Di Indonesia ini siapa yang tidak mengenal Kartini. Keberanian dan pemikirannya yang brilian menjadi senjata menakutkan bagi kaum penjajah kala itu. Di masa itu wanita hanya boleh berkutat di rumah dan dapur. Kodrat mereka hanya mengurus keluarga dan melahirkan anak padahal jauh dibalik itu terkadang wanita memiliki pemikiran yang lebih maju.

Culture | profile
Foto : ist

Wanita di zaman itu wajib menaati ayah, suami dan tak berhak belajar atau melakukan sesuatu di luar kodratnya. Seperti surat Kartini pada sahabat Eropanya, Zeehandelaar pada tanggal 25 Mei 1899 mengatakan,

“Sahabat-sahabat ayah yang berbangsa Eropah – ini saya ketahui lama kemudian – telah dengan susah payah mencoba mempengaruhi orang tuaku agar mengubah keputusannya untuk memingit aku yang begitu muda dan begitu penuh gairah hidup ini.

Tapi orang tuaku tetap teguh dengan keputusannya. Dan aku tetap dalam kurunganku. Empat tahun yang panjang telah kutempuh dalam kungkungan empat tembok yang tebal tanpa sedikit pun melihat dunia luar. Bagaimana aku dapat melaluinya, aku tak tahu lagi. Aku hanya tahu bahwa itu MENGERIKAN.

“Ketahuilah bahwa adat negeri kami melarang keras gadis2 keluar rumah. Ketika saya berusia 12 tahun lalu saya ditahan di rumah; saya mesti masuk tutupan, saya dikurung di dalam rumah seorang diri sunyi senyap terasing dari dunia luar. Saya tiada boleh keluar ke dunia itu lagi bila tiada serta dengan seorang suami, seorang laki-laki yang asing sama sekali bagi kami, dipilih oleh orang tua kami untuk kami, dikawinkan dengan kami, sebenarnya tiada setahu kami.”

Culture | profile
Foto : ist

Akhirnya Kartini menikah dengan seorang adipati dari Rembang. Namun sayang, pada usia 25 tahun perempuan kelahiran Jepara, 21 April 1883 ini harus menghembuskan nafas terakhirnya beberapa hari setelah melahirkan anaknya, Soesalit Djojoadiningrat. Ada beberapa yang berpendapat bahwa kematian wanita hebat ini adalah sebuah muslihat karena ingin membunuh pemikiran-pemikiran hebatnya. Bahkan, Efatino Febriana dalam bukunya “ Kartini Mati Dibunuh” dan Siti Soemandari “Kartini, Sebuah Biografi” menyimpulkan bahwa istri dari Raden Mas Adipati Ario Djojoadiningrat ini meninggal karena permainan jahat Belanda.

Culture | profile
Foto : ist

Semangatnya yang tertuang dalam pemikiran dan tulisan pada sahabat-sahabat Eropanya telah menjadi sebuah bukti perjuangan wanita. Walaupun kini wanita hebat ini telah lama tiada tetapi pemikirannya telah banyak menginspirasi. Selamat Hari Kartini untuk perempuan Indonesia.

Post your comments on Facebook