Musik pop Indonesia terkini yang cenderung berkiblat ke Barat seperti rock dan jazz ternyata pernah memiliki masa lalu yang menarik untuk disimak. Pada tahun 1920’an, musik pop di Indonesia adalah keroncong, stambul, irama Melayu dan gambus. Generasi milenial mungkin tidak familiar dengan nama dan aliran-aliran musik tersebut karena mereka yang masih bertahan atau setidaknya menggandrungi musik-musik tersebut hingga kini tidak akan tersorot kamera media mainstream dan biasanya tersebar di luar daerah atau berada dalam suatu komunitas yang terbatas seperti Keroncong Tugu di Jakarta Utara yang masih eksis hingga saat ini.

Beruntunglah kita memiliki seorang Haryadi Suadi, akademisi senior dari Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, yang mendokumentasikan sejarah dan eksistensi musik Indonesia dalam bukunya Djiwa Manis Indoeng Disajang: Moesik dan Tempat Hiboeran di Indonesia Tempo Doeloe Jilid I (Penerbit Kiblat, 2017). Buku tersebut merupakan babon buku sejarah musik Indonesia yang di dalamnya tercatat dokumentasi secara kronologis beserta segala sumber referensinya yang sangat rinci. Meskipun bahasannya terasa komprehensif, Haryadi mengungkapkan di pengantarnya bahwa kendala utama penulisan buku ini adalah betapa minimnya informasi mengenai sejarah musik Indonesia.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Pertemuan budaya Indonesia dengan Portugis menjadi titik awal pembahasan Haryadi. Mengarungi lautan luas hingga Benua Asia untuk memburu rempah-rempah, Portugis turut membawa serta artefak kebudayaan musik mereka. Beberapa jenis musik yang dimainkan para pelaut Portugis seperti moresco, prounga dan kafrinyu diiringi alunan alat-alat musik seperti biola, seruling, rebana dan gitar kecil (ukulele) berdawai lima. Ketika Sunda Kelapa (Jayakarta) jatuh ke tangan Belanda, lagu-lagu cinta berlirik Portugis masih sering didendangkan dari balik benteng VOC yang dalam perjalanannya dikenal sebagai musik keroncong.

Selain uraian fakta-fakta sejarah, Haryadi juga menyertakan foto dan gambar sebagai bentuk pendukung uraiannya. Iklan Tio Tek Hong Batavia di akhir tahun 1920’an adalah salah satunya. Tio Tek Hong dikenal sebagai perusahaan rekaman yang menjual perlengkapan musik, piringan hitam dan buku-buku lagu keroncong dan stambul. Dua puluh tahun kemudian pada tahun 1940, perusahaan Jepang turut masuk ke Indonesia memproduksi piringan hitam.

Culture | Books
Foto: Ist

Berkaca pada sejarah yang tersaji dalam buku ini, ternyata ‘kebaruan’ sejak dahulu memang akan selalu mendapatkan resistensi. Musik keroncong sejak awal abad ke 20 telah menjadi hiburan yang paling populer di Jawa, namun sebagian besar publik menganggap keroncong sebagai musik yang bermutu rendah dan pecomberan. Istilah pecomberan digunakan oleh penulis bernama Fiat Lux di majalah Liberty terbitan Juni, 1930, yang mengkritik musik keroncong dalam tulisannya yang berjudul”Kasi Masoek Ratjoen Dalam Roemahnja”.

Salah satu isu menarik yang perlu diangkat dari buku ini dan masih relevan untuk dibahas hingga saat ini adalah saling-silang budaya Indonesia yang hingga kini masih terus menjadi perdebatan. Musik keroncong, dalam konteks ini sebagai musik mainstream pada era pra-kemerdekaan, adalah milik semua. Terdapat grup keroncong bangsa Belanda, golongan Indo, golongan Hoa Kiau dan bentukan bangsa pribumi. Kontradiksi mengenai adat istiadat sangat kental pada masa itu. Bahkan mereka yang dari golongan Hoa Kiau dianggap memalukan bagi keluarga apabila tampil di arena keroncong dan budaya lokal seperti karawitan. Meskipun, Haryadi mengemukakan bahwa pergaulan antar sesama yang telah berjalan sekian abad memungkinkan terjadinya hubungan persahabatan, baik secara budaya, perdagangan bahkan perkawinan.

Culture | Books
Foto: Ist

Bagi para pegiat musik, seni dan sejarah, buku Djiwa Manis Indoeng Disajang: Moesik dan Tempat Hiboeran di Indonesia Tempo Doeloe Jilid I merupakan sumber referensi yang sangat komprehensif untuk memahami dinamika musik pop sejak akhir abad ke 19 hingga tahun 1945. Musik keroncong mungkin sudah ‘tergilas’ zaman akan tetapi apabila kita mau berkaca pada sejarah dan berpandangan optimis tentangnya, musik sejatinya merupakan salah satu instrumen budaya yang dapat berfungsi sebagai alat pemersatu. Hal tersebut telah dibuktikan Haryadi meskipun secara tidak langsung, di mana perjalanan musik keroncong sebagai hiburan populer masyarakat kelas bawah pada akhirnya menjadi musik perjuangan kemerdekaan melalui tokohnya seperti Ismail Marzuki dan Koesbini.

Post your comments on Facebook