Ghost Writer menjadi salah satu film Indonesia terbaru karya Bene Dion Rajagukguk yang terbilang cukup bikin penasaran. Pasalnya, jika dilihat dari aktor, judul, dan latar belakang Bene yang seorang komika, tentu membuat para pecinta film bertanya-tanya tentang genre film ini.

Ide cerita yang unik

Rasa penasaran tentu diawali dari kutipan premis film ini yang berbunyi, ‘What if your ghost writer was a real ghost?’ Dan semua terbayar di menit-menit awal film karena penataan lampu, pemilihan musik, hingga lokasinya sukses membuat penonton menjerit ketakutan. Ghost Writer ini memang dinilai memiliki scene horor yang mendominasi, tidak berlebihan, dan cukup pas.

Ghost Writer
Foto: Ist

Namun, siapa sangka di balik itu semua, Ghost Writer juga memiliki sisi lucu yang jauh dari kesan basi. Setelah dibuat capek gemetar dan ketakutan, malah diberi lelucon yang membuat ketawa tak kunjung berhenti.

Tawa di atas kepedihan

Di pertengahan film, penonton dibuat lebih tenang setelah capek tertawa dan menahan takut karena sang tokoh utama, Naya yang diperankan oleh Tatjana Saphira sudah mulai memahami pokok permasalahannya. Mengapa sang hantu, yakni Galih (Ge Pamungkas) dan Bening (Asmara Abigail) mulai menakuti Naya dan adiknya, Darto yang diperankan oleh Endy Arfian. Bahkan, Bening terbilang lebih agresif ingin menyakiti keduanya.

Ghost Writer
Foto: Ist

Semua kisah menegangkan itu berawal dari Naya yang menemukan sebuah buku harian usang di loteng rumah kontrakan tempat tinggalnya. Ternyata buku harian itu adalah jawaban bagi Naya mengapa Galih sang pemilik rumah terdahulu meninggal karena gantung diri. Setelah mengetahui sebagian besar alur cerita film ini, para penonton pasti mulai paham bahwa Ghost Writer adalah salah satu film Indonesia yang mengangkat tema mental health issue hingga menyebabkan seseorang memutuskan mengakhiri hidupnya. Ya, film ini nyatanya tak hanya sekadar membuatmu tertawa dan ketakutan saja tapi juga menyentuh hati.

Setiap orang di dunia pasti ingin hidup bahagia, setiap anak dan orangtua juga memiliki tujuan membangun keluarga yang bahagia. Namun Galih, hantu yang memiliki buku harian ini merasa hidupnya penuh penyesalan dan tidak bisa merasakan secuil pun kebahagiaan karena suatu hal. Sama halnya dengan Bening, adiknya. Hantu yang diperankan oleh Asmara Abigail ini menjadi sosok yang pemarah dan menyeramkan karena semasa hidup dan matinya, Bening merasa tak bisa melakukan apa-apa untuk sang kakak yang membutuhkan kehadirannya.

Di salah satu adegan, Bening menjelaskan bagaimana pahitnya kehidupan kedua orangtua mereka setelah kehilangan kedua anak kandungnya. Kesedihan orangtua mereka yang diperankan oleh Slamet Rahardjo Djaro dan Dayu Wijanto memang tidak diperlihatkan secara utuh, tapi muncul di beberapa adegan dengan mimik dan dialog yang membuat penonton turut merasakan kesedihan yang mendalam.

Ghost Writer
Foto: Ist

Film Ghost Writer yang tayang pada 4 Juni 2019 lalu ini benar-benar sayang jika dilewatkan. Selain kita bisa memahami kesedihan orangtua yang kehilangan buah hatinya, kita juga bisa belajar merasakan bagaimana perasaan seseorang yang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Melalui film ini pun kita bisa memetik hikmah, bahwa kita tak bisa menilai rendah dan menyepelekan seseorang yang memutuskan untuk mengakhiri hidup. Pun tak bisa mencibir keluarga yang ditinggalkan.

Pesan moral yang disampaikan begitu kuat oleh film ini adalah jangan pernah menyerah dengan keadaan. Asalkan ada niat, pasti selalu ada jalan yang terbuka. Meski terkadang untuk mencapai apa yang kita inginkan ada yang turut dikorbankan. Ini semua tentang pentingnya melepaskan dan memaafkan. Dan satu lagi, tak peduli apapun, keluarga adalah hal paling penting dalam hidup ini.

Post your comments on Facebook