Indonesia itu kaya akan budaya sampai-sampai orang asing saja datang untuk mempelajarinya. Namun, yang sangat disayangkan ketika generasi muda kita malah tidak mengenal budaya sendiri.
Seni tradisional dari Ujung Berung, Kabupaten Bandung ini hampir tak terkenali lagi. Bahkan di daerah tempatnya ditemukan. Ini dikarenakan semakin banyaknya pendatang di daerah tersebut dan seperti budaya lain yang harus menghadapi persaingan dengan budaya asing.
Gulat Benjang salah satu tradisi yang hampir punah, tergerus zaman. Warisan masa lalu yang pernah menjadi saksi ketika Indonesia masih berjuang melawan penjajahan. Dari sinilah para warga membungkus benjang dengan tradisi agar tidak tercium strategi perlawanan kepada penjajah.

Culture | opinion
Foto : Ist

Benjang adalah olah raga semacam gulat Jepang atau sumo. Teknik yang digunakan bermacam-macam diantaranya nyentok hulu (mengentak), ngabeluit (membelit), engkel (gerakan mengunci ketiak), dan dengkekan (piting). Namun, karena benjang pernah menjadi tradisi yang dilarang maka sekarang banyak batasan dan peraturan yang diberikan. Salah satu aturan yang diberikan yaitu tukang benjang harus membuat pernyataan siap menerima risiko apapun.

Tukang benjang adalah sebutan untuk orang yang melakukan permainan ini. Saat melakukan benjang, pemain tidak diperbolehkan menyikut, menggigit, memegang kaki, menendang lawan, mencekik leher juga memukul lawan. Tukang benjang dinyatakan menang saat berhasil menjatuhkan lawan ke tanah, sedangkan gulat yang lainnya lebih difokuskan untuk mengunci lawan.

Benjang tidak masuk dalam olah raga nasional seperti silat karena ada unsur tradisi yang ada didalamnya. Saat pertandingan berlangsung pemain masuk ke arena pertandingan yang diadakan ditanah lapang. Tukang benjang melepaskan baju dan hanya mengenakan celana saat beradu dalam arena. Ini memiliki arti bahwa pemain benjang bergulat dalam keadaan suci. Pertandingan pun dimulai dengan diiringi musik tradisional khas sunda.
Saat zaman penjajahan, benjang menjadi salah satu media untuk melawan penjajahan Belanda. Oleh karena itu benjang sempat dilarang. Saat orde baru pun tidak boleh dipertontonkan karena dianggap sering menimbulkan kerusuhan. Walaupun begitu benjang tetap dipertontonkan di kalangan terbatas.
Terkadang kita lupa kalau memiliki sebuah budaya yang indah. Padahal orang lain bahkan warga asing begitu mengagumi budaya kita. Jangan sampai anak cucu kita lupa kalau budaya Indonesia itu kaya dan indah.

Post your comments on Facebook