Hari Buruh Nasional atau yang sering disebut dengan May Day dirayakan setiap tanggal 1 Mei. Di beberapa negara, Hari Buruh ditengarai dengan hari libur tahunan. Hari Buruh berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh. Hari Buruh juga sebagai peringatan kemenangan buruh di Haymarket Chicago, AS, yang memangkas jam kerja hanya 8 jam dari semula 20 jam.

Menurut sejarahnya sendiri, lahirnya Hari Buruh Nasional diawali dengan berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 memberikan perubahan drastis di bidang ekonomi-politik di negara Eropa Barat dan Amerika Serikat. Perlawanan dari kalangan kelas pekerja lahir karena adanya pengetatan disiplin, pengintesifan jam kerja, minimnya upah dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik.

Tahun 1806, pekerja Cordwainers melakukan pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan. Selain itu, aksi ini juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja pada era tersebut berkerja selama 19 sampai 20 jam setiap hari. Sejak saat itu, perjuangan menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Culture | Opinion
Foto : Ist

Di Indonesia, Hari Buruh Nasional diwarnai dengan berbagai tuntutan terhadap Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Hal ini sangat bertolak belakang dengan himbauan Menteri Ketenagakerjaan RI, M. Hanif Dhakiri menginginkan peringatan May Day pada 1 Mei 2018 dapat dikemas dengan menarik. Menteri Ketenagakerjaan juga menyarankan, dalam mengekspresikan, menyuarakan, atau menyalurkan aspirasi diisi dengan kegiatan positif dan menyenangkan bagi para serikat pekerja maupun serikat buruh. Aksi ini diharapkan bisa dilakukan dengan karnaval atau pawai keliling dengan rute yang tidak terlalu jauh.

Rute aksi Hari Buruh Nasional 2018 akan dilangsungkan dari monumen patung Arjuna Wijaya di persimpangan Jl. MH Thamrin dan Medan Merdeka menuju Istana Negara. Organisasi buruh yang tergabung dalam Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI) akan melakukan aksi bersama kurang lebih 50 ribu pekerja pada Selasa, 1 Mei 2018.

Culture | opinion
Foto : Ist

KRPI merupakan gabungan Federasi Pekerja Pos dan Logistik Indonesia (FPPLI), Komite Nasional Aparatur Sipil Negara (KNASN), Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Federasi Pekerja Pelabuhan Indonesia (FPPI), Federasi Serikat Buruh Independen (FSBI).

Ketua Umum KRPI, Rieke Diah Pitaloka, mengatakan bahwa dalam aksi tersebut KRPI akan menyampaikan aspirasi yang dirangkum dalam Panca Maklumat Rakyat Pekerja, yang meliputi :

1. Mewujudkan Indonesia sebagai negara berbasis pada riset nasional, yang berorientasi pada kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia.

2. Menuntut realisasi sebagaimana yang menjadi janji Presiden Joko Widodo pada masa Pilpres 2014, yaitu mewujudkan sungguh-sungguh Trilayak Rakyat Pekerja. Janji itu meliputi kerja layak, upah layak dan hidup layak bagi seluruh rakyat pekerja Indonesia.


Culture | opinion
Foto : Ist

3. Mewujudkan terpenuhinya Lima Jaminan Sosial, antara lain : Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Pensiun, Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kematian bagi seluruh rakyat pekerja Indonesia.

4. Memberikan keadilan bagi seluruh pekerja pelayanan publik di pemerintah, yang berstatus sukarelawan, tenaga harian lepas, honorer, kontrak, pegawai tidak tetap dan pegawai tetap non-PNS yang berkerja di seluruh bidang, untuk menjadi pegawai tetap negara.

5. Mandat kepada Presiden Joko Widodo untuk menyelamatkan aset negara. Langkah ini diambil untuk mengembalikan tata kelola BUMN sesuai dengan perintah konstitusi UUD 1945 sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa dan negara.

Post your comments on Facebook