Menikmati sajian film Aruna dan Lidahnya ibarat menyantap seporsi makanan kaya rasa dalam satu kecapan. Penonton dipastikan bisa merasakan betapa kompleksnya gabungan rasa manis, asam, asin, pahit, getir, hingga pedas dalam film yang siap disantap publik mulai 27 September 2018 mendatang.

Aruna dan Lidahnya menceritakan tentang sosok sentral Aruna Rai (Dian Sastrowardoyo), seorang ahli wabah yang ditugaskan bekerja berkeliling ke empat kota di Indonesia sambil bertualang kuliner. Investigasi Aruna berjalan paralel dengan petulangan kuliner bersama sahabatnya Bono (Nicholas Saputra) yang kebetulan berprofesi sebagai chef. Dalam perjalanannya, dua sahabat ini ditemani oleh dua orang lainnya yakni, Nad (Hannah Al Rasyid) yang sengaja diundang oleh Bono, dan juga Farish (Oka Antara), mantan rekan kerja yang pernah ditaksir oleh Aruna.

Culture | movie
Foto : Ist

Dalam pekerjaan investigasinya, Aruna ternyata menemukan ketidaksesuaian data dengan temuan di lapangan yang menimbulkan sejumlah kecurigaan. Sementara situasinya semakin rumit, Farish justru mendesak Aruna agar tetap menjalankan pekerjaannya sesuai prosedur. Hal ini menyebabkan Aruna mengalami konflik internal karena di salah satu sisi ia memendam kekaguman, tapi menyadari bahwa Farish tengah disalahgunakan oleh kepentingan yang tak diketahui keduanya.

Interaksi keempat tokoh di tengah pekerjaan dan wisata kuliner mampu menjalin cerita yang menarik. Sinema besutan Palari Films arahan sutradara Edwin tersebut sukses mengombinasikan antara cinta, persahabatan, kuliner, hingga intrik dalam suatu perusahaan.

Culture | movie
Foto : Ist

Daya tarik utama film ini adalah sosok empat pemeran utama yang digambarkan secara apik memiliki karakter saling bertolak belakang. Ada konflik terkait percintaan sekaligus ‘benci-tapi-rindu’ di antara mereka yang tentu saja menguatkan aspek drama sekaligus membuat penonton gemas. Bukan hanya itu saja, perpaduan makanan lezat dan obrolan berkelas dalam dialog juga menjadi daya tarik lainnya dari film ini. Penonton dipastikan menelan liur saat gurihnya Rawon khas Surabaya, Campur Lorjuk khas Pamekasan, Pengkang khas Pontianak, Choi Pan khas Singkawang, hingga Nasi Goreng menjadi rupa-rupa menu makananan Indonesia yang hadir menggiurkan pada layar.

Dikemas secara ringan oleh Edwin, film ini bergerak dengan obrolan di antara keempat karakter di meja makan, tapi tetap memiliki kedalaman yang intens. Seperti juga yang terjadi dalam keseharian, ketika empat orang berada dalam satu perjalanan, sangat mungkin hal-hal yang tak diinginkan terjadi, seperti halnya kesalahpahaman ataupun prasangka. Aruna dan Lidahnya memotret keadaan tersebut dengan cara yang terbilang natural. Hubungan antar manusia di dalamnya ditampilkan sealami mungkin, sehingga mudah bagi penonton merasa terhubung dengan semua aspek di dalamnya.

Post your comments on Facebook