Konten pornografi saat ini sangat rentan dikonsumsi oleh semua kalangan baik secara sengaja atau pun tidak sengaja, termasuk anak-anak dari gadget yang kita berikan kepada mereka. Karena selain faktor kemudahan untuk mengaksesnya, salah satu faktor lainnya bisa berasal dari komunikasi yang terbatas dari orang dewasa dalam hal ini ialah orangtua. Bahwa konten ‘dewasa’ tersebut sebaiknya dihindari. Dalam beberapa penelitian terbaru menyebutkan bahwa anak-anak yang terpapar konten tersebut mampu merusak otaknya melebihi kerusakan yang ditimbulkan apabila mengonsumsi narkoba.

Belakangan beredar video yang memperlihatkan seorang anak dibawah umur menonton konten yang seharusnya belum pantas ia lihat. Mirisnya lagi, anak tersebut menonton konten tersebut dari gadget orangtuanya. Berita ini sempat menjadi viral dalam minggu ini dan mengakibatkan keresahan dari semua kalangan, terutama para orangtua dan ahli parenting.

Internet dan gadget sebenarnya bagai pisau bermata dua bagi orangtua dalam pengasuhan anak pada zaman sekarang. Dimana satu sisi para orangtua berpendapat melalui internet dan gadget anak-anak dapat belajar banyak hal secara mandiri serta mendapatkan mainan edukatif. Namun disisi yang lain ada banyak informasi yang tidak layak dikonsumsi anak-anak seperti konten pornografi yang sangat mudah diakses.

Pada fase anak-anak, mereka belum mampu mengontrol dengan baik keinginan dalam diri mereka untuk mengetahui berbagai hal. Sementara dunia anak adalah dunia yang penuh dorongan rasa ingin tahu yang besar, temasuk ingin mengetahui konten pornografi sekalipun.

Lantas bagaimana sebenarnya kiat jitu untuk mengomunikasikan kepada anak-anak kita supaya ia menghindari untuk mengonsumsi konten pornografi di gadget, diluar pengawasan orangtuanya?

Dalam hal ini sebagai orangtua, berikut ini ada beberapa langkah yang dapat dilakukan supaya anak-anak mengindari konten tersebut:

Membangun komunikasi terbuka.

Family | family education
Foto : Ist

Komunikasi terbuka merupakan satu-satunya cara untuk mendidik anak zaman sekarang. Ketika anak mempertanyakan mengapa ia dilarang menonton konten yang belum sesuai dengan usianya, orangtua pintar harus mampu memberikan keterangan dengan baik dan mencari formulasi bahasa agar mudah dipahami anak tanpa mengedepankan unsur vulgar. Tindakan memarahi atau menghukum ketika mengetahui anak terlanjur mengonsumsi konten tersebut, menurut sebagian ahli parenting bukan lagi kiat jitu bila Anda menginginkan anak tidak mengulangi aksinya. Justru, tindakan ini akan membuat anak menjadi tertutup, dan sulit mengomunikasikan apa yang ingin ia ketahui. Parahnya lagi, akan membuat anak beraksi secara sembunyi.

Membuat kesepakatan dalam penggunaan gadget dimanapun berada.

Family | family education
Foto : Ist

Poin ini berlaku mutlak bagi orangtua yang membekali anak-anaknya dengan gadget. Sebaiknya memang ada kesepakatan yang tegas antara anak dan orangtua tentang kapan waktunya berselancar di dunia digital. Bila perlu berikan password pada komputer Anda atau gadget anak sehingga ia tidak secara mudah mengakses internet bila tanpa sepengetahuan orang dewasa yang bisa dipercaya.

Memberikan media atau aktivitas fisik diluar permainan gadget.

Family | family education
Foto : Ist

Aktivitas permainan yang berinteraksi dengan alam akan sangat baik untuk mengembangkan kematangan sosial dan emosional anak. Seperti permainan edukatif balok, lego, melukis, bermain pasir, bermain sepeda, berolahraga dan sebagainya.

Post your comments on Facebook