Tak sedikit orang yang menderita sakit parah hingga hidupnya terpaksa bergantung pada sejumlah alat medis. Ketika alat tersebut dilepas, maka kemungkinan terbesarnya adalah mati. Oleh karena itulah, dilema sering kali melanda, terutama pada orang terdekat maupun keluarga pasien. Di satu sisi, mereka ingin terus berharap, tapi di sisi lain, harapan itu telah sirna.

Para ilmuwan pun menciptakan satu cara sebagai solusi untuk menghentikan penderitaan para pasien tersebut, yaitu dengan menjemput kematian. Metode medis ini dikenal dengan sebutan euthanasia. Berikut ini penjelasan di balik fakta-fakta euthanasia, menukar rasa sakit dengan kematian.

1.   Apa itu euthanasia?

Euthanasia
Foto: Ist

Euthanasia diambil dari bahasa Yunani yang berarti good death atau tindakan dokter secara sadar untuk mengakhiri hidup seseorang yang menderita secara fisik tanpa rasa sakit sedikit pun. Namun, tidak semua orang bisa melakukan praktik medis seperti ini. Euthanasia hanya dilakukan untuk pasien yang menderita sakit parah dan nyaris tak memiliki harapan hidup lagi, seperti mereka yang telah koma beberapa bulan dan harus bergantung pada alat yang menempel di tubuhnya.

2.   Euthanasia dilakukan atas permintaan pasien

Euthanasia
Foto: Ist

Biasanya, keputusan untuk melakukan euthanasia didasari oleh permintaan pasien sendiri melalui surat pernyataan atau media lain. Namun, pada kasus tertentu tindakan ini bisa dilakukan atas permintaan keluarga atau orang terdekat jika pasien sudah tidak bisa ditolong lebih jauh. Biasanya, hal seperti ini terjadi karena keluarga sudah pasrah akan kesembuhan pasien dan tidak bisa membiayai pengobatan lebih lama.

3.   Tidak semua negara melegalkan euthanasia

Euthanasia
Foto: Ist

Hanya ada sembilan negara yang melegalkan praktik euthanasia dari 195 negara yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Negara tersebut adalah Amerika Serikat, Belanda, Belgia, Colombia, India, Jepang, Jerman, Luksemburg, dan Swiss.

4.   Euthanasia tak sama dengan Physician-Assisted Suicide

Euthanasia
Foto: Ist

Jika euthanasia hanya dilakukan untuk orang yang menderita karena sakit parah, maka physician-assisted suiced merupakan praktik yang lebih layak disebut sebagai bunuh diri karena dilakukan tanpa alasan kesehatan apapun. Physician-assisted suicide ini umumnya dilakukan oleh mereka yang sudah tidak memiliki alasan untuk hidup atau putus asa, tapi praktiknya diawasi oleh dokter.

5.   Ada lima jenis euthanasia

Euthanasia
Foto: Ist

Jenis euthanasia yang pertama adalah volunter, yaitu saat pasien meminta untuk mengakhiri hidupnya dengan alasan medis yang kuat. Berbeda dengan euthanasia non-volunter yang dilakukan saat pasien sudah tidak mampu untuk membuat pilihan antara hidup dan mati sehingga membutuhkan orang lain yang memutuskannya, seperti orang terdekat ataupun keluarga. Berikutnya adalah euthanasia involuntary yang terjadi ketika pilihan yang dibuat bertolak belakang dengan keinginan pasien. Jenis euthanasia satu ini seringkali dianggap sebagai tindakan pembunuhan.

Jenis euthanasia keempat adalah euthanasia aktif yang berarti mengakhiri hidup seseorang secara sadar menggunakan obat yang telah ditentukan oleh dokter. Terakhir, euthanasia pasif yaitu penghentian tindakan medis oleh dokter agar pasien meninggal dengan sendirinya. Biasanya dilakukan dengan melepas sejumlah alat medis atau menghentikan infus, dan lainnya.

6.   Ada tradisi serupa di India

Euthanasia
Foto: Ist

India merupakan negara yang baru saja melegalkan praktik euthanasia di tahun 2011. Namun, ternyata mereka memiliki tradisi serupa yang disebut dengan thalaikoothal. Tradisi ini biasanya dilakukan pada orang tua yang sudah lemah. Mereka diminta untuk minum susu sapi segar sampai mengalami masalah pernapasan hingga akhirnya meninggal dunia.

7.   Indonesia melarang tindakan euthanasia

Euthanasia
Foto: Ist

Indonesia adalah salah satu negara yang melarang tindakan euthanasia karena dianggap bertentangan dengan Pasal 344 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) yang berbunyi: “Barang siapa menghilangkan nyawa orang lain atas permintaan orang itu sendiri, yang disebutkannya dengan nyata dan sungguh-sungguh, dihukum penjara selama-lamanya 12 tahun.”

Meski mungkin untuk dilakukan, tapi pada faktanya praktik ini masih menjadi pro dan kontra di kalangan ahli medis. Semoga hal ini tak pernah terjadi pada kamu dan orang-orang di sekitarmu, ya!

Post your comments on Facebook