Penyakit-penyakit kronis seperti diabetes, kolesterol dan darah tinggi sekarang ini tidak lagi identik dengan penyakit orang tua. Tidak sedikit dari kalangan muda yang menderita penyakit-penyakit tersebut bahkan sejak umur belasan tahun. Banyak studi yang mengaitkan hal tersebut dengan gaya hidup (begadang, alkohol dan narkoba hingga stres) dan pola makan yang sembarangan (konsumsi junk food atau makanan instan lainnnya). Kesimpulan studi-studi tersebut tidak diragukan lagi kesahihannya, akan tetapi studi terkini menunjukkan fakta ilmiah lain. Seorang profesor bidang obat-obatan dari New York University baru-baru ini mengemukakan bahwa penggunaan antibiotik sejak usia dini dan berlebih merupakan salah satu hal yang berkaitan dengan penyakit ‘gaya hidup’ seperti diabetes, kolesterol, darah tinggi dan bahkan obesitas.

Family | Family Health
Foto: Ist

Martin Blaser MD., dalam presentasinya di University of Minnesota baru-baru ini yang berjudul The Dark Side of Antibiotics, mengungkapkan bahwa kaitan antara penggunaan antibiotik dengan penyakit-penyakit kronis terletak pada microbiome yang dimiliki manusia. Microbiome adalah sekumpulan mikroorganisme yang majemuk (beragam jenis) yang berada di dalam tubuh. Kemajemukan microbiome sangat dibutuhkan tubuh sebagai antibodi alami yang sayangnya, akibat terekspos antibiotik, kemajemukannya berubah atau bahkan berkurang sehingga berpengaruh pada aspek metabolik dan fisiologis seseorang. Martin juga mengemukakan bahwa maka tidaklah aneh apabila generasi yang ‘dimudahkan’ menerima antibiotik kini rentan terkena penyakit ‘gaya hidup’.

Dalam risetnya yang melibatkan sample dari Amerika Serikat hingga Eropa, Martin menaruh perhatian pada penggunaan antibiotik untuk anak (0-3 tahun). Di umur tersebut, microbiome sedang berkembang di bagian pencernaan. Berdasarkan data yang didapatnya dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), rata-rata hingga anak berusia dua tahun telah menerima tiga jenis antibiotik. Di Finlandia, Martin menemukan bahwa anak-anak yang alergi pada susu sapi merupakan mereka yang lebih sering terekspos dengan antibiotik. Di Denmark, hal serupa terjadi pada mereka yang menderita diabetes tipe 2. Di Inggris, hal serupa juga terjadi pada mereka yang berat badannya berlebih (obesitas). Temuan-temuan tersebut menunjukkan kaitan antara konsumsi antibiotik dengan perubahan metabolik dan fisiologis tubuh.

Family | Family Health
Foto: Ist

Sayangnya, perubahan pada microbiome akibat penggunaan antibiotik bersifat genetis dan dapat diturunkan pada generasi selanjutnya. Riset Martin di Finlandia pada anak-anak yang alergi menunjukkan bagaimana ibu mereka ternyata terekspos dengan antibiotik baik sebelum maupun pada masa kehamilan. Alergi dan asma pada balita merupakan dua penyakit yang identik dengan kasus penggunaan antibiotik berlebih.

Walaupun demikian, bagi dunia medis, riset Martin masih memerlukan penelitian yang lebih dalam. Martin sendiri mengakui bahwa data-data yang didapatnya hanya kuat untuk memperlihatkan hubungan antibiotik dengan perubahan metabolik dan belum cukup kuat untuk memperlihatkan hubungan sebab-akibat dengan penyakit-penyakit ‘gaya hidup’ yang disebutkan sebelumnya. Pandangan utama Martin dalam penelitiannya adalah bahwa antibiotik memiliki efek jangka panjang melalui modifikasi microbiota dalam tubuh. Martin sendiri tidak menyangkal fakta bahwa antibiotik dapat dan telah menyelamatkan jutaan nyawa hingga menjadi salah satu temuan revolusioner di dunia medis. Akan tetapi juga akibat keampuhannya, antibiotik memiliki efek samping yang dapat memodifikasi sel tubuh yang berpengaruh pada aspek metabolik dan fisiologis.

Family | Family Health
Foto: Ist

Martin menutup presentasinya dengan menawarkan beberapa rekomendasi. Pertama, hindari penggunaan antibiotik pada industri peternakan dan pertanian karena keduanya menopang makanan pokok manusia. Kedua, kurangi penggunaan antibiotik pada pengobatan medis. Khusus untuk poin kedua, Martin menyertakan fakta tentang Swedia, di mana mereka menggunakan antibiotik 40% lebih sedikit daripada di Amerika Serikat dan penduduknya memiliki taraf kesehatan yang lebih tinggi. Artinya, sangatlah mungkin untuk tidak menggunakan antibiotik dalam setiap jenis penyakit.

Post your comments on Facebook