda Ramonda (diperankan Angela Bassett), adik perempuan Nakia (diperankan Lupita Nyong’o), komandan pasukan khusus Okoye (diperankan Danai Gurira), dan Shuri (diperankan Letitia Wright). Dalam konferensi pers premier Black Panther, Angela Bassett mengutarakan antusiasmenya melihat tokoh T’Challa, seorang jagoan super yang juga raja di Afrika yang berjuang bersama sang ibu, adik perempuan dan para pejuang wanitanya.

Belum puas mendobrak stereotipe Afrika sebagai negara terbelakang dan gender serta ras di mana kaum wanita kulit hitam dipotret sebagai karakter yang tanpa daya, Black Panther merayakan gelora Afrika yang sebenarnya, seperti pakaian khas Afrika yang berwarna-warni, nyanyian kesukuan dan alat musik tabuhnya hingga bahasa Xhosa yang terkadang digunakan oleh beberapa tokoh di dalamnya. Dan, hampir seluruh aktor figurannya berkulit hitam meskipun mereka berasal dari Amerika dan Inggris.

Culture | Movies
Foto: Ist

Aksi pertarungan dan ledak-ledakan ala superhero Marvel tentu menjadi suguhan utama film ini. Akan tetapi, seperti di film Captain America 3: Civil War, beragam perdebatan geopolitik kembali diangkat di Black Panther. Kedua aspek tersebut membuat film ini sangat cocok untuk menghibur anak-anak dan dewasa. Setidaknya, di film ini kita dapat melihat kejayaan Afrika dan penduduknya meskipun melalui hingar-bingar pertempuran superhero.

Post your comments on Facebook