Industri perfilman Indonesia kembali berkembang. Kali ini Wanita.me akan membahas film bergenre drama yang diangkat dari sebuah novel. Film Critical Eleven yang sudah tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 10 Mei lalu, sukses membuat para penonton berlinang air mata.

critical eleven | Movies
Foto: Ist

Film Critical Eleven, kisah cinta yang dikemas apik oleh sutradara Monti Tiwa dan diperankan dengan total oleh Reza Rahadian dan Adinia Wirasti. Tidak heran, film ini kemudian menampilkan chemistry yang sangat apik antara Reza dan Asti. Sejak awal, penonton akan dengan mudah jatuh cinta dengan melihat kemesraan Reza dan Asti saat mereka pertama kali bertemu di pesawat. Bagi Reza dan Asti, Critical Eleven menjadi film ketiga yang memasangkan mereka. Sebelumnya, mereka bertemu dalam film “Jakarta Maghrib” dan “Kapan Kawin?”.

Di dalam dunia penerbangan dikenal istilah critical eleven, yaitu sebelas menit paling kritis di pesawat. Momen critical eleven adalah tiga menit setelah lepas landas, dan delapan menit sebelum mendarat. Secara statistika, 80% kecelakaan pesawat terjadi dalam rentang sebelas menit tersebut. Istilah critical eleven ini kemudian diterapkan penulis Ika Natassa pada hubungan manusia lewat novel Critical Eleven. Saat pertemuan pertama, tiga menit awal adalah masa untuk menimbulkan kesan baik atau buruk, sedangkan delapan menit terakhir menjadi momen penentuan. Apakah ingin bertemu dan mengenal lebih jauh lagi, atau malah malas untuk bertemu lagi.

critical eleven | Movies
Foto: Ist

Melalui Critical Eleven, pemenang Piala Citra Reza Rahadian dan Adinia Wirasti menghidupkan Ale dan Anya dari novel national bestseller karya Ika Natassa, pasangan muda yang bertemu dan saling terpikat dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Pertemuan itu membawa mereka ke jenjang pernikahan, dan membuat keduanya mengambil keputusan besar sebagai pasangan karena pengorbanan yang harus dilakukan salah satu dari mereka untuk pindah ke New York.

Kota yang tidak pernah tidur ini ternyata membawa berkah bagi keduanya, kehamilan Anya yang mengubah hidup mereka. Sampai Ale dan Anya diterjang sebuah insiden yang membuat mereka tidak hanya mempertanyakan cinta, namun juga bergumul dengan ego dan harus memilih: menyerah dalam amarah atau menyembuhkan luka dan bertahan dalam ketidakpastian. Pilihan sulit itu bertambah pelik dengan kehadiran seseorang yang sudah lama mencintai Anya.

Film yang dikemas dalam durasi sekitar 135 menit ini seakan melengkapi alur novel. Jika novelnya ditulis dengan alur maju mundur yang terus mengikat pembacanya sampai halaman terakhir. Maka, filmnya menyederhanakan alur, tetapi menajamkan konflik yang membuat penonton akan betah menantikan babak akhir film. Film yang diproduksi Starvision dan Legacy Pictures ini merupakan hasil kolaborasi sutradara Monty Tiwa dan Robert Ronny.

critical eleven | Movies
Foto: ist

Pada departemen naskah, kisah novel diadaptasi Jenny Jusuf bersama Ika, Monty, dan Robert. Proses diskusi yang panjang dilakoni mereka, terutama Jenny bersama Ika. Sebelumnya Jenny sukses mengadaptasi ”Filosofi Kopi” karya Dewi Lestari menjadi naskah film. Ika sebagai penulis novel dan naskah mengungkapkan, karena film ini diadapatasi dari novel, jadi ceritanya memang tidak 100% sama dengan novel. Namun, Ika meyakinkan, adegan penting yang berkaitan dengan alur cerita pasti ada, dan dia berharap bisa memenuhi ekspektasi pembaca novelnya.

Karakter Ale (Reza Rahardian) dan Anya (Adinia Wirasti) secara visual memang sukses mengaduk-aduk perasaan penonton. Selain tentu saja dibuat jatuh cinta, penonton bisa turut hanyut merasakan kepedihan, kemarahan, dan kerapuhan dua karakter utama tersebut. Naskah yang kuat, didukung ekspresi para aktor dan aktris, membuat Critical Eleven menjadi film drama yang nyaman untuk disimak. Jangan lupakan juga, interaksi antara Reza dan Asti bersama Slamet Rahardjo dan Widyawati membuat film ini menjadi paket lengkap yang kuat secara watak dan cerita.

Dari sisi musik, komposer Andi Rianto memberi sentuhan magisnya lewat scoring yang membalut keseluruhan film. Tak lupa, soundtrack yang digubah dan dinyanyikan Isyana Sarasvati berjudul “Sekali Lagi”. Untuk Isyana, film ini menjadi film pertama yang dia tulis soundtrack-nya. Untuk Anda yang belum sempat menonton film Critical Eleven ini, sempatkan waktu Anda di weekend ini untuk pergi ke bioskop kesayangan Anda karena film ini masih beredar di Bioskop seluruh Indonesia.

Post your comments on Facebook