Sudah menjadi pendapat umum bahwa makanan cepat saji (junk food) cenderung tidak menyehatkan. Jenis-jenis makanannya kebanyakan tinggi kandungan minyak, gula, garam dan lemak. Banyak studi medis dan klinis yang membuktikan bahwa mengonsumsi junk food berlebihan atau dalam jangka panjang berkaitan erat dengan penyakit-penyakit kronis seperti penyakit jantung, hipertensi, kolesterol, kanker dan obesitas. Zat-zat campuran pada junk food seperti penyedap, pengawet dan lainnya merupakan pemicu penyakit-penyakit tersebut. Padahal, zat-zat tersebut hanya bertujuan untuk menambah cita rasa dan aroma makanan.

Berbicara soal rasa dan aroma tentunya sangat berhubungan dengan indera perasa di tubuh. Dengan kata lain, junk food adalah makanan yang sebenarnya memanipulasi indera perasa sehingga setiap orang sangat tertarik untuk mengonsumsinya. Otak, dalam hal ini, sebagai pusat dari seluruh syaraf perasa di tubuh mengalami rangsangan tertentu sehingga seseorang dapat ketagihan junk food. Berikut adalah dua hal yang terjadi pada otak ketika mengonsumsi junk food.

Sensasi Ketagihan

Steven Witherly, seorang ilmuwan makanan dan pengarang buku Why Humans Like Junk Food (2007), mengungkapkan bahwa ketagihan junk food merupakan pengaruh dari beragam sensasi dalam satu kali makan sebagaimana dilansir dari Huffington Post. Setiap seseorang merasakan makanan dan minuman yang enak, lidah akan mengirim sinyal ke otak yang kemudian akan memproduksi hormon dopamin yang tinggi. Hormon tersebut berhubungan dengan rasa bahagia atau mood yang bagus. Dengan kata lain, junk food bertendensi memanipulasi otak dengan mengedepankan rasa dan aroma, terlepas dari unsur kesehatan dari suatu makanan.

Living | Food
Foto: Ist

Selain itu, menurut Steven, junk food cenderung mengutamakan penyajian yang tentunya menjadi sensasi lain dari pengalaman mengonsumsinya. Sebagai contoh, ketika seseorang melihat krim keju bertekstur lembut di atas sepotong pizza atau burger dengan daging tebal dan juicy beserta riasan pelengkapnya, sudah barang tentu hal tersebut memberikan sensasi tersendiri bagi indera-indera di tubuh. Mata akan memberikan sinyal ke otak bahwa makanan tersebut adalah makanan yang lezat dan wajib disantap. Dengan kata lain, junk food memberikan efek ketagihan dengan memberikan pengalaman yang menyenangkan bahkan sebelum makanan tersebut dilahap.

Efek bahagia yang diberikan dopamin akan membuat seseorang ‘mengidam’ atau ingin mengulangi pengalaman menyenangkan tersebut. Semakin sering mengonsumsi junk food, semakin tinggi pula kadar dopamin yang diproduksi di otak. Kadar dopamin yang menumpuk di otak dapat mengganggu fungsi otak itu sendiri. Sederhananya, junk food memberikan efek pleasure dan fun experience.

Miskonsepsi Rasa Lapar

Dalam bukunya, Steven mengungkapkan bahwa junk food umumnya terdiri atas bahan-bahan makanan yang cepat habis atau ‘lenyap’ di mulut, seperti mayonaise dan keju. Lidah sebagai indera pengecap kemudian akan mengirim sinyal ke otak bahwa anda kurang makan atau bahkan sedang tidak makan yang selanjutnya akan memicu pelepasan hormon ghrelin. Hormon tersebut berhubungan dengan rasa kenyang. Dengan kata lain, mengonsumsi junk food akan memberikan sensasi lapar sehingga membuat seseorang makan berlebihan.

Living | Food
Foto: Ist

Selain itu, menurut Steven, otak sebenarnya sangat cenderung memilih keragaman dalam hal makanan. Orang cenderung cepat bosan apabila mengonsumsi makanan yang itu-itu saja setiap harinya. Lain halnya dengan junk food. Jenis makanan tersebut memang sejak awal dirancang untuk menyediakan rasa, aroma beserta sensasi dalam kadarnya yang cukup tinggi agar dapat mengelabui otak. Dalam bukunya, Steven hanya merekomendasikan untuk mengurangi konsumsi junk food dan mulai membuka opsi makanan lain yang lebih beragam dan menyehatkan. Semakin sedikit junk food yang anda konsumsi, maka semakin produktif fungsi otak dalam memilih makanan yang memiliki fungsi sebenarnya, yaitu fungsi kesehatan.

Post your comments on Facebook