Di era modern dan bebas-terbuka ini, berkeluarga menjadi suatu wacana besar yang melibatkan banyak pertimbangan. Selain cinta, ekonomi biasanya merupakan salah satu faktor yang paling dipertimbangkan; biaya pernikahan, cicilan rumah, biaya sekolah anak, belanja bulanan, kreditan kendaraan bermotor dan lain-lain. Terlepas dari pertimbangan-pertimbangan yang ada, berkeluarga pada dasarnya adalah sebuah cita-cita luhur berasaskan cinta dan kasih sayang untuk memupuk masa depan yang baik.

Wanita.me kali ini akan mengupas fungsi dan disfungsi keluarga yang disarikan dari berbagai sumber. Artikel singkat ini bertujuan untuk memberikan perspektif dalam konteks bahwa keluarga memiliki fungsi sebagai satu kesatuan kelompok sosial. Pertama, perlu ditekankan bahwa berkeluarga dan pernikahan pada dasarnya adalah dua hal berbeda yang dilandasi oleh cita-cita yang sama, yang salah satunya adalah untuk menambah keturunan. Oleh sebab itu tidak sedikit anak yang hidup bahagia dan tumbuh dewasa dengan baik meskipun orang tuanya bercerai. Hal tersebut disebabkan berjalannya fungsi keluarga dengan baik.

Eva C. Ritvo dan Ira D. Glick dalam bukunya Concise Guide to Marriage and Family Theraphy merangkum 10 proses yang menunjukkan fungsi keluarga berjalan dengan baik, antara lain adalah:

1. Hubungan dan komitmen setiap anggota keluarga untuk saling menyayangi dan mendukung.
2. Menghormati sikap dan sifat otonomi setiap individu dalam keluarga, khususnya dalam menjaga tumbuh-kembang dan kesejahteraan setiap generasi dalam keluarga mulai dari yang termuda hingga tertua.
3. Bagi pasangan, hubungannya berlandaskan rasa hormat dan saling berbagi tanggung jawab.
4. Sifat saling memperhatikan dan mengayomi yang terbina dalam hal merawat anggota keluarga yang lebih rentan seperti anak-anak dan orang tua.
5. Stabilitas organisasi keluarga yang terlihat jelas pada interaksi sehari-hari seperti sopan santun.
6. Mudah beradaptasi dengan perubahan, baik yang datang dari dalam (peceraian dan kematian) maupun luar (kehilangan pekerjaan, cacat karena kecelakaan dan lain-lain).
7. Komunikasi yang terbuka dan jelas dalam mengekspresikan harapan, emosi, empati serta membuat interaksi keluarga menyenangkan.
8. Dapat memecahkan masalah secara efektif.
9. Memiliki landasan kepercayaan yang sama sehingga proses mutual trust dapat tercapai dengan mudah. Selain itu, hal ini dapat memudahkan keluarga dalam menetapkan nilai etika yang berlaku.
10. Sumber daya yang cukup untuk kebutuhan dasar ekonomi dan dukungan psikososial yang luas dalam jaringan kekeluargaan serta kelompok sosial yang lebih besar.

Sepuluh poin di atas disebut “proses” oleh penulisnya karena memang poin-poin tersebut merupakan proses tiada akhir. Meskipun, terdapat beberapa hal normatif yang dapat disepakati di awal pernikahan seperti istri tidak boleh bekerja atau suami tidak boleh bekerja di luar kota atau bahkan anak harus bersekolah di sekolah favorit dan lain-lain.

Pernikahan juga perlu dilihat sebagai awal terjadinya kesepakatan pembentukan organisasi keluarga. Beberapa fungsi keluarga yang disebutkan di atas seharusnya sudah berjalan dalam lingkup pernikahan, seperti pembagian kekuasaan (otoritas dan tanggung jawab). Langkah terbaik dalam membagi tanggung jawab adalah berdasarkan kesepakatan bersama (joint decision) dan kompetensi yang ada (fisik atau keahlian khusus).

Disfungsi keluarga, dalam hal ini bukan saja kebalikan dari 10 proses fungsi keluarga yang telah disebutkan di atas, akan tetapi utamanya adalah masalah struktural organisasi keluarga. Salah satu ciri disfungsi keluarga adalah terbentuknya koalisi internal sehingga keluarga bukan lagi satu kesatuan yang utuh akan tetapi menjadi kelompok-kelompok yang utuh. Oleh sebab itu, jangan remehkan perasaan seorang kakak yang iri dengan adiknya karena lebih diperhatikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa fungsi orang tua tidak berjalan dengan baik dalam menyediakan rasa aman (security) bagi setiap anggota keluarganya.

Sebagai bahan kontemplasi, berkeluarga adalah salah satu perilaku manusia yang paling primitif. Sejarah panjangnya sejak zaman Nabi Adam hingga zaman sekarang dapat ditelusuri di banyak literatur. Apabila manusia sudah ‘terlatih’ melaksanakan proses berkeluarga selama itu, bukankah seharusnya berkeluarga adalah hal yang mudah? Harapan adalah nafas universal dalam berkeluarga. Pupuk terus harapan dalam keluarga menuju ke arah dan masa depan yang baik.

Post your comments on Facebook