Prangko dan kegiatan filateli pada zamannya merupakan sebuah hobi yang sangat menjanjikan. Karena semakin tua usia benda pos tersebut maka harganya akan semakin tinggi. PT. Pos Indonesia memberikan dukungan penuh kepada kegiatan Filateli ini, bahkan di setiap kantor pos besar terdapat ruang khusus untuk penggiat filateli.

Culture | Art
Foto : Ist

Wanita.me akan mengulas selintas lalu tentang sejarah filateli dengan tujuan supaya generasi digital yang ‘nyaris’ tidak bersinggungan dengan prangko dapat mengenalinya dengan baik.

Filateli berasal dari bahasa Yunani yaitu philos dan ateleia. Philos berarti teman sedangkan ateleia artinya bebas biaya. Secara keseluruhan filateli berarti membebaskan teman/ penerima surat dari biaya pos. Wujud pembebasan biaya pos itu berbentuk prangko yang dibayarkan oleh si pengirim surat sebagai bukti lunas pembayaran. Dan setelahnya pihak pos akan memberikan cap pos dan tanggal sebagai tanda pelunasan.

Sementara prangko sendiri berasal dari kata franco yang diambil dari nama seorang warga Italia, Franceso de Tassis karena dia dianggap orang yang pertama kali melakukan pengantaran pos di Eropa pada tanggal 18 Januari 1505.

Lalu pada tahun 1864, seorang pengumpul prangko bernama Georgeos Herpin asal Perancis memperkenalkan istilah filateli melalui tulisannya berjudul Bapteme (Baptism) yang dimuat di majalah Perancis “Collectionneur de Timbres-Poste”.

Pada zaman itu, penggunaan prangko berarti si penerima surat tidak dibebankan biaya lagi karena sudah dibayarkan oleh pengirim bersama dengan prangko. Padahal dulunya, konon yang menerima surat yang berkewajiban membayarkan biayanya.

Culture | Art
Foto : Ist

Di Indonesia sekitar tahun 1860-an setelah prangko mulai dikenal luas oleh masyarakat, ditetapkan tanggal 29 Maret di Batavia (sekarang Jakarta). Bersamaan dengan didirikan perkumpulan filateli pertama bernama Vereniging van Postzegelverzamelaar in Nederlands Indie (VPNI). Kegiatannya sama saja dengan umumnya aktivitas perkumpulan filateli ketika masa kemerdekaan Indonesia, yakni tukar-menukar prangko dan segala hal yang berkaitan dengan prangko.

Pasang surut aktivitas pengumpulan prangko ini sempat terjadi mengikuti peristiwa politik di Indonesia, mulai dari masa penjajahan Belanda, masa penjajahan Jepang kemudian pada akhirnya masa kemerdekaan Republik Indonesia. Sejak tahun 1976, kegiatan filateli secara rutin mulai dilaksanakan di Indonesia dalam rangka pameran yang bersifat nasional sampai internasional.

Sejarah dunia dan sejarah Indonesia tercatat dan terekam dalam benda-benda filateli dan ini dianggap sebagai arsip sejarah. Dalam sebuah kesempatan, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon yang juga ternyata seorang filatelis, mengatakan bahwa dari perjalanan sejarah Indonesia bahkan sebelumnya, tercatat dalam benda-benda pos seperti prangko, kartu pos mapun sampul. Sejarah juga terekam dalam benda-benda filateli tersebut bahkan sampai sekarang masih terus dicetak. Lebih lanjut dalam pembukaan Pameran Filateli dan Penandatanganan Sampul Pameran Filateli yang bertajuk “Politik dalam Prangko” di Gedung Nusantara II, Senayan Jakarta pada tanggal 18 Agustus 2016 silam, menambahkan bahwa kegiatan filateli perlu dilestarikan.

Seperti yang kita ketahui, dimana perkembangan teknologi membawa pengaruh sangat besar terhadap perkembangan dan keberlangsungan filateli. Karena cara orang berkomunikasi jarak jauh sudah digantikan dengan email yang notabene-nya produk teknologi digital. Sehingga bisa disaksikan, generasi digital ‘nyaris’ tidak bersinggungan dengan surat sebagai sarana komunikasi jarak jauh.

Namun, justru menurut data dari ketua umum PFI (Perkumpulan Filateli Indonesia), Suyono, belakangan muncul filatelis-filatelis muda. Hal ini merupakan jawaban dari kegelisahan, bahwa prangko dan benda-benda pos lainnya memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi.

Culture | Art
Foto : Ist

Seiring dengan meledaknya film remaja yang mencapai enam juta penonton, Dilan 1990, beberapa waktu lalu memberikan inspirasi kepada PT. Pos Indonesia untuk turut mengapresiasi dunia kekinian dengan meluncurkan prangko “Dilan”. Prangko Dilan ini sendiri sudah diluncurkan pada tanggal 6 Maret 2018, lalu di Gedung Graha Pos Indonesia.

Semoga di Hari Filateli tahun ini, semakin membuat semangat kaum muda yang hidup di zaman digital semakin mencintai benda-benda pos yang turut merekam jejak sejarah bangsa kita.

Post your comments on Facebook