Pada akhirnya, krisis yang terjadi di Sudan mulai menyita perhatian dunia. Menurut laporan resmi yang dihimpun dari beberapa tim medis, hingga kini ada setidaknya 120 orang yang meninggal akibat penyerangan oleh pihak militer terhadap demonstran yang sebagian besar adalah warga sipil sejak awal Juni lalu. Bahkan, ada sekitar 40 jenazah yang ditemukan di Sungai Nil.

1.   Apa yang terjadi di Sudan?

Sudan telah dikontrol penuh oleh Omar al-Bashir selama tiga dekade terakhir. Diktator berusia 75 tahun tersebut bahkan masih berkuasa ketika Sudan Selatan memerdekakan diri pada 2011 lalu. Namun, posisi al-Bashir sudah mulai goyah sejak Desember 2018 lalu karena pemerintahannya memberlakukan pengetatan anggaran dengan harapan bisa memperbaiki situasi ekonomi yang kian carut-marut.

Krisis Sudan
Foto: Ist

Pada 2018 lalu, African Development Bank Group menyebutkan utang luar negeri Sudan sudah mencapai 62 persen dari total PDB dan tingkat inflasinya diestimasi menyentuh 48 persen. Demonstrasi yang awalnya menolak pemangkasan subsidi terhadap pangan dan bahan bakar di sejumlah titik, akhirnya menjalar ke ibu kota Khartoum hingga meluas menjadi tuntutan penggulingan al-Bashir.

2.   Seperti apa kepemimpinan al-Bashir?

Al-Bashir merupakan salah satu diktator terlama di Afrika dengan rekam jejak penuh pertumpahan darah. Sejak mengambil alih kekuasaan melalui kudeta di tahun 1989 silam, ia selalu memenangi pemilu yang jauh dari kata demokratis. Krisis terbesar yang pernah terjadi di bawah pemerintahannya tercatat pada tahun 2004 di Darfur.

PBB melaporkan, ada sekitar 1,65 juta warga Darfur yang menjadi pengungsi lokal dan lebih dari 200.000 lainnya melarikan diri ke negara tetangga, Chad. Saat itu, al-Bashir melakukan tindak kejahatan HAM di Darfur dengan mendukung milisi Janjaweed untuk melakukan pemerkosaan, pembunuhan, dan pembakaran di desa-desa. Tercatat lebih dari 15.000 nyawa warga sipil melayang karena tindakan kejinya.

Krisis Sudan
Foto: Ist

Di tahun 2018, al-Bashir merespons demonstrasi dengan kejam. Amnesty International melaporkan, pemerintah Sudan telah menggunakan kekuatan berlebihan hingga membuat setidaknya 45 orang kehilangan nyawanya. Bahkan, demi membatasi pergerakan rakyat, al-Bashir memerintahkan otoritas keamanan Sudan untuk melakukan penggeledahan dan penangkapan.

3.   Apa peran pihak militer Sudan?

Pada 6 April 2019 lalu, sejumlah demonstran tidak beranjak dari alun-alun Khartoum yang berlokasi persis di depan markas militer Sudan. Mereka mendesak agar pihak militer melakukan kudeta agar al-Bashir lengser dari jabatannya. Keinginan itu akhirnya terpenuhi pada 11 April 2019. Masyarakat pun bersorak merayakan berakhirnya kekuasaan tiga dekade al-Bashir di tangan para tentara.

Krisis Sudan
Foto: Ist

Ironisnya, situasi bukan semakin membaik. Militer yang menggulingkan al-Bashir justru menolak memenuhi tuntutan rakyat lainnya, yaitu menyerahkan kekuasaan pada sipil. Dewan Transisi Militer atau TMC yang terdiri dari tujuh orang jenderal dan dipimpin oleh Letnan Jenderal Abdel Fattah Abdelrahman Burhan praktis menjadi penguasa Sudan hingga saat ini.

4.   Bagaimana nasib warga sipil Sudan?

Sebagian besar anak muda dan perempuan menjadi poros utama kekuatan protes selama beberapa bulan terakhir ini di Sudan. Alaa Salah menjadi salah satu sosok perempuan yang viral dalam pergolakan ini. Dalam sebuah rekaman video, ia terlihat berdiri di atas mobil untuk memimpin demonstran bernyanyi dan membakar semangat mereka. Peserta demo bahkan membentuk perwakilan untuk bernegoisasi dengan militer demi membuka jalan untuk transisi kekuatan.

Krisis Sudan
Foto: Ist

Namun, proses negoisasi berakhir buruk pada tanggal 3 Juni lalu. TMC mengakui memerintahkan pembubaran demonstran secara paksa dengan menggunakan kekerasan hingga 120 warga sipil meninggal dunia. Meski begitu, juru bicara TMC mengaku menyesal atas tindakan tersebut.

5.   Apa yang akan terjadi berikutnya?

Negara adidaya, Amerika Serikat mendapat kritikan pedas karena dianggap diam saja melihat krisis yang terjadi di Sudan. Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat sendiri sebenarnya sudah mengirimkan utusan khusus, yakni Donald Booth sebagai bentuk solusi politik yang akan merefleksikan keinginan sebagian besar masyarakat Sudan. Sementara itu, Amnestry International mengimbau agar pihak militer Sudan menahan diri untuk tidak menyerang warga sipil lagi. Mereka berharap, warga Ethiopia mampu menekan Perdana Menteri Abiy Ahmed untuk segera melakukan upaya-upaya diplomatik, salah satunya berdialog dengan TMC. Selain itu, di saat yang bersamaan Uni Afrika pun telah melakukan pembekuan keanggotaan Sudan.

Post your comments on Facebook