Urban poor, mungkin Anda sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini. Gaya hidup ini kerap dialami oleh para generasi milenial yang ingin terlihat sempurna dan memiliki kehidupan mewah, meskipun harus melakukan sesuatu di luar kemampuan materi yang dimiliki. Seperti kita ketahui, saat ini banyak sekali orang yang seolah berlomba-lomba memiliki aneka macam gadget canggih, berpakaian serba branded, pergi dan berkumpul bersama teman di tempat yang bergengsi, berfoto ria kemudian mengunggahnya pada akun sosial media pribadi.

 

Saat orang yang mengalami urban poor mengunggah segala aktivitas pribadi di media sosial, ia hanya mempunyai satu tujuan, yakni terlihat “wah”. Tanpa mereka sadari, jika apa yang mereka lakukan dapat memberikan dampak negatif bagi diri sendiri. Saat ini, urban poor bukan hanya terjadi pada kalangan remaja saja, orang dewasa bahkan anak-anak pun kerap mengalami hal yang sama.

Menurut beberapa penelitian dalam dunia psikologi sosial, urban poor memiliki dampak negatif bagi orang yang mengalaminya. Bukan hanya itu, urban poor juga membawa bahaya besar yang dapat mengancam psikologis orang yang mengikuti tren gaya hidup ini. Karena secara tidak sadar, gaya hidup ini akan menggerus kepribadian yang bersifat positif dan mengubah seseorang dalam bersikap.

Selain menggerus kepribadian, urban poor juga memiliki beberapa dampak negatif lainnya. Apa saja ya? Berikut pemaparannya.

Urban Poor
Foto: Ist

Sulit mengatur keuangan pribadi

Dampak negatif pelaku urban poor ini disebabkan karena setiap kali keluar rumah, sudah dipastikan mereka akan membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan. Sebagian pelaku gaya hidup milenial ini, biasanya membeli barang hanya karena hasutan atau karena mengikuti tren yang tengah berkembang dikalangan masyarakat. Bahkan, pelaku gaya hidup ini membeli barang tanpa memiliki keinginan dan alasan yang kuat, atau dengan alasan yang sangat tidak relevan seperti sekadar ingin menyaingi barang milik orang lain.

Dengan alasan seperti ini mereka akan membeli barang, meskipun pada akhirnya tidak terpakai dan sia-sia. Sehingga bisa dipastikan, mereka akan sangat sulit untuk mengatur keuangan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan kehabisan uang tabungannya hanya karena untuk memenuhi gaya hidup urban poor ini. Bukan hanya itu, mereka juga terkadang memiliki banyak tagihan dari kartu kredit yang sulit untuk dibayar.

Urban Poor
Foto: Ist

Memiliki sikap komplusif

Sikap komplusif ini sangat berbahaya bagi orang yang mengalaminya. Suatu keadaan di mana orang melakukan tindakan yang bertentangan dengan kemauan, serta sadar saat melakukannya. Tindakan ini tidak bisa dicegah dan ditahan, meskipun pelaku menyadari jika apa yang dilakukan tidak sesuai dengan hati nurani. Perilaku ini berkembang saat seseorang membiasakan diri untuk melakukan sebuah aktivitas yang dipaksakan, sehingga menjadi kebiasaan dan semakin lama semakin berkembang menjadi sebuah kebutuhan.

Rasa ingin memenuhi kebutuhan jika tidak dapat dikontrol dengan baik maka akan berkembang pada sisi negatif. Dan pada akhirnya, kebiasaan yang dipaksakan tersebut menjadi sulit untuk dihentikan, sehingga mereka akan sulit membedakan mana prioritas dan juga mana yang hanya sebuah keinginan semu.

Urban Poor
Foto: Ist

Gangguan stres berlebih

Saat pelaku urban poor tidak mampu memenuhi kebutuhan yang dapat membuat dirinya terlihat mewah dan terlihat baik di lingkungannya, maka gangguan pikiran seperti stres akan datang menghampiri. Secara psikologi, orang tersebut akan merasa tersingkirkan oleh orang lain, bahkan oleh dirinya sendiri. Terlebih, para pelaku urban poor merupakan orang-orang yang memang lebih mementingkan materi sebagai tolak ukur penerimaan seseorang dalam suatu kelompok tertentu.

Saat seseorang sudah dirasa tidak sepadan, maka para pelaku urban poor akan meninggalkan orang tersebut begitu saja. Tidak mau mengenal, bahkan enggan untuk bergaul. Orang-orang yang tergabung dalam sebuah kelompok di kalangan urban poor bukanlah sahabat yang mau mendengarkan keluh kesah orang lain. Sehingga bisa dipastikan, jika mereka akan pergi meninggalkan orang yang sudah tidak sepadan.

Urban Poor
Foto: Ist

Untuk dapat terhindar dari pengaruh urban poor yang berdampak negatif, ada baiknya bersosialisasi dan bergaul dengan siapapun yang mampu menerima kehadiran Anda tanpa memandang status, harta, dan jabatan. Jangan sampai memaksakan suatu keadaan hanya karena ingin mendapat penerimaan dari orang lain dalam berteman. Anda bisa mencari teman yang mau berbagi suka dan duka serta memiliki pola pikir yang sama.

Post your comments on Facebook