Sekali lagi Indonesia berduka. Setelah Lombok, NTB diguncang gempa berkekuatan 7 SR pada Agustus lalu, kini giliran wilayah Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah diguncang gempa berkekuatan 7,7 SR pada Jumat (28/9/2018) lalu, disusul dengan tsunami menyapu seluruh daratannya. Gempa bumi yang terjadi tepat pukul 17.02 WIB ini pertama kali diinformasikan oleh akun resmi Twitter Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), @infoBMKG. Akibatnya, ratusan jiwa menjadi korban, ditambah lagi sejumlah bangunan rusak, termasuk di antaranya jembatan Ponulele sebagai ikon Kota Palu.

Culture | opinion
Foto : Ist

Bencana yang terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah itu  merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu Koro yang dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar mengiri atau slike-slip sinistral. Menurut Dr. Sutopo Purwo Nugroho selaku Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Kota Palu sendiri berkembang di atas sesar Palu Koro. Daerah ini merupakan patahan yang membelah Sulawesi menjadi dua bagian, dimulai dari batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga Teluk Bone. Sesar ini dikenal sangat aktif karena memiliki pergerakan yang mencapai 35 sampai 44 milimeter per tahun, patahan dengan pergerakan terbesar kedua di Indonesia, setelah patahan Yapen, di Kepulauan Yapen, Papua Barat yang pergerakannya mencapai 46 milimeter per tahun.

culture | opinion
Foto : Ist

Pergerakan inilah yang akhirnya memicu tsunami dengan ketinggian sampai 5 meter dan menerjang pantai Talise di Kota Palu hingga pantai Barat Donggala. Sarana komunikasi sempat lumpuh, sehingga berdampak pada pendataan dan pelaporan terkait gempa yang tidak dapat dilakukan dengan cepat. Korban meninggal tercatat nyaris 1000 jiwa dan diperkirakan akan terus bertambah, karena proses pencarian dan evakuasi korban masih terus dilakukan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mengungkap, bahwa tsunami yang menyapu Kota Palu dan Donggala merupakan akibat dari duet gempa berkekuatan luar biasa dan longsoran bawah laut. Di teluk Palu, bagian barat Sulawesi Tengah, getaran gempa mengguncang dasar laut dan memengaruhi akumulasi sedimen yang ada, padahal sedimen itu merupakan akumulasi sedimen daratan Sulawesi Tengah yang belum terkonsolidasi kuat. Longsoran sedimen pemicu tsunami tersebut diperkirakan terjadi pada kedalaman 200 – 300 meter.

Tak hanya itu saja, pasca terjadinya gempa, ada pula fenomena lain selain tsunami, yaitu munculnya lumpur mengalir dari bahwa rumah warga yang sempat viral beberapa hari lalu. Menurut Sutopo, fenomena tersebut adalah fenomena likuifaksi yang merupakan perubahan tanah menjadi lumpur seperti cairan dan kehilangan kekuatan. Pendapat serupa juga diungkap oleh ahli geologi dan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Rovicky Dwi Putrohari. Menurutnya, likuifaksi tersebut yang memicu adanya longsoran. Gempa telah menyebabkan kekuatan lapisan tanah menghilang dan tidak bisa menahan beban di atasnya, sehingga longsoran pun terjadi.

culture | opinion
Foto : Ist

Di balik sederet fenomena bencana di Kota Palu dan Donggala ini, banyak juga pihak yang mengaku heran perihal peringatan dini dan penanganan bencana. Mereka bertanya, mengapa tsunami Palu seolah tak terdeteksi, bahkan BMKG sempat mencabut peringatan dini soal tsunami tersebut. Hasanudin Z. Abidin selaku Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG) akhirnya mengungkapkan sejumlah masalah yang sebenarnya dihadapi saat gempa Donggala yang diikuti tsunami Palu itu. Pihaknya menjelaskan, bahwa BIG sebenarnya mengelola satu stasiun pasang surut di dermaga Kota Palu yang memiliki alat pengukur pasang surut untuk mendeteksi tsunami. Stasiun itu didukung dengan daya listrik yang akan meneruskan data pasang surut ke pemangku kepentingan seperti BIG dan juga BMKG secara online. Namun, ketika gempa terjadi seluruh daya listrik dan komunikasi mati total, sehingga tak ada data yang bisa diterima oleh mereka. Meskipun ada baterai cadangan, tapi nyatanya alat tersebut juga tidak berfungsi. Bahkan, Hasan sendiri hingga kini tak tahu bagaimana nasib stasiun pasang surut tersebut, apakah hancur atau masih berdiri. Sebenarnya masih ada satu harapan ketika stasiun pasang surut tak berfungsi yaitu mengerahkan kemampuan dari buoy tsunami yang biasanya dipasang di lepas pantai. Namun sayang, tidak ada buoy tsunami terpasang di Palu.  

Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah telah memberikan kita banyak pelajaran penting soal perlunya infrastruktur peringatan dini gempa dan tsunami. Namun, di balik itu semua semoga tak ada lagi musibah susulan dan seluruh korban bisa segera dievakuasi serta tertangani dengan baik.

Post your comments on Facebook