Dalam gemerlap dan hingar-bingarnya industri fashion internasional terkini, kehadiran wanita perancang busana baru justru semakin sedikit sebagaimana dilansir dari media The New York Times (07/05). Persaingan yang ketat dan biaya promosi (fashion show, product launching dan lainnya) yang tinggi menjadi kendala utama bagi para pemain baru. Selain itu, para perancang wanita senior seperti Carolina Herrera, Phoebe Philo dan Donna Karan mulai mundur teratur dari panggung catwalk. Sulitnya bertahan di dunia fashion pun diperlihatkan oleh pemain-pemain lama yang terus memodifikasi brand mereka seperti Victoria Beckham, Stella McCartney dan si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen.

Fashion | Designer
Foto: Ist

Rumit dan mahalnya proses produksi fashion di rumah-rumah mode ternama akhirnya membuat beberapa perancang busana merintis rumah modenya sendiri melalui jalur independen. Di antara perancang busana independen yang telah diakui sebagai pionir di New York adalah Maria Cornejo, Mona Kowalska dan Rachel Comey. Foto di atas merupakan koleksi busana musim semi mereka yang dimuat di laman The New York Times (07/05). Bagi mereka, jalur independen membuka eksplorasi kreativitas yang lebih luas dan memberikan pilihan moral (bukan hanya bisnis) yang sangat etis bagi karyawan, produsen dan supplier serta lingkungan. Selain itu, terbukti jalur independen memberikan kelangsungan usaha yang panjang mengingat mereka bertiga sudah menjalankan usahanya selama puluhan tahun.

Maria Cornejo

Maria merupakan salah satu pionir industri fashion independen di New York. Wanita yang kini berusia 55 tahun ini berasal dari Chili. Di usia 12 tahun, ia dan orang tuanya meninggalkan Chili yang sedang diamuk perang. Ia kemudian tinggal di London dan Paris sebagai pengungsi dan imigran. Pada tahun 1980’an, Maria sempat membuka toko pakaian di London bernama Richmond Cornejo. Baginya, toko tersebut merupakan ruang kolaborasi antara seniman, perancang busana, penjual pakaian dan konsumen. Maria mengenang bahwa ia tidak pernah berniat untuk merancang busana hingga suatu ketika ada seorang ibu muda yang memohon untuk dibuatkan busana yang menarik agar terlihat cool tentunya dengan harga yang terjangkau.

Fashion | Designer
Foto: Ist

Pada tahun 1996, Maria bersama keluarganya pindah ke New York dan merintis label busana Zero. Kini labelnya dikenal dengan nama Zero + Maria Cornejo dan menjadi salah satu kiblat fashion New York. Salah satu ciri khas desain Maria adalah memaksimalkan satu lembar bahan untuk satu rancangan. Kepada The New York Times, Maria mengungkapkan bahwa salah satu misinya sebagai perancang busana adalah mengurangi limbah kain dan kimia dari industri fashion. Atas misinya tersebut, Michelle Obama pernah memujinya sebagai salah satu perancang eco-friendly di Amerika Serikat.

Mona Kowalska

Fashion | Designer
Foto: Ist

Mona tumbuh besar di Polandia dalam era komunis. Mona yang kini berumur 54 tahun mengungkapkan bahwa inspirasi fashion pertamanya ia dapatkan dari sang ibu. Sebuah hadiah sepatu selop dari sang ibu semasa kecilnya seakan-akan merangsang intuisi fashion-nya. Mona mulai gemar berkaca dan memadu-padankan pakaiannya dengan sepatu tersebut. Di saat itu, Mona beranggapan bahwa busana bersifat magis dan dapat mengkomunikasikan banyak hal. Inspirasi tersebut menjadi filosofinya dalam membangun label A Détacher. Uniknya, Mona hanya meluncurkan dua koleksi busana setiap tahunnya. Menurut Mona, seharusnya kita tidak perlu memiliki banyak koleksi busana di lemari dan hanya gunakan busana yang powerful setiap harinya. Mona memang pernah menjadi sorotan media karena menggunakan busana yang itu-itu saja sepanjang tahun.

Rachel Comey

Rachel merupakan salah satu perancang busana independen yang cukup unik dalam menyelenggarakan fashion show koleksi rancangannya. Ia selalu memilih restoran yang cozy sebagai venue-nya di mana pengunjung dapat melihat model dengan busananya berlalu-lalang tentunya sambil menikmati makan malam. Bagi Rachel, peragaan busana di catwalk pada umumnya sangatlah tidak efektif di mana para elit duduk santai di pinggir panggung sementara para penikmat busana sebenarnya berdiri berdesak-desakan.

Fashion | Designer
Foto: Ist

Desain Rachel terinspirasi dari masa mudanya sebagai perempuan Brooklyn. Ia mengenang bahwa seringkali anak muda menginginkan kombinasi rancangan busana yang seimbang antara seksi, nyaman dan terlihat smart. Selain itu, Rachel juga terinspirasi dari aktivitas-aktivitas keseharian masyarakat perkotaan. Menurutnya, setiap event tentunya membutuhkan busana yang berbeda. Hingga kini, Rachel hanya melayani pesanan dari ritel-ritel. Rachel juga membuka beberapa toko di New York dan Los Angeles dengan koleksi terbatas dan berbasis pesanan. Sama seperti Maria Cornejo, Rachel juga tidak suka menambah-nambah limbah dari industri rancang busana.

Post your comments on Facebook