Satu-satunya wanita yang bertugas sebagai teknisi pesawat tempur Sukhoi 27/30 buatan Rusia itu bernama Sertu Lusiyani Purwaningsih. Ia bertugas di Skuadron Udara 11 Lanud Sultan Hasanuddin, Makasar, Sulawesi Selatan. Wanita berambut pendek tersebut telah bertugas sejak tahun 2008. Ia menjadi satu-satunya srikandi diantara 144 pria yang menjadi teknisi di Skuadron tempur.

Awal karirnya kini, bermula ketika sang ayah kerap mengajak Lusiyani ke kantornya di bandar udara Abdul Rahman Saleh, Malang untuk menyaksikan atraksi para anggota TNI AU di udara. Lusiyani kecil terkesima dengan semua atraksi tersebut, dan bercita-cita ingin menjadi bagian dari TNI AU.

culture | opinion
Foto : Ist

Singkat cerita, selepas SMU pada tahun 2006 ia memutuskan mendaftarkan diri sebagai WARA. Tetapi rupanya nasib baik belum berpihak padanya. Ia terganjal untuk lolos karena tengah menderita penyakit amandel. Saat itulah ia diam-diam mengirimkan lamaran pekerjaan sebagai SPG di kota Apel itu. Ia tidak ingin membuang waktu untuk menunggu periode pendaftaran  menjadi anggota WARA di tahun berikutnya. Makanya ia mengambil kesempatan waktu untuk bekerja sebagai SPG di sebuah Departement Store Malang.

Berkat doa orang tua dan tekad yang masih tersimpan dalam hati Lusiyani untuk mewujudkan cita-citanya, akhirnya pada periode berikutnya ia berhasil lolos tes sampai tingkat pusat untuk menjadi bagian dari anggota WARA. Tentunya penyakit amandel yang ia derita jauh-jauh hari sebelumnya telah dioperasi.

Setelah menjalani pendidikan selama 5 bulan, wanita yang menghabiskan masa kecilnya di Malang ini ditempatkan di bidang PDE (Pengelolaan Data Elektronik). Di bagian ini ia bekerja bersama 5 orang rekannya yang lain di Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin.

Culture | opinion
Foto : Ist

Setelah sekitar 1 tahun bekerja di PDE, ia menunjukkan prestasi yang patut diacungi jempol sembari mempelajari bagian pesawat dengan detail. Akhirnya ia di tarik untuk ke lapangan sebagai teknisi pesawat tempur Sukhoi, pada tahun 2008.

Penarikan dirinya ke bagian teknisi pesawat tempur Sukhoi membuat wanita kelahiran 8 Agustus 1998 ini mengaku sangat bahagia. Bahwa cita-cita masa kecilnya mampu diraihnya dengan sangat baik walaupun sempat diselingi menjadi seorang SPG.

Sebagai teknisi pesawat tempur Sukhoi, otomatis Lusiyani harus ikut terbang bersama pesawat tersebut. Karena keakurasian merupakan keharusan yang mesti dipenuhi. Oleh sebab itu tidak heran bila para teknisi bekerja secara berlapis hingga sampai 7 orang untuk melakukan cek dan ricek. Semuanya dilakukan dengan detail, teliti dan harus ekstra hati-hati.

Kini wanita yang telah bertugas selama 4 tahun itu tetap teguh memegang prinsipnya. Menurutnya, walaupun kesempatan para wanita terbuka lebar untuk berkarir di bidang yang mayoritas di kuasai pria, namun sebagai wanita harus selalu sadar pada kodratnya yaitu sebagai seorang ibu yang kelak akan mengasuh anak serta sebagai  seorang isteri yang berbakti kepada suami.

Post your comments on Facebook