Islam memberikan penghargaan yang tinggi terhadap pekerjaan, dan buruh yang bekerja serta orang yang mendapatkan penghasilan dengan tenaganya sendiri. Karena dalam perspektif Islam, bekerja merupakan bagian dari ibadah dan kewajiban mulia bagi setiap manusia agar dapat hidup dengan layak dan terhormat. Bahkan kedudukan buruh dalam Islam menempati posisi terbaik.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Dalam sebuah hadist riwayat Bukhari Muslim diceritakan bagaimana Rasulullah menjabat tangan seorang buruh yang bengkak karena bekerja terlalu keras dan beliau mencium tangan buruh tersebut seraya bersabda: ”Inilah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.”

Lantas bagaimana Islam memandang kedudukan buruh?

Islam memiliki sistem sosial yang adil dan bermartabat, dimana salah satu sistemnya ialah mengatur masalah perburuhan yang mencakup hubungan antara pengusaha, buruh dan pengupahan. Islam memandu hubungan antara buruh dan pengusaha dalam dua prinsip dasar yakni prinsip muswah (kesetaraan) dan ‘adlah (keadilan).

Prinsip pertama, kesetaraan/muswah ini menempatkan posisi pengusaha dan buruh pada kedudukan yang sama, dimana keduanya saling membutuhkan. Di satu pihak, buruh membutuhkan upah dan pengusaha membutuhkan tenaga kerja. Maka sudah selayaknya ketika menentukan hak dan kewajiban keduanya didasarkan kepada asas kesetaraan masing-masing termasuk hak ibadah para buruh.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Islam sangat memperhatikan pemenuhan hak-hak terhadap buruh. Dalam sebuah hadist riwayat Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:”Berikanlah upah buruh, sebelum kering keringatnya.” Tapi, bukan berarti Islam hanya memberikan jaminan terhadap hak-hak buruh, namun juga memberikan jaminan hak-hak kepada pengusaha. Karena itulah kesepakatan atau perjanjian kerja dianggap sebagai sumpah yang harus ditunaikan oleh kedua pihak.

Prinsip kedua dalam sistem Islam yakni ‘adlah atau keadilan merupakan konsep yang ideal dalam sistem perburuhan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah : 177, yang artinya: “…dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang yang bertakwa.”

Ayat tersebut menempatkan prinsip keadilan pada penempatan kedua pihak antara buruh dan pengusaha untuk menunaikan perjanjian yang telah disepakati bersama dan memenuhi kewajiban satu sama lainnya.

Konsep kesetaraan dan keadilan semestinya mampu mengantarkan pengusaha dan buruh kepada tujuan yang diharapkan. Tujuan yang diharapkan buruh ialah mendapatkan upah yang memadai dan kesejahteraan. Sedangkan tujuan yang ingin dicapai oleh pengusaha yakni berkembangnya bisnis dan usaha yang dilakoni. Idealnya bila kedua belah pihak sama-sama menjalankan hak dan kewajibannya maka tujuan keduanya akan dapat terwujud.

Culture | Opinion
Foto: Ist

Namun kenyataan yang berlangsung di lapangan, masih menunjukkan hubungan yang tidak seimbang. Sebab pengusaha memiliki posisi tawar (bargaining position) lebih tinggi sehingga sering kali memanfaatkan posisi kaum buruh yang dianggap lemah. Oleh karena itu, konsep kesetaraan dan keadilan yang diusung oleh Islam rasanya perlu dipertimbangkan oleh pihak-pihak terkait dalam rangka membangun hubungan yang lebih harmonis antara kaum pekerja dan pemilik modal melalui Undang-undang yang bermuatan unsur kesetaraan dan keadilan.

Post your comments on Facebook