Tradisi Bleketepe dalam pernikahan adat Jawa adalah memasang daun kelapa yang masih hijau dan dianyam dengan ukuran rata-rata 50 cm x 200 cm. Bleketepe yang dipasang di tarub atau tenda mengelilingi area untuk pernikahan merupakan perwujudan dari suatu tempat penyucian di kayangan para dewa yang dinamakan juga Bale Katapi. Memasang bleketepe ini dilakukan oleh orangtua pengantin wanita ketika akan memasang tenda. Prosesi pemasangan bleketepe ini biasanya diadakan sebelum acara siraman.

Culture | opinion
Foto : Ist

Tradisi yang telah berjalan dari turun-temurun dari nenek moyang ini juga digunakan sebagai atap atau peneduh saat diadakannya resepsi pernikahan. Tradisi bleketepe ini telah dimulai sejak masa Ki Ageng Tarub yang juga merupakan salah satu raja dari kerajaan Mataram. Dimana pada saat itu ia hendak menikahkan putrinya yang bernama Dewi Nawawingsih dengan Raden Bondan Kejawan. Maka Ki Ageng Tarub membuat peneduh dari anyaman kelapa yakni bleketepe. Supaya para tamu yang tidak muat di dalam rumah mampu merasa teduh dengan adanya anyaman daun kelapa tersebut.

Culture | opinion
Foto : Ist

Bleketepe terdiri dari dua suku kata yang mempunyai arti berbeda-beda. Bla atau Bale memiliki arti tempat. Sedangkan Katapi berasal dari kata tapi yang artinya memisahkan kotoran kemudian dibuang. Dengan demikian bleketepe memiliki arti filosofi yakni dimana orangtua pengantin mengajak pasangan pengantin untuk menyucikan diri dan hati.

Culture | opinion
Foto : Ist

Jika harapan untuk menjadi suci itu terwujud maka semua orang yang diundang masuk ke tempat upacara yang akan menjadi suci dan memancarkan kesucian yang disebut Nur Harapan. Dengan tujuan agar orang yang terlibat dalam upacara perkawinan itu memancarkan cahaya yang disimbolkan dengan daun kelapa muda di semua area upacara pernikahan. Disamping makna penyucian atas pemasangan bleketepe ini, dimaksudkan juga dengan tujuan sebagai tolak bala atau semacam permohonan agar upacara pernikahan dari awal sampai akhir terhindar dari segala mara bahaya dan segala niat jahat.

Culture | opinion
Foto : Ist

Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan, pintu gerbang dari rumah orangtua pengantin wanita akan dipasang tenda/tarub. Termasuk hiasan dekorasi sayur mayur seperti pohon pisang, buah pisang, tebu, buah kelapa dan daun beringin yang dinamakan tuwuhan.  Seiring dengan pemasangan bleketepe tradisi pemasangan tuwuhan dilaksanakan secara bersamaan. Tuwuhan yaitu memiliki makna harapan orangtua kepada pengantin untuk segera mempunyai keturunan, kemakmuran dan kemuliaan seperti raja, kedua pengantin yang memiliki jiwa bijaksana, tercukupi kebutuhan sandang pangan dan papannya serta semoga pengantin terbebas dari segala halangan dan rintangan dalam mengarungi rumahtangga.

Post your comments on Facebook