Nuklir merupakan bidang yang diminati oleh seorang ilmuwan perempuan asal Jepang bernama Dr. Katsuko Saruhashi. Sosoknya hadir dalam edisi Google Doodle hari ini, Kamis (22/03/2018) sebagai penghormatan terhadap jasanya dan temuan-temuannya yang sampai saat masih dijadikan tonggak penting pada bidang geokimia.

Meskipun Katsuko telah meninggal dunia pada 29 September 2007 silam dalam usia 87 tahun, namun mesin pencari raksasa, Google masih merayakan ulang tahunnya yang ke 98, yang jatuh pada hari ini.

Culture P rofile
Foto : Ist

Pengaruhnya sangat besar di negara asalnya, Jepang tidak hanya sebagai seorang ilmuwan perempuan di negara tersebut. Namun lebih dari itu, ia adalah pelopor untuk scientist di dunia. Selain itu, Katsuko sangat dihormati di kalangan ilmuwan karena ia termasuk orang yang berjasa merintis bidang geokimia. Hal inilah yang nantinya akan membawa pengaruh besar bagi generasi ilmuwan berikutnya di Jepang terutama di nuklir.

Negara Jepang sendiri telah menjadikan hasil penelitian Katsuko untuk pemeliharaan laut, terutama yang terkait dengan penyebaran zat radioaktif di laut. Seperti yang dilansir dari Wikipedia, bahwa Katsuko yang pertama kali melakukan pengukuran kadar karbon dioksida (CO2) di laut pada tahun 1950. Pada saat itu ukuran CO2 belum diakui sebagai sesuatu yang penting dalam ilmu geokimia. Maka Doktor pada bidang kimia ini harus mengembangkan metode yang ia ciptakan sendiri untuk mengukurnya guna mengetahui secara akurat konsentrasi asam karbonat dalam air berdasarkan suhu, tingkat pH dan klorinitas. Metodologi yang dinamakan “Saruhashi’s Table” ini terbukti sampai sekarang masih sangat berharga bagi ahli kelautan.

Culture | Profile
Foto : Ist

Lantas temuan mengejutkan lainnya dari Katsuko ialah bagaimana zat radio aktif yang ditimbulkan bom menyebar di laut. Kemudian, hasil penelitian tersebut menjadi gerakan untuk membatasi uji coba bom nuklir di laut. Pemerintah Jepang meminta Laboratorium Geokimia yang dipimpinnya untuk menganalisis dan memantau radioaktif air laut dan curah hujan.

Ilmuwan perempuan kelahiran Tokyo pada tanggal 22 Maret 1920 ini, pernah mengenyam pendidikan di Imperial Women’s College of Science (dulu bernama Universitas Toho) pada tahun 1943. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan Meteorological Research Institute milik Central Meteorological Observatory yang sekarang berubah nama menjadi Badan Meteorologi Jepang.

Ia merupakan perempuan pertama yang mendapatkan gelar doktor bidang kimia dari Universitas Tokyo. Dan ia juga perempuan pertama yang mendapatkan penghargaan Miyake Prize untuk geokimia pada tahun 1985. Pada tahun 1958 ia sempat mendirikan Society of Japanese Women Scientist, sebagai wadah bagi kalangan ilmuwan perempuan untuk mengumpulkan, mendiskusikan dan menemukan solusi praktis untuk masalah yang dihadapi oleh ilmuwan perempuan.

Culture | Profile
Foto : Ist

Sebagai peneliti, ia telah mengembangkan teknik untuk melacak perjalanan jatuhnya radioaktif yang melintasi samudera dan menyebabkan pembatasan eksperimen nuklir pada tahun 1963. Penelitian yang dilakukan oleh Katsuko tentang bagaimana dampak buruknya bom nuklir bisa menyebar ke seluruh bagian bumi adalah yang pertama kalinya dilakukan oleh seorang ilmuwan.

Sepanjang 35 tahun karirnya, Katsuko Saruhashi mendapatkan kehormatan menjadi perempuan pertama yang terpilih menjadi anggota Dewan Ilmu Pengetahuan Jepang pada tahun 1980. Pada periode 1970-an sampai 1980-an Katsuko mengalihkan perhatiannya untuk mempelajari hujan asam dan pengaruhnya.

Diakhir hidupnya, Katsuko harus bertarung keras melawan penyakit pneumonia yang menggerogoti tubuhnya. Sehingga kemudian ia meninggal dunia di rumahnya, di Tokyo pada tanggal 29 September 2007.

Post your comments on Facebook